Keesokan harinya, matahari terbit tak mampu menghangatkan Pondok Kaloka. Udara masih lembap dan menusuk. Ratna, dengan mata sembap dan tubuh lelah, baru saja memaksa dirinya membuat sarapan. Awan, yang katanya 'siap memimpin', malah hilang sejak semalam, ditelan lorong gelap dan bisikan Pak Warto. Meninggalkan Galih, yang sedari tadi meringkuk di sudut, matanya memantau setiap bayangan.
“Mama ke dapur sebentar, Sayang. Kamu di sini aja, jangan jauh-jauh ya,” ucap Ratna, mencoba terdengar tenang, meskipun jantungnya masih berdebar kencang sejak ia mendengar teriakan gila Awan di malam sebelumnya. Bau arak yang menusuk dari kamar masih melekat.
Galih mengangguk pelan. Setelah Ratna berlalu, ia perlahan bangkit, pandangannya tertarik pada kerai bambu yang bergoyang di dekat jendela. Ada bisikan samar memanggil namanya, suara tawa anak kecil, persis seperti yang sering didengarnya.
Ia menyingkap kerai itu. Hujan memang sudah reda, menyisakan jejak basah dan dingin di mana-mana. Di halaman belakang pondok, tak jauh dari pandangannya, berdiri beberapa patung penjaga Jawa yang dulu disebutkan Pak Sopir. Retak-retak, menyeramkan, ditutupi lumut tebal, tapi entah mengapa, kali ini terasa seperti mengundangnya. Salah satu patung berbentuk jangkung dengan ukiran rumit di dada, kini seolah-olah menyeringai kepadanya.
“Galih …” Suara lembut itu kembali, begitu dekat, seolah di samping telinganya. Ada hawa dingin menusuk. Anak itu melihat sekelebat bayangan kecil melintas di sekitar patung, bermain petak umpet.
Penasaran. Lebih kuat dari rasa takutnya, kali ini. Perlahan, Galih melangkah keluar, menerjang genangan air dan lumpur di halaman belakang, mendekati patung itu. Ia menyentuh permukaannya yang dingin dan licin. Lumut tebal, keropos di beberapa bagian. Kelihatan rapuh, tapi tingginya bisa seukuran dua kali tinggi badan Galih.
“Sini! Kita main yuk!” bisik suara yang sama, kini lebih jelas, diikuti tawa renyah dari balik patung. Galih menduga itu suara anak laki-laki. Prajitno? Ia menoleh ke belakang patung. Tidak ada. Cuma semak belukar dan dedaunan yang basah kuyup.
“Hei! Kamu dimana?” seru Galih, tanpa sadar mengikuti pergerakan ilusi itu.
Sosok Prajitno tidak terlihat. Hanya sebuah perasaan. Ada sebuah rasa sentuhan tangan anak kecil. Tangan dingin itu terasa menyentuh pinggulnya. Menyuruhnya naik. Mencoba untuk mengajaknya bermain. Rasa penasaran itu menguat. Prajitno sudah memikatnya.
“Ke sini! Kamu bisa liat pondoknya dari atas!” ajak suara Prajitno, yang Galih rasakan kini tepat di dekat telinganya. Patung itu seolah tersenyum lebih lebar. Dengan susah payah, Galih mulai memanjat. Kakinya menemukan celah-celah di ukiran patung, pegangannya pada batu lumutan terasa mantap. Dia melangkah perlahan ke atas.
Baru saja setengah jalan, Galih merasa ada sesuatu yang menarik kuat kakinya. Tangan yang dingin, halus, tapi kokoh, mencengkeram pergelangan kakinya. Tarikan itu tak lagi main-main, tapi mendesak. Galih terhuyung. Ia kehilangan keseimbangan.
“Aaaaa!” jerit Galih, mencoba mempertahankan diri, namun cengkeraman pada pergelangan kakinya menguat, seolah menariknya mundur. Sebuah dorongan kuat, tak terlihat, menghantam punggungnya.
Tubuhnya terpental. Patung itu menjulang tinggi. Galih jatuh dari patung yang lumayan tinggi, terbanting ke tanah becek, tepat di samping sebuah bongkahan batu besar. Pergelangan tangannya menancap pada ujung patahan ubin keramik yang tajam. Panas dan perih. Air mata langsung mengucur.
“Hueeekkk … sakit!” Galih menjerit, mencengkram pergelangan tangannya yang kini mengucurkan darah merah pekat. Noda lumpur bercampur darah membanjiri pergelangan tangan kecilnya. Pandangannya buram. Dari balik bayangan di sekitar patung, terdengar tawa cekikikan anak-anak kecil, samar namun begitu jelas di telinganya. Menyenangkan, penuh kegembiraan, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan drama yang penuh darah.