K O L A K A

Dwi Septina
Chapter #10

Frustasi di Tengah Hujan

Hujan deras tiada henti membelah kesunyian Kaloka, suara rintikannya berbaur dengan gemuruh petir di kejauhan, menambah dingin dan gelap suasana. Di dalam pondok, suasana hati Awan Rakabumi jauh lebih suram daripada cuaca di luar. Ia membolak-balik kertas di meja kerjanya yang baru, sebuah meja mahoni antik di sudut ruang makan, kini diselimuti jejak abu rokok dan coretan tinta yang frustasi.


“Awan, ini sudah malam. Kenapa tidak tidur saja? Kasihan Galih dari tadi menunggumu di kamar,” Ratna menghampiri, memegang secangkir kopi hitam yang mengepulkan asap. Bau harumnya kontras dengan aroma amarah yang kini memenuhi udara di sekitar Awan. Matanya yang merah menatap jengah. Ia bisa melihat Galih yang sudah nyenyak di pangkuannya, meringkuk. Ia ingin menyadarkannya, ingin menariknya keluar dari pikiran kalut ini.


Awan mendongak, matanya merah menyala. Sebuah gumpalan asap rokok keluar dari mulutnya, menciptakan kabut tipis di antara mereka, "Menunggu apa? Kau pikir aku sedang bermain-main, Ratna? Aku sedang bekerja! Kenapa sih selalu saja dihakimi?! Memangnya aku ini pembantu?! Hanya karena kamu mau aku berubah, kamu jadi bebas ngomong semaunya?"


“Siapa yang bilang begitu?!” Ratna meletakkan cangkir itu agak keras di meja, membuat Awan tersentak. Ia menggendong Galih di lengannya, “Aku cuma bilang, lihat Galih! Dia sejak kemarin bicara sendiri. Senyum-senyum ke dinding. Bicara sama ‘teman’nya yang enggak ada! Kamu kan tahu dia punya kemampuan, Awan!”


“Kemampuan apaan? Ngaco!” Awan membanting pulpennya ke meja, bunyi ‘plak!’ nyaring mengiris telinga, “Itu cuma khayalan anak-anak! Makanya jangan kebanyakan nonton TV! Mana ada yang seperti itu, Ratna! Sudah berapa kali kubilang, dia itu stres. Kita itu stres! Karena kamu ini, yang cuma bisa mengeluh melulu! Menyalahkan aku saja dari kemarin! Iya kan?!”


Suara Awan meninggi, menusuk tajam ke telinga Ratna dan bahkan Galih yang setengah tertidur di pelukannya. Bahu Galih bergetar.


“Aku cuma kasih tahu apa yang terjadi!” Ratna balas membentak, berusaha tidak menangis. Wajah Galih di bahunya terasa begitu basah oleh air mata, namun mata bocah itu tetap terpejam. Ratna tahu putranya menangis diam-diam.


“Apa?!” Awan tertawa sinis, melempar sisa rokoknya ke asbak penuh, “Kamu pikir itu semua salahku? Kau selalu begitu! Dari dulu! Selalu menuduh! Selalu merasa paling benar! Kau kira aku suka begini?! Kau kira aku senang menjadi bahan cemoohan teman-teman?! Karena ulahmu itu! Dulupun, kalau kau tidak selalu membatasi dan melarangku, aku tidak akan menjadi seperti ini! Aku bisa bahagia!”


Ratna mengepalkan tangan, menahan diri. Emosi suaminya sudah di ujung tanduk, “Awan, sadarlah! Itu bukan salahku! Itu karena… karena kau tidak bisa mengendalikan diri sendiri! Sekarang, lihat pondok ini! Ini yang memengaruhi kamu! Ini yang merusakmu lagi!”


Awan membanting mejanya hingga berderit, "Bukan salahku! Bodoh! Ini bukan salahku! Mereka yang menuduh! Mereka yang menginginkannya! Aku harus menulis! Untuk pondok ini!" Mata Awan liar, menatap dinding kosong seolah ada keramaian yang mengadilinya, "Mereka semua yang membuat aku begini!"


“Mereka siapa?! Enggak ada siapa-siapa disini, Awan! Kamu lihat siapa?!” Ratna mendekat, suaranya mengandung nada putus asa. Tangannya gemetar ingin meraih pipi Awan, tapi ia menahannya. Rasa takut memancar dari mata Awan yang tidak lagi ia kenal.


“Tentu saja mereka disini! Disini! Mereka menginginkanmu pergi!” Awan bangkit, mendekati Ratna dengan langkah yang gemetar. Senyuman tipis, penuh amarah, tersungging di wajahnya, “Termasuk anak manjamu ini! Lihat! Bahkan diakan masih bermain sama teman khayalannya! Katanya tadi dia barusan bicara dengan si 'Bocah Penghuni' yang baru di dalam dinding! Benar kan, Nak?” Awan memiringkan kepalanya, menatap Galih. Ia tahu persis bocah ini mengamati. Diam-diam mencuri dengar pembicaraannya. Bahkan bocah itu bicara sendiri di lorong dan menunjuk dinding kosong seolah ada sesuatu yang 'terkunci' disana.


Galih, yang pura-pura tidur, tersentak. Matanya perlahan terbuka, tatapannya kosong, merah karena menahan tangis, "D-dia… cuma bertanya kenapa Ayah marah-marah," bisiknya, suaranya sangat kecil, menatap tepat di mata Awan.

Lihat selengkapnya