K O L A K A

Dwi Septina
Chapter #11

Bab 11: Dahaga Kepastian

Awan membanting tinjunya ke pintu yang terkunci, suaranya parau, dan setiap teriakan yang keluar terasa merobek pita suaranya. Amarah yang meledak itu masih menggelora, namun perlahan digantikan rasa haus yang membakar tenggorokan. Bukan haus biasa, tapi dahaga yang jauh lebih dalam, yang meronta untuk kepastian, untuk sebuah pembenaran. Tubuhnya bergetar. Keringat dingin mengalir di pelipis.

“Kau tidak bisa mengunciku, Ratna! Pondok ini tidak akan pernah mengizinkan! Mereka!” Ia berbalik, menatap kosong pada bayangan yang kini merayap di lorong. “Mereka! Mereka sudah memberiku mandat! Haus! Haus sekali aku!”

Awan terhuyung, menjauhi pintu yang terkunci itu, melangkah limbung ke arah ruang makan. Lampu gantung tua di tengah ruangan yang sedari tadi remang, mendadak terasa berkedip lebih terang. Cahaya kuning remang membanjiri dinding-dinding usang, membuat ukiran kolonial yang penuh lumut tampak seperti bernapas.

“Akhirnya, datang juga kau, Tuan Rumah Baru kami!” Sebuah suara serak, berat, dan dipenuhi euforia tiba-tiba memecah kesunyian, mengalir dari sudut gelap ruangan. Dari balik meja makan panjang, Juragan Danang muncul, berpakaian beskap batik kuno, mengisap cerutu, dengan matanya yang sipit dan ekspresinya yang penuh cemooh. Ia tersenyum tipis, merapikan dasi panjangnya yang terurai.

Awan terkesiap, melangkah mundur, bingung. Pria itu tampak nyata. Jauh lebih nyata dari bisikan yang selama ini hanya memenuhi telinganya. Kini ia berwujud.

“Waktu yang tepat, Mas Awan,” Juragan Danang menepuk bahu seorang wanita tua berambut gimbal yang kini sedang tertawa garing di sampingnya. “Kamilah yang mencarimu! Kami rindu dengan pertunjukanmu!”

Kini bukan mimpi lagi! Mereka nyata. Ya, mereka benar-benar nyata di sini, dan ini lebih dari sekadar pesta dansa gila-gilaan yang Awan temukan di buku arsip tua kemarin. Lebih!

“Pergi … siapa kalian semua?” Awan berbisik, matanya liar memindai setiap wajah di sekeliling. Seluruh ruangan, yang tadi terasa kosong, kini dipenuhi orang. Sebagian besar orang Belanda. Nyonya van der Valk, dengan kebaya beludru hitam yang berhiaskan bros permata mencolok di dada, tampak begitu anggun namun memancarkan aura dingin yang menguar dari bibir merah tipisnya.

Di belakangnya, ada budak-budak dengan pakaian inlander zaman dulu. Mengangkuti makanan. Kopi dan cerutu. Semuanya bergerak dengan luwes, menatap Awan penuh selidik, tapi dengan senyum tipis, menyambut kedatangan sang 'tamu'.

“Cih, pertanyaan standar anak muda. Jelas kami teman-temanmu, Mas Awan!” Seorang wanita berambut ikal dengan dress brokat putih menjuntai ke lantai mendekat, menepuk pipi Awan yang pucat. Aroma melati menusuk. “Tidurlah, berdansa dengan kami, dan minum! Rayakan kemenanganmu!”

Suara itu. Ini adalah suara yang sama yang membisikinya tadi malam. Suara dari kamar itu.

Lihat selengkapnya