“Ini … aku harus segera menuntaskan ceritaku. Pondok ini memang menginginkan tumbal, kan?”
Awan menatap botol arak brem itu, yang kini berkilau seperti kristal mahal di atas meja. Bibirnya berbau arak, bercampur aroma melati busuk, dan sesuatu yang … amis.
Hah. Tumor … Tumbal. Tumbuh? Tuntas!
Angin mendesau pelan di sekeliling, menciptakan bisikan yang terlalu akrab, begitu menyetujui, menyusup dari sela-sela jendela.
“Tentu saja, Tuan Awan! Kami … menginginkan yang terbaik untuk Anda!” Suara itu muncul lagi, kini lebih kental, di belakangnya. Pak Warto.
Awan tak berbalik, bahkan tak berani. Ia merasakan aura sejuk di pundaknya, kehangatan yang mengalirkan energi gila itu. Senyumnya kini menjadi semakin lebar.
“Kamu …” Awan berbisik, menoleh sedikit ke arah botol arak yang sama persis seperti tadi malam di pantry. Tapi kali ini, ia tak meragu.
Pak Warto, dengan seragam kokinya yang putih bersih dan mata yang menyeringai licik, menampakkan diri. Aroma pandan dan gosong kayu bakar menyertai kedatangannya. “Saya, Tuan Awan. Sahabat sejati. Yang selalu ada untuk orang-orang berbakat seperti Anda. Orang-orang bodoh di luar sana tidak akan mengerti, kan?”
“Bodoh,” Awan terkekeh, menggelengkan kepalanya perlahan. Botol arak itu kini sudah ia pegang erat, terasa begitu dingin, dinginnya seperti es yang menenangkan dirinya.
“Istri Anda, Tuan. Atau putramu itu? Yang punya kemampuan ‘weruh sakdurunge winarah’? Bukankah dia selalu saja … mengganggu ketenangan Anda?” Pak Warto mendekat, mengamati botol arak itu dengan tatapan puas. "Kau terlihat damai sekarang, Tuan. Ini baru pertama, kan?"
“Memang mengganggu! Anak itu berteriak-teriak! Menyalahkan! Seperti orang tuanya!” Awan mengepalkan tangan, amarah memuncak kembali di dadanya. Tapi kali ini, ada penenang. Ia meneguk sedikit isi botol itu.
Hangat. Rasa itu kini membakar di kerongkongannya, mengalir deras ke seluruh tubuhnya, menumpulkan semua amarah, melenyapkan beban.
“Rasanya … ini salah,” Awan bergumam, nada bicaranya berubah menjadi lirih, terpengaruh cairan manis yang mengikatnya.