Pekat. Gelap. Malam terasa mencekik Ratna saat ia terbangun, napasnya tersengal. Jantungnya bergemuruh. Bukan mimpi buruk yang membangunkannya, melainkan suara bisikan samar dari sudut ruangan. Bisikan-bisikan seperti rentetan doa atau mantra, atau gumaman ribuan jiwa yang bergentayangan. Matanya mencari-cari, berharap itu hanya angin atau pikirannya saja.
Pandangannya jatuh pada sosok Galih. Anaknya. Putranya sedang duduk bersila di samping ranjangnya sendiri, tatapannya kosong ke arah dinding. Tubuh kecilnya terlihat sangat tegang. Seolah-olah… ia sedang bicara dengan seseorang.
“Sst… jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya, nanti Ayah tahu,” bisik Galih, suaranya parau. Ia sesekali tersenyum tipis, seolah ia mendengarkan dengan penuh saksama.
Ratna langsung duduk tegak, rambutnya sedikit berantakan. Bulu kuduknya meremang. Bisikan itu bukan lagi angin. Itu berasal dari dalam kamar. Bahkan lebih menyeramkan, itu adalah Galih. Sedang berdialog dengan entitas yang tak kasat mata. Ini lebih dari sekadar anak kecil berimajinasi.
“Galih… kamu bicara sama siapa, Nak?” bisik Ratna, mencoba menjaga suaranya tetap rendah agar tidak membangunkan Awan di sisi ranjang lainnya.
Galih sontak menoleh, matanya melebar, menunjukkan keterkejutan. Wajahnya pias di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela yang retak-retak. Ia menutup mulut dengan tangan kecilnya.
“Dia… Dia marah, Ma. Dia nggak suka Mama tahu,” bisik Galih, bibirnya bergetar ketakutan, sambil menunjuk-nunjuk ke arah cermin berukir di sudut kamar.
Ratna menatap cermin itu. Hanya pantulan remang-remang kamarnya, “Siapa, Nak? Nggak ada siapa-siapa di sini. Jangan takut,” Ratna bangkit dari ranjang, merangkak perlahan mendekati putranya, mencoba memeluknya.
“Jangan peluk! Dia enggak suka kalau Mama pegang Galih,” Galih mendorong Ratna dengan pelan, tatapannya tetap terpaku pada cermin itu, “Dia… Dia ingin bicara sama Ayah,”
Mata Ratna menyusuri sosok Awan yang kini terlelap. Awan tampak gelisah, sesekali meracau. Kemejanya kotor, dan tercium aroma aneh yang menusuk, campuran tanah basah, alkohol yang sudah agak pudar, dan… melati busuk.
“Ayah… Dia suruh Ayah ke bawah. Cari ‘teman lama’nya,” bisik Galih, suaranya seperti bisikan orang lain. Bukan suaranya sendiri, "Katanya biar Ayah tahu, 'dia' lagi sendirian juga di bawah. Butuh ditemani,"
Jantung Ratna berdebar lebih kencang. Ia teringat percakapan Awan dengan ‘teman-temannya’ semalam, di ruang arsip. Ia bahkan teringat Pak Broto dan candaannya. Bukan candaan. Bukan candaan. Sebuah peringatan. Ia menggenggam erat tangan Galih.
“Jangan didengerin, Sayang,” bisik Ratna. Ia menarik Galih ke pelukannya, mencoba mendekatkan putranya kepadanya. Mencoba mengusir hawa dingin itu dari dalam hati anaknya. Ia tahu ada ‘sesuatu’ yang mendekati Awan. ‘Sesuatu’ yang mengacaukan suaminya. Mengacaukan keluarganya. Ia tahu, Awan telah berubah. Pondok itu telah membuatnya tergila-gila.
Galih membenamkan wajah di leher Ratna, tangannya mencengkeram erat, “Ayah… dia sudah janji. Jangan diapa-apakan…”
*
Pagi menyingsing, kabut masih menyelimuti pondok. Setelah tidur yang tidak nyaman, Ratna dan Galih turun ke ruang makan dengan lingkaran hitam di bawah mata. Awan sudah di sana, tampak… jauh lebih energik dari biasanya, atau setidaknya ia memaksakan dirinya. Rambutnya disisir rapi. Dia tampak mandi pagi. Tapi sorot matanya yang liar mengisyaratkan malam yang berat.
“Mana sarapannya, Ratna?” tanya Awan, nadanya riang, terlalu riang untuk pagi yang kelam ini. Ia sedang menata beberapa buku dan kertas di sudut meja, tempat ia akan ‘mulai bekerja’.
Ratna mengernyitkan kening. “Masak sendiri, sana. Aku lagi pusing,” ia langsung memanggil Galih untuk duduk di sampingnya, kemudian meletakkan sepotong roti tawar dan kopi untuk Awan. Itu memang jatah Awan. Sisanya untuk dirinya dan anaknya.