KA

Rico Tsiau
Chapter #3

Rasa Tak Tega

Sore itu ia kembali.

Langkahnya sudah hafal setiap retak di halaman rumah itu. Rumah tempat ia dibesarkan bersama abang pertamanya—Along. Yang ia panggil Ahia, atau abang, alih-alih Toahia, abang pertama atau tertua.

Ia selalu merasa aneh setiap menyebutnya abang pertama. Karena sebenarnya dulu mereka ada tiga.

Yang sulung, Kim Long.

Yang kedua, Kim Sieng.

Lalu dirinya.

Kim Sieng—Asieng—tak pernah benar-benar menjadi lelaki dewasa. Laut mengambilnya. Satu musim angin buruk, satu rombongan penjala ikan yang tak kembali lengkap. Sejak hari itu, nama Kim Sieng selalu disebut pelan, seolah takut membangunkannya dari dasar laut.

Tinggallah Kim Long—Along—dan dirinya.

Along hanya tamat sekolah dasar. Begitu juga Asieng dulu. Di keluarga ini, bangku sekolah tak pernah jadi tempat yang lama. Hanya ia yang sempat mengecap SMA, itu pun tak selesai. Akhir tahun kedua, ia berhenti. Waktu itu rasanya dunia sudah cukup luas tanpa ijazah.

Papa mereka, Lim Cai Peng, dulu orang berada. Pengusaha kapal tongkang antar pulau. Ia membangun rumah besar ini setelah rumah warisan kakek mulai rapuh dimakan usia. Dulu halaman ini ramai. Buruh datang dan pergi. Bau solar bercampur garam laut.

Mama, Li Sui Guat, selalu memastikan altar bersih dan dapur mengepul.

Lalu sakit datang seperti tamu tak diundang yang tak mau pulang.

Jantung Papa lebih dulu menyerah.

Mama menyusul karena komplikasi gula darah.

Biaya pengobatan menelan tabungan, menjual yang bisa dijual. Yang tersisa kini hanya rumah besar ini dan tanah setengah hektar yang mengelilinginya—luas, tapi kosong seperti dada yang ditinggal pergi.

Along berhenti sekolah lebih cepat. Ia ikut bekerja di galangan kapal. Di sanalah tangannya belajar bicara dengan api dan besi. Mengelas, menyambung, memperbaiki. Menyakitkan, pikir Asuang kadang-kadang—Along pandai menyatukan besi yang retak, tapi tak pernah benar-benar tahu cara menyambung hidupnya sendiri.

Ia sendiri sempat bekerja di kota. Mencicipi keramaian, lampu malam, dan gaji bulanan yang terasa besar. Tapi sebelum pergi, ia sudah mengenal Tiu Hok San—Asan.

Cinta kampung tak pernah benar-benar kalah oleh kota.

Ketika Asan melamarnya, ia pulang. Dan pada hari ia melewati pintu besar keluarga Tiu sebagai pengantin perempuan, hidupnya resmi berpindah halaman.

Keluarga Tiu dikenal mapan. Pemilik kedai barang harian, pengepul karet dan kelapa. Salah satu keluarga yang disebut orang dengan nada hormat di kampung ini. Rumah mereka tak pernah kekurangan beras. Tak pernah kekurangan tamu.

Kadang, saat berdiri di dapur rumah mertuanya yang rapi dan teratur, Asuang teringat dapur rumah lamanya—yang kini berbau apek dan berantakan.

Ia tak pernah tahu mana yang lebih berat: menjadi menantu pertama di keluarga berada, atau menjadi adik dari seorang abang yang hidupnya perlahan tercecer seperti beras yang tak ditutup rapat.

Lihat selengkapnya