Bab 1 – Lim Kim Long
Ada yang bilang keluarga itu kasih sayang. Ada yang menyebutnya cinta. Keutuhan. Sebagian percaya keluarga adalah darah yang sama. Entahlah, banyak sekali definisi telah ditulis dan diucapkan. Tapi tak semua orang sepaham apa makna keluarga bagi dirinya sendiri atau ketika ia memaknainya untuk orang lain. Tak ada yang benar-benar salah seperti nyaris tak ada yang benar secara mutlak. Mungkin juga karena keluarga itu adalah ranah rasa, bukan hal yang dapat dikalkulasikan dalam hitungan matematis.
Namun pada akhirnya… bukankah keluarga mungkin hanya sesederhana tempat untuk pulang?
Atau—mungkin kita mau bertanya pada Lim Kim Long atau yang lebih sering dipanggil Along.
Tapi jangan tanya dia sekarang.
Pagi ini ia sedang tergeletak seperti babi mati di kursi kayu panjang di teras rumahnya. Nyaris subuh ketika ia pulang. Dan sialnya—kunci rumahnya hilang.
Berkali-kali ia meyakinkan Abun yang mengantarnya pulang, bahwa ia tidak mabuk.
“Hanya sebotol Sipcuanciu,” katanya. Arak putih herbal. Tak mungkin menumbangkannya.
Ketika itu Abun hanya manggut-manggut mengiakan, paham tabiat Along.
Tapi kantong sudah diraba berkali-kali. Abun bahkan sudah kembali ke rumah Johan—tempat mereka minum—untuk mencari bilah kecil itu.
Nihil.
“Keparat,” gerutu Along.
Ingin sekali ia mendobrak pintu depan rumahnya. Andaikan ada orang dari dalam yang bisa membukakan pintu. Tapi tak ada siapa pun. Rumah besar itu hanya punya satu penghuni tunggal. Along sendiri.
Along akhirnya memilih berbaring di teras melewatkan malam, entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi ia telah menyadari kesialannya tak segera dapat ia atasi, padahal masalahnya hanya sederhana, anak kunci.
“Besok saja, kalau pening ini hilang,” gumamnya pada diri sendiri. “Dongkel atau apapun itu, yang penting bisa masuk.”
Rumah yang menghadap ke timur itu menyambut pagi seperti biasanya, cahaya mentari langsung menari di teras rumah. Padahal sejak tadi ayam jantan telah berlomba-lomba berkokok tiada henti, burung-burung juga tak kalah nyaring berkicau, bahkan Ophi—si anjing jantan milik tetangga, telah menyalak galak mengusir biawak. Tapi yang membangunkan Along adalah silau matahari yang menimpa pelupuk matanya.
Ia mengejap-ngejap, berusaha mengangkat kepala. Sakit. Berdenyut.
Lidahnya pahit. Tenggorokannya kering seperti baru menelan pasir. Untuk beberapa detik ia lupa di mana ia berada. Langit-langit rumah tak menyambutnya—yang ada hanya garis-garis kayu atap teras dan cahaya matahari yang menampar tanpa sopan.
Ia mengerang pelan, memijat pelipisnya.
“Cuma sebotol,” gumamnya lagi, seakan masih harus membela diri pada seseorang yang bahkan sudah tak ada di sana.
Along duduk perlahan. Kursi kayu panjang itu keras, punggungnya terasa remuk. Ia menyipitkan mata menatap pintu depan rumahnya. Pintu kayu tua berwarna biru ber-les merah menyala, catnya mulai pudar dan mengelupas di bagian bawah dan sudut samping. Gagang kuningannya berkilat redup terkena matahari.
Terkunci.
Ia merogoh saku sekali lagi—gerakan refleks yang sia-sia. Kosong.
Angin pagi menyusup lewat sela bajunya. Aroma solar dan lembap pantai terap bakau berbaur dengan sisa arak putih di bajunya itu membelai hidungnya. Dari dalam rumah tak terdengar apa pun. Tak ada suara langkah. Tak ada bunyi piring. Tak ada batuk kecil. Tak ada napas lain.
Sepi.
Ah… tentu saja. Sudah lama begini.
Dan sekarang, rumah itu berdiri seperti raksasa tua yang menolak mengakuinya sebagai tuan.
Along bangkit dengan malas, berjalan memutar ke samping rumah. Rumput menyentuh betisnya. Dinding belakang sedikit lembap, menyimpan bau kayu tua dan laut. Ia mencoba mendorong jendela. Terkunci juga.
“Bagus,” gerutunya. “Rumah sendiri macam rumah orang.”
Ia kembali ke teras, menatap pintu sejenak, lalu menghela napas panjang. Dengan bahu yang masih berat, ia turun dari teras dan melangkah ke bengkel kecil di samping rumah.
Di sanalah ia biasa menyimpan perkakas.
Pintu bengkel tak pernah ia kunci. Tak ada yang cukup bodoh mencuri besi bekas dan mesin tua di kampung ini. Ia masuk, mencari linggis kecil atau obeng besar. Tangannya yang kasar menyentuh gagang besi yang dingin.
Sinar matahari menembus sela atap seng, memantulkan cahaya pada serpihan-serpihan logam di lantai.
Di sinilah ia merasa paling hidup.
Besi bisa ia tundukkan. Api bisa ia arahkan. Sambungan yang retak bisa ia kuatkan.
Tak seperti hal-hal lain dalam hidupnya.
Along mendengus, ia lalu keluar membawa linggis pendek, berdiri lagi di depan pintu rumahnya sendiri, menatapnya seperti sedang menilai lawan.
“Hanya pintu,” gumamnya.
Ia selipkan ujung besi ke celah kusen.
Kayu berderit pelan.
Namun ternyata tak mudah.
Pintu dari papan kayu punak pilihan itu masih presisi untuk usianya, seolah tak rela dipermalukan. Engselnya memang mulai longgar, tuas penguncinya hampir patah, tetapi tetap saja ia memberi perlawanan. Along mengerahkan tenaga. Otot lengannya menegang. Kepalanya ikut berdenyut lebih keras, nyerinya menjalar sampai ke tengkuk.
“Cih…”
Ia menyerah sambil terengah. Linggis diturunkannya. Beberapa umpat lolos dari sela giginya.
Sesaat kemudian ia hampir menepuk jidat sendiri. Lalu malah tersenyum kecut.
Pintu dapur.
Entah bagaimana ia bisa lupa bahwa pintu dapur jauh lebih mudah untuk dibobol.
Along memanggul linggisnya dan turun dari teras. Saat ia melangkah melewati pagar, seorang wanita muda berjilbab tengah menggandeng adiknya melewati depan rumah.
“Bang Along,” sapa Ami ramah.
“Ah, ya… Ami. Mau ke mana?”
“Daftarkan Lena,” sahutnya, menepuk kepala bocah kecil di sampingnya.
“Oh… pendaftaran sudah buka ya?”
“Sudah dari kemarin.”
“Sampai kapan tanggal terakhir?”
“Minggu depan.”
Ami memandangnya sedikit lebih lama. Pandangan yang tak menghakimi, hanya menimbang. Lelaki Tionghoa ini yang lebih muda dari ayahnya, duda, tak terurus, dan gemar minum—bukan perkara yang luar biasa sebenarnya. Selama tak mencuri, tak menipu, orang-orang memilih diam. Hidup sudah cukup berat tanpa harus sibuk mengadili.
Lena menarik tangan kakaknya tak sabar.
Ami tersenyum kecil. “Duluan ya, Bang.”
Along mengangguk.
“Minggu depan…” gumamnya pelan setelah mereka menjauh. “Masih lama. Masih sempat.”
Ia melangkah ke belakang rumah, tapi pikirannya sudah melompat mundur ke bulan lalu. Ke siang panas ketika Ng Lai Sim datang ke bengkel lasnya.
Pemuda itu berdiri kaku di depan percikan api, wajahnya sopan tapi tegang. Tangannya terlipat rapi, seperti orang yang sedang bersiap mengucapkan sesuatu yang tak ingin ia ucapkan.
Along tak berusaha memungkiri—sangat mungkin mantan adik iparnya itu masih menyimpan benci.
Tapi bukan salahku sepenuhnya, kan?
Rumah tangga yang retak tak lahir dari satu kesalahan. Ia akumulasi. Ia endapan. Kesabaran yang terkikis pelan, batas yang dilampaui sedikit demi sedikit. Berpisah waktu itu terasa seperti keputusan paling masuk akal.
Ng Siu Lan memilih pergi.
Itu pilihannya.
Anak-anak…
Along berhenti sejenak di belakang rumah, menatap pintu dapur yang catnya mengelupas.
Belum terlambat mendaftarkan mereka ke sekolah.
Kapan mereka datang? Hari ini? Besok?
Lai Sim bilang kalau semuanya sudah beres. Beres apanya?
Tapi… kenapa harus kembali ke rumah ini?
Aku—
Ia menghela napas kasar.
Tak bisakah mereka merawat dua anak itu? Kenapa Lai Sim begitu takut pada istrinya? Hanya dua ponakan. Bukankah mereka sudah terbiasa di sana? Soal uang pun, meski tak selalu ada, aku bisa bantu sesekali.
Siu Lan…
Ia memalingkan wajah, seakan nama itu terlalu berat untuk ditatap lurus.
Aih… aih…
Ia pergi di waktu yang salah. Tapi juga bukan salahnya. Kanker payudaranya akhirnya menang.
Angin pagi berembus pelan dari arah laut. Untuk sesaat, di antara bau kayu lembap dan lumpur limbah rumah tangga, Along merasa ada sesuatu yang lain—sebuah ruang yang sebentar lagi tak akan kosong lagi.
Ia berdiri di depan pintu dapur.
Linggis kembali ia angkat.
Dan entah kenapa, kali ini bukan hanya untuk membuka pintu kayu—ada rasa bahwa ini untuk membuka kembali sesuatu yang sudah lama ia tutup rapat dalam dirinya sendiri.
Sekali lagi Along menghela napas, tak perlu linggis sebenarnya. Pikirannya sedang kacau, sehingga perkara sederhana yang telah ia kenali jalan keluarnya tertimbun dalam gejolak pikirannya. Sekarang ia ingat sebilah pisau patah di tumpukan barang bekas di belakang, sebuah jerigen pecah ia lempar pergi, satu keping papan pendek ia buang, lalu pisau yang tergeletak di sana ia ambil.
“Sederhana sekali sebenarnya,” gerutunya.
Dengan bilah tipis, ia susupkan lewat celah papan, tuas pengunci ia sentak ke atas.
Clak.
Pintu dapur terbuka.
Klang.
Along melemparkan linggis di lantai belakang.
Tak ada hela lega, matanya terpejam sesaat sebelum ia masuk ke dalam.
Dapur yang ia kenali setiap sudutnya itu tak berhasil mengeluarkan Along dari kecamuk pikirannya yang acak. Matanya menangkap debu di lantai, otaknya ada di tapak mesin pesanan Haji Tamar yang baru separuh jadi karena kehabisan kawat las. Tong sampah dari jerigen belah yang penuh sampah plastik mie instan dan kaleng sarden bekas menguar masam hinggap ke hidungnya, tapi Along tak di tempat, bukan fisiknya, pikirannya melompat pada anak kuncinya yang hilang, bergerak lagi pada penyesalan bahwa semalam ia tak ke Pasar Minggu, sayur yang tersimpan lama di kulkas pastinya sudah tak layak lagi untuk di masak, lalu pikirannya hinggap lama pada anak-anak yang sebentar lagi mengisi rumah ini.
Itu kembali membawanya pada Ng Siu Lan.
Siu Lan…
Along berdecak. “Itu memang nasibnya,” tanpa sadar Along bergumam.
Namun ia segera sampai pada, “ya, sekarang jadi nasibku.”
Kepergian Siu Lan meninggalkan tanggung jawab anak-anak padanya. Ai Phing dan Ka Thiam, sudah sebesar apa mereka sekarang?
Along mengingat-ingat, meski kepalanya masih bedenyut oleh dahsyatnya Ciu semalam, enam tahun… ah, waktu itu kalau tak salah Ai Phing berusia enam. Lalu Ka Thiam dua tahun atau dua setengah…
Delapan tahun telah berlalu, atau sembilan. Along masih berusaha mengingat, luar biasa, waktu selalu mengkhianati ingatan, tapi… delapan tahun. Akhirnya ia tiba pada hitungan yang tepat, delapan tahun.
Itu artinya anak perempuannya kini sudah berusia empat belas dan putranya Ka Thiam, saat ini berumur sepuluh.
Tapi itu tak penting, berapapun usia mereka berdua tak mengubah kenyataan bahwa mereka akan mengisi hidupnya lagi.
“Apa mereka tak pikir, aku juga susah?” gumamnya lagi, nyaris tanpa sadar. Menyesalkan keputusan keluarga mantan istrinya yang tak berperasaan, mengembalikan dua anak ini ke padanya adalah tindakan yang gegabah sebenarnya.
Ini bukan waktu yang tepat, pikirnya.
Samar-samar, seruat kesadaran menghantamnya. Apakah akan ada atau pernah ada waktu yang tepat untuknya?
Along mengenyahkan pemikiran itu secepat mungkin, ia lalu menghenyakkan diri di kursi plastik merah bersandaran rendah. Pikirannya kembali pada realita yang akan hadir di hidupnya.
“Siapa yang akan masak? Cuci piring? Baju?”
Ah… ia hampir gila hanya karena memikirkan hal remah ini.
Empat belas tahun, apakah anak seusia Ai Phing bisa mandiri? Lalu Ka Thiam, ia masih rewel? Cengeng? Seingat Along, dulu bocah itu memang demikian.
Along ingin sekali beteriak, tapi tak jadi.
“Sudahlah, lihat saja nanti,” pikirnya.
Ia beranjak bangkit dari kursi, sedikit terhuyung mematikan saklar lampu belakang. Kepalanya berdenyut makin sakit, ia memutuskan akan rebah sebentar lagi, tapi sebelum itu kantong kemihnya harus ia damaikan dulu. Sekeluarnya dari kamar mandi, ia terpeleset nyaris terjengkang. Hal itu membuat kesadaraannya lebih tajam sejenak, tapi kembali melemah dengan cepat. Ia makin mengantuk, nyeri di kepalanya tak berkurang.
Masih terhuyung, kembung di perutnya menekan rasa lapar untuk tumbuh, tak ada selera untuk santap pagi, tidak ada rindu pada kopi.
Apapun yang terserak di lantai papan tak ditatap dua kali oleh Along, matanya tertuju pada kamar tidur depan, tempatnya merebahkan diri. Satu-satunya tempat yang bisa membuatnya rindu.
Dengan debu lantai yang masih lengket di tapak kakinya yang basah dari kamar mandi, Along menjatuhkan kepalanya di bantal yang bersarung gambar karikatur ikan kembar.
Semua aroma yang bercampur, antara apek selimut yang lama tak menyentuh air sabun dan bekas air liur di sarung bantal dan guling, antara aroma lembap lantai di sudut, bau asap rokok yang bandel melekat pada kain gordin yang tak pernah dibuka, atau aroma damar basah yang masuk bersama angin dari ventilasi, itulah kamar yang paling diingat Along.
Tubuhnya rebah telungkup. Di ambang tertidur di awal pagi.
Saat ia berbalik tanpa sadar, sebelah kakinya menimpa tumpukan pakaian yang bercampur—yang baru diangkat dari jemuran dan yang seharusnya sudah lama dicuci.
Ai Phing dan Ka Thiam tak hadir dalam mimpinya. Tidak sekarang. Tidak juga dalam tidur-tidur sebelumnya.
Yang hadir justru suara percikan api las.
Cahaya biru oranye menyala di ruang gelap. Besi-besi didekatkan, lalu meleleh di satu titik—dipaksa menyatu oleh panas. Dalam mimpinya, ia terus mengelas sesuatu yang tak jelas bentuknya. Setiap kali hampir selesai, sambungan itu retak lagi. Ia mengulang. Mengulang. Mengulang.
Lalu tiba-tiba api padam.
Gelap.
…
“Hia… Ahia…!”
Sudah lebih dari lima belas menit Asuang menggedor pintu depan sambil memanggil, tapi Along tak juga mendengar.
“Sudah hampir jam dua belas siang,” gerutunya.
Karena tak ada sahutan yang menjawab, Asuang bergegas ke samping rumah dan menggedor jendela kamar tidur abangnya.
DUK. DUK. DUK.
Ia menghantam jendela kayu itu lebih keras, berharap Along terbangun. Baru saja ia hendak berteriak lagi, suara terkejut terdengar dari dalam.
“Aa… apa? Siapa?”
Asuang mengenali suara itu.
“Aku, Asuang,” sahutnya cepat.
Dari dalam terdengar gumaman kesal, disusul langkah kaki. Pintu kamar dibuka, lalu lantai papan berderit menahan beban tubuh yang berjalan tergesa.
Asuang menghela napas dan kembali ke depan, menunggu pintu dibukakan.
Namun pintu tak segera terbuka.
“Tunggu!” sahut Along dari dalam, bersatu dengan suara grasak-grusuk lemari dan laci kecil yang dibuka lalu ditutup, mencari anak kunci serep.
Asuang mendongak ke matahari dengan tak sabar. Waktunya tak banyak. Ia sudah selesai mencuci dan memasak di rumah mertuanya, tetapi tugasnya belum benar-benar rampung sebelum lauk-pauk dan nasi terhidang rapi di meja makan. Keluarga suaminya memandang kesiapan meja makan sama pentingnya dengan kehadiran anggota keluarga. Sebagai menantu pertama, itu tanggung jawabnya kini.
Krak! Krak! Krakk!
Suara kasar memecah dari dalam rumah. Asuang terlonjak kaget.
“Apa—”
Pintu mendadak terbuka. Along berdiri dengan pakaian acak-acakan, wajah masih kusut, sebatang palu tergenggam di tangannya.
“Kunci hilang,” katanya, masih kesal.
Asuang menatap gerendel kuningan yang sudah remuk dengan rasa sayang. Gerendel itu sudah menemani mereka sejak kecil.