Senja belum benar-benar turun ketika Asuang akhirnya menyelesaikan bagian utama rumah itu.
Kompor minyak tanah sudah berkilap, pantulannya samar menangkap cahaya sore yang miring. Piring dan mangkuk dicuci ulang, disusun rapi di rak yang kini bersih dari debu lengket. Sendok dan garpu berderet seperti pasukan kecil yang siap dipanggil kapan saja.
Tiga pasang sumpit baru yang ia bawa dari kedai keluarga suaminya—berukir naga dan hong—tertata anggun di tempatnya. Ukiran itu halus, seolah membawa sedikit wibawa dari rumah Tiu ke rumah lamanya.
Lantai tak hanya ia sapu. Ia mengepelnya dengan cairan pengharum yang ia bawa hingga aroma segar menggantikan bau apek yang lama bersarang. Jejak kakinya sendiri tertinggal samar di permukaan yang masih lembap.
Sayur-mayur yang ia bawa telah disortir dan ditata di lemari pendingin—yang sebelumnya lebih dulu ia bersihkan dari wortel menghitam, sawi layu, kol busuk, dan labu manis berjamur. Rak kulkas kini tampak lapang dan teratur.
Dua botol sirup—satu rasa jeruk, satu rasa kurma—yang masih bersegel ia selipkan di pintu kulkas tua itu. Seperti harapan kecil akan hari-hari yang sedikit lebih manis.
Kamar mandi pun tak luput dari tangannya. Lumut di lantai ia sikat sampai hilang. Bak mandi dikuras, disikat, dibilas, hingga dindingnya kembali terang. Air yang terisi kembali tampak jernih, memantulkan cahaya seperti kaca.
Ia berdiri sejenak di ambang pintu, memandang hasil kerjanya.
Pakaian kotor yang menumpuk di sudut kamar tak sempat ia sentuh. Waktu tak mengizinkan. Langit sudah mulai berubah warna.
Dan kamar untuk anak-anak—untuk keponakan-keponakannya—
Besok saja, pikirnya.
Masih ada besok.
Sebelum benar-benar beranjak, pandangannya jatuh pada dompet Along yang tergeletak begitu saja di atas kulkas. Ia ragu sesaat. Lalu tangannya bergerak sendiri.
Dibukanya pelan.
Tiga puluh tujuh ribu rupiah.
Ia tersenyum tipis. Getir, tapi tak terkejut. Uang itu mungkin cukup untuk sebungkus nasi, beberapa batang rokok, dan sedikit minyak tanah untuk kompor. Tidak lebih.
Asuang merogoh kantong bajunya. Empat lembar lima puluh ribu rupiah ia keluarkan. Dengan gerakan cepat—seperti takut tertangkap basah oleh rasa sungkan—ia selipkan uang itu ke dalam dompet, lalu menutupnya kembali dan meletakkannya persis seperti semula.
Seolah tak pernah disentuh.
Ketika ia hendak pulang, ia mendapati Along sedang memasang gerendel darurat di pintu depan. Besi yang tadi dibentuknya kini sudah separuh terpasang, sederhana, kasar, tapi kokoh.
“Hia, aku pulang.”
“Hmm…” sahut Along pendek, tanpa menoleh.
“Besok pagi cucilah baju. Kalau sempat, besok sorenya aku setrikakan untukmu.”
“Ya.”
“Kamar anak-anak, besok saja kita bereskan.”
Along berdecak pelan.
“Malam ini tidurlah lebih awal.”
Decakan lagi. Sekrup terakhir diputar, bunyinya berderit halus.
“Nasi sudah aku tanak. Sebentar lagi matang. Jangan lupa cabut stekernya.”
Tak ada jawaban.
“Babi kecap sudah aku hangatkan. Tadi aku juga bawa sayur asin sedikit untuk makan malam.”
Kali ini Along berhenti sepenuhnya. Obeng terdiam di tangannya. Ia berbalik menatap adiknya.
“Suang… aku bisa urus diri sendiri,” katanya pelan. Nyaris putus asa. Nyaris seperti permohonan.