KA

Rico Tsiau
Chapter #2

Ampas Kopi

Dapur yang ia kenali setiap sudutnya itu tak berhasil mengeluarkan Along dari kecamuk pikirannya yang acak. Matanya menangkap debu di lantai, otaknya ada di tapak mesin pesanan Haji Tamar yang baru separuh jadi karena kehabisan kawat las. Tong sampah dari jerigen belah yang penuh sampah plastik mie instan dan kaleng sarden bekas menguar masam hinggap ke hidungnya, tapi Along tak di tempat, bukan fisiknya, pikirannya melompat pada anak kuncinya yang hilang, bergerak lagi pada penyesalan bahwa semalam ia tak ke Pasar Minggu, sayur yang tersimpan lama di kulkas pastinya sudah tak layak lagi untuk di masak, lalu pikirannya hinggap lama pada anak-anak yang sebentar lagi mengisi rumah ini.

Itu kembali membawanya pada Ng Siu Lan.

Siu Lan…

Along berdecak. “Itu memang nasibnya,” tanpa sadar Along bergumam.

Namun ia segera sampai pada, “ya, sekarang jadi nasibku.”

Kepergian Siu Lan meninggalkan tanggung jawab anak-anak padanya. Ai Phing dan Ka Thiam, sudah sebesar apa mereka sekarang?

Along mengingat-ingat, meski kepalanya masih bedenyut oleh dahsyatnya Ciu semalam, enam tahun… ah, waktu itu kalau tak salah Ai Phing berusia enam. Lalu Ka Thiam dua tahun atau dua setengah…

Delapan tahun telah berlalu, atau sembilan. Along masih berusaha mengingat, luar biasa, waktu selalu mengkhianati ingatan, tapi… delapan tahun. Akhirnya ia tiba pada hitungan yang tepat, delapan tahun.

Itu artinya anak perempuannya kini sudah berusia empat belas dan putranya Ka Thiam, saat ini berumur sepuluh.

Tapi itu tak penting, berapapun usia mereka berdua tak mengubah kenyataan bahwa mereka akan mengisi hidupnya lagi.

“Apa mereka tak pikir, aku juga susah?” gumamnya lagi, nyaris tanpa sadar. Menyesalkan keputusan keluarga mantan istrinya yang tak berperasaan, mengembalikan dua anak ini ke padanya adalah tindakan yang gegabah sebenarnya.

Ini bukan waktu yang tepat, pikirnya.

Samar-samar, seruat kesadaran menghantamnya. Apakah akan ada atau pernah ada waktu yang tepat untuknya?

Along mengenyahkan pemikiran itu secepat mungkin, ia lalu menghenyakkan diri di kursi plastik merah bersandaran rendah. Pikirannya kembali pada realita yang akan hadir di hidupnya.

“Siapa yang akan masak? Cuci piring? Baju?”

Ah… ia hampir gila hanya karena memikirkan hal remah ini.

Empat belas tahun, apakah anak seusia Ai Phing bisa mandiri? Lalu Ka Thiam, ia masih rewel? Cengeng? Seingat Along, dulu bocah itu memang demikian.

Along ingin sekali beteriak, tapi tak jadi.

“Sudahlah, lihat saja nanti,” pikirnya.

Ia beranjak bangkit dari kursi, sedikit terhuyung mematikan saklar lampu belakang. Kepalanya berdenyut makin sakit, ia memutuskan akan rebah sebentar lagi, tapi sebelum itu kantong kemihnya harus ia damaikan dulu. Sekeluarnya dari kamar mandi, ia terpeleset nyaris terjengkang. Hal itu membuat kesadaraannya lebih tajam sejenak, tapi kembali melemah dengan cepat. Ia makin mengantuk, nyeri di kepalanya tak berkurang.

Masih terhuyung, kembung di perutnya menekan rasa lapar untuk tumbuh, tak ada selera untuk santap pagi, tidak ada rindu pada kopi.

Apapun yang terserak di lantai papan tak ditatap dua kali oleh Along, matanya tertuju pada kamar tidur depan, tempatnya merebahkan diri. Satu-satunya tempat yang bisa membuatnya rindu.

Dengan debu lantai yang masih lengket di tapak kakinya yang basah dari kamar mandi, Along menjatuhkan kepalanya di bantal yang bersarung gambar karikatur ikan kembar.

Semua aroma yang bercampur, antara apek selimut yang lama tak menyentuh air sabun dan bekas air liur di sarung bantal dan guling, antara aroma lembap lantai di sudut, bau asap rokok yang bandel melekat pada kain gordin yang tak pernah dibuka, atau aroma damar basah yang masuk bersama angin dari ventilasi, itulah kamar yang paling diingat Along.

Tubuhnya rebah telungkup. Di ambang tertidur di awal pagi.

Saat ia berbalik tanpa sadar, sebelah kakinya menimpa tumpukan pakaian yang bercampur—yang baru diangkat dari jemuran dan yang seharusnya sudah lama dicuci.

Ai Phing dan Ka Thiam tak hadir dalam mimpinya. Tidak sekarang. Tidak juga dalam tidur-tidur sebelumnya.

Yang hadir justru suara percikan api las.

Cahaya biru oranye menyala di ruang gelap. Besi-besi didekatkan, lalu meleleh di satu titik—dipaksa menyatu oleh panas. Dalam mimpinya, ia terus mengelas sesuatu yang tak jelas bentuknya. Setiap kali hampir selesai, sambungan itu retak lagi. Ia mengulang. Mengulang. Mengulang.

Lihat selengkapnya