Suhu udara belum turun di kampung pesisir ini, namun sekejap lagi dingin akan terasa menusuk, dengan atau tanpa angin yang bertiup. Bohlam di teras redup, telah melemah, temaram putih sedikit berkedip.
Along duduk di bangku panjang. Ia mengintip isi kotak rokoknya, tinggal dua batang. Kalau malam ini tak begadang, dua batang sudah cukup. Ia lalu menyalakan satu. Mengepulkan asapnya, memainkannya. Seolah bereksperimen apakah ia mampu mengusir nyamuk dengan asap yang ia hembuskan kuat-kuat.
Di kejauhan matanya menangkap siluet orang berjalan. Lalu di tikungan jalan, Johan melambaikan tangan.
“Long! Mau ke belakang? Asun sudah di sana.”
Along mengangkat dagu sedikit. “Ke mana?”
“Pelanto belakang, tempat Aciam. Ada Sipcuanciu rendaman lama. Hangatkan badan. Angin laut bentar lagi dingin.”
Pelanto—pelataran bagian belakang rumah—tempat Aciam tak seperti pelanto umumnya, sangat luas. Dan ada kanopi daun rumbia serta dinding papan rendah, kursi dan meja kayu. Sempurna untuk menikmati Ciu, dan sering jadi tempat main kartu.
Dan… Sipcuanciu rendaman lama.
Itu bukan sekadar arak. Itu botol yang dibuka untuk cerita lama. Untuk tawa yang tak perlu ditahan. Untuk malam-malam ketika dunia tak perlu ditimbang ringan atau berat.
Along ragu sepersekian detik.
“Sebentar saja,” katanya akhirnya.
Lumayan, daripada duduk termenung di teras.
Pelanto itu tak pernah berubah. Meja kayu panjang, bangku pendek, lampu bohlam kuning yang menggantung rendah. Asun sudah duduk dengan gelas kecil di tangannya.
“Ah, Along!” Serunya. “Sini kau.”
“Ya,” jawab Along, duduk.
Gelas kecil dituangkan. Cairan merah kehitaman berkilau di bawah cahaya lampu. Along mengangkatnya. Aroma herbal yang tajam menyentuh hidungnya. Ia meneguk sekali.
Hangat turun ke dada. Seusai janji Johan, rendaman lama, kualitas bagus.
Obrolan mengalir ringan. Tentang kapal yang terlambat sandar. Tentang harga solar yang naik. Tentang anak si ini yang masuk sekolah di perguruan tinggi di kota. Tentang si itu yang sakit. Tentang Atat dan Ayong yang sejak lama tak saling bicara karena urusan utang piutang, tadi sore terlihat berjalan beriring dengan mesra ke dermaga utama untuk memancing ikan.
Di sudut lain, meja kecil sudah terisi tiga orang. Kartu terbuka. Uang receh berserakan. Tawa pendek terdengar.
“Main kecil saja,” kata Johan sambil melirik. “Bunuh waktu.”
Along tak menoleh. Ia meneguk lagi. Hangat kedua turun lebih cepat.
Johan berdiri, mendekat ke meja kartu. “Tambah satu orang cukup ini.”
“Ah, Along bisa,” sahut seseorang.
Along mengangkat tangan. “Tak usah.”
“Tiga putaran saja,” kata Johan. “Taruhan kecil. Lima ribu. Sepuluh ribu paling besar.”
Sepuluh ribu. Cukup receh di meja judi.
Along tertawa pendek. Menolak halus.
“Main receh aja lah,” sahut Johan. “Bukan buat kaya, kalahpun tak bakal jatuh miskin.” Ia lalu tertawa.
Bukan mau kaya.
Hanya bunuh waktu.
Kalahpun bakal tipis.
Along berdiri, nyaris tanpa sadar. Mendekat. Duduk. Tawa menyambutnya.
Putaran pertama. Kartu dibagikan.
Ia menang kecil.