"Yang lebih segar, ya?" Awan mendengus, berpaling dari kelebatan bayangan yang baru saja menusuk akal sehatnya. Bulu kuduknya merinding, dingin menjalari sekujur tubuh. Bukan hanya hawa malam yang memeluk, melainkan sentuhan entitas yang baru saja menawarkan kesegaran itu. Hujan kembali membasahi bumi, rintik-rintik lembut yang berubah menjadi tetesan besar yang memekakkan telinga.
"Wan? Kamu kenapa, sih?" Suara Ratna terdengar lirih dari ambang pintu kamar tidur, kantuk menyeruak dalam nada bicaranya. Matanya memerah, tampak kelelahan, "Tidak bisa tidur lagi? Aku dan Galih juga dari tadi sudah coba memejamkan mata, tapi kamu malah... malah kesini!"
Awan terdiam. Suasana hati Ratna sangat buruk akhir-akhir ini. Mungkin benar Ratna telah menjadi 'pembangkang' sejak ia mencuri-curi kerisnya tadi malam.
"Pergilah! Biarkan aku sendiri," sahut Awan dingin, tak sedikit pun menoleh. Ia muak dilarang. Muak dengan suara yang menghakimi.
"Ini malam hari, Wan! Di pondok sebegini luas. Nggak bisa kamu menyuruhku pergi," Ratna maju selangkah, kini lebih dekat, mengabaikan tatapan mata Awan yang terasa asing, tatapan mata yang sudah kehilangan kehangatan, hanya menampilkan kehampaan. Aroma alkohol yang entah dari mana, tercium samar.
"Lalu kamu mau apa?!" Awan membentak, kali ini menoleh, menatap istrinya tajam, "Kenapa mengikutiku seperti bayangan? Mau mengusikku lagi? Dulu kan kamu janji. Janji padaku. Kalau kau tidak lagi mengangguku jika aku berusaha untuk menulis, untuk melupakan. Mengapa semua kata-katamu bohong?! Bohong semuanya! Aku cuma ingin ketenangan, Ratna! Aku cuma ingin sendirian. Kau mengerti?! Sendirian!"
Ratna terdiam, bibirnya bergetar, pandangannya menciut ketakutan. Ada keraguan dalam setiap sentuhan dingin itu. Wajah Awan begitu lain. Jauh dari sosok suaminya. Galih di belakangnya memegangi ujung daster ibunya, tersembunyi rapat, tatapan matanya begitu kosong dan menakutkan, persis seperti mata mayat hidup yang mengambang. Dia sendiri mencium bau alkohol itu dari dalam hidungnya.
"Baunya sudah kuat lagi, Ayah..." lirih Galih, membuat Awan terkesiap. Namun Awan cepat menguasai dirinya.
"Bau apa, Nak? Bau kotoran tikus? Atau bau basah dari bajumu yang bau itu?! Pergilah! Jangan menggangguku! Sana! Kembali tidur bersama Mamamu!" Awan membentak. Dia memalingkan muka, bergegas berjalan, meninggalkan Ratna dan Galih yang terpaku di lorong. Hatinya perih melihat Awan yang semakin 'jauh'.
Ia menyusuri lorong yang remang, hanya ditemani kilatan petir dari luar yang sesekali menerangi ruangan, mengubah bayangan menjadi monster raksasa yang hidup dan menatapnya. Pondok itu terasa membisu, memanjakan langkah kakinya yang berat dengan gema yang serasi.
"Hah, akhirnya. Aku bisa sendiri!" Ia bergumam. Entah pada siapa ia berbicara, "Sekarang, aku ingin inspirasi. Ketenangan. Tanpa ocehan orang,"
"Tentu saja, Wan," suara seorang wanita dari bayangan di belakangnya, mengelus rambutnya. Awan tak terkejut, ia menyukainya. Suara ini lebih dari sekadar sentuhan halus itu, ini kelegaan yang datang menghampirinya, "Mereka cuma iri padamu. Mereka tidak tahu apa-apa tentang apa yang kau alami, 'kan?"
"Kau benar!" Awan mengangguk pelan. Langkahnya kini membawanya ke arah pantry lama, yang kemarin ia sempat temukan botol arak brem. Harapannya kini terbit.
"Dia sendiri ingin menipumu. Jangan kau percaya, Wan!" bisik suara wanita itu, "Dia ingin melihatmu jatuh. Padahal, dulu kan dia yang mengajakmu kesini. Iya, dia yang membuatmu menderita! Lalu, Ratna, juga tidak ada bedanya, hanya menambah beban! Betapa menyedihkan sekali! Padahal dulu kau pernah punya ambisi yang tak terbendung!"
"Iya! Kau benar!" Awan menyahut, membuka pintu pantry tua itu, aroma arak brem dan kayu lapuk yang bercampur lumut langsung menusuk indra penciumannya. Mata Awan membulat. Aroma itu… dulu ia benci, tapi sekarang, di sini, ia terasa seperti pelukan hangat. Menenangkan dirinya.
"Bagaimana, Wan? Aroma ini kan yang kau rindu-rindukan?" suara itu kembali, seorang pria paruh baya, sosok Pak Warto. Dia bersandar di rak berisi botol-botol usang, mengenakan pakaian koki putih lusuh dan mata yang cekung, yang kemarin sempat Galih bicarakan. Aroma pandannya masih ada, menyertai senyum yang ia sajikan untuk Awan.
"P-pak Warto?" Awan tergagap. Suara dari Pak Warto kini semakin kental dan nyata. Pria itu menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.