K O L A K A

Dwi Septina
Chapter #9

Hening Terkoyak

Mbah Darso duduk bersila, matanya terpejam, napasnya berirama tenang di gubug sederhananya. Bau dupa cendana memenuhi ruangan, melarutkan aroma tanah basah dan daun kering di luar. Hening, begitu hening, seolah dunia di luar tidak ada.


Namun, ketenangan itu mendadak robek. Dupa di sampingnya berkedip liar, apinya menari-nari tak beraturan, lalu padam, mengepulkan asap hitam tebal. Mbah Darso tersentak, kelopak matanya bergetar. Aura dingin merayap naik dari punggung, menjalar hingga ke ubun-ubun.


"Heh, ada apa ini?" gumamnya, suaranya parau, serak seperti kerikil yang bergesekan. Ia menggosok pelipisnya, merasakan pening yang menusuk. Bukan pening biasa. Ini pening yang membawa gambaran. Gambar-gambar mengerikan yang memaksa dirinya melihat, menembus kabut, melesat menuju perbukitan Kediri.


Sebuah pondok megah. Aroma melati busuk dan darah menguar. Pesta dansa yang tak nyata, tawa-tawa palsu, riuh menyeringai di sudut-sudut lorong yang gelap. Kemudian, wajah Awan. Awan Rakabumi, yang dikenalnya lewat ‘aura’ dari foto pemberian Pak Broto, kini terdistorsi, dipenuhi amarah, mata berkilat kegilaan, tangan mengacungkan sesuatu yang berkilat.


"Awan… anak muda yang mudah rapuh," desis Mbah Darso, suaranya mengering. Ia melihat Galih, anak itu, sinarnya redup, terdesak, menangis dalam pelukan ibunya yang tampak putus asa. Sosok-sosok tak kasat mata mengepung, mengipasi api amarah Awan, mendorongnya ke jurang terdalam. Nyonya van der Valk, dengan seringai di wajah pucatnya, melambai-lambai di sudut kamar, menggoda Galih.


“Sialan kau, Kaloka,” Mbah Darso menggeram, kedua tangannya mengepal erat di atas lututnya yang keriput, "Memang tidak pernah kau biarkan damai. Kenapa anak sekecil Galih yang harus kau goda, dasar bangsat keparat!"


Lalu ia melihat air yang menggelap, merah pekat, di sudut dapur, kuali besar bergejolak. Hujan yang turun tiada henti di perbukitan Kaloka. Jalanan tertutup. Dia melihat keheningan yang menyesakkan.


"Lho, lho, ini toh kerjaanmu yang baru, Nona van der Valk?" Mbah Darso mendecih, membuka mata. Menatap kosong pada asap sisa dupa yang masih mengepul, "Dasar wanita tua rewel, kalau sudah mati kok masih saja berlagak seolah dia hidup paling lama!"


Angin mendesau kencang di luar gubug, seolah menanggapi ejekannya. Ranting-ranting kering berderak di atap, lalu pecah. Sebuah balasan dari Nyonya van der Valk.


"Ya, ya, saya mengerti, Nyonya! Tak usah kau berdrama begitu!" seru Mbah Darso, kesal, sambil berusaha membenarkan genting yang retak-retak. Ia sudah tua untuk ini. Benar-benar terlalu tua.


"Astaga, apa tidak ada orang lain saja di dunia ini yang mau menanggung karma Kaloka itu? Kok ya harus Awan? Anak muda yang masih gampang percaya ini, Mbah Darso... kamu tahu persis tabiat Kaloka itu bagaimana. Begitu menjanjikan, begitu kejam di baliknya,"


"Kau itu memang tukang meremehkan, Nini. Biarkan saja dia cari uang disana. Aku sudah mengasihinya semua mantra agar ia tidak tergoda. Kenapa jadi begini sih?" bisik Mbah Darso kepada angin, seolah berdialog dengan arwah yang tak kasat mata, entah 'Nini' siapa. Mungkin sesosok entitas pembantu. Atau memang kebiasaan dirinya jika sedang sendiri. Ataukah itu Nyonya van der Valk yang kesal, ikut-ikutan berkomunikasi.


Lihat selengkapnya