Det! Det! Dett!
Suara itu nyaring, berentet cepat, menggema dari arah pelabuhan kecil milik Ujang, tetangganya yang nelayan. Along terkejut dan terbangun. Dalam hitungan detik kesadarannya mengendap dan ia tahu: mesin pompong Ujang yang tak berknalpot.
Jam berapa sekarang?
Ia duduk di kasur, mengucek mata, meraba-raba meja kecil di samping ranjang. Jam alarm kecil hadiah Lucky Draw Capgomeh di acara tahunan Kelenteng Ma Co Poh ia temukan. Ujung jarumnya yang glow in the dark menunjukkan pukul empat pagi lewat sedikit.
“Ah… sepagi ini Ujang sudah mengejar air naik di kuala.”
Along sempat ingin berbaring lagi. Tapi karena sudah kadung bangun, ia memilih berdamai dulu dengan kantung kemihnya.
Ia ke belakang.
Tak lama kemudian, seusai dari kamar mandi, ia meneguk dua teguk air putih. Tanggung, pikirnya. Sudah hampir terang. Setengah sadar ia berjalan ke depan, mematikan saklar lampu teras.
Bukan karena takut listrik mahal. Itu urusan nanti. Tapi bohlam itu sudah nyaris putus. Lebih baik dihemat dua-tiga malam lagi, untung-untung bisa seminggu atau dua minggu.
Sebelas watt. Merek bagus. Hampir dua puluh ribu rupiah.
Andai bohlam selundupan dari Singapura—kadang dari Malaysia—masih banyak dijual seperti dulu. Empat belas watt, tak lebih dari lima belas ribu rupiah, lebih terang, lebih tahan lama sampai redupnya pun pelan.
Along berusaha mengingat mereknya. Hanya kotak hijau yang muncul di kepalanya. Namanya kabur. Tapi ia ingat betul tulisan putihnya: better light, better life.
Ia tersenyum tipis. Dulu ia pernah berdebat panjang dengan Asun dan Johan soal arti kalimat itu. Padahal bertiga sama-sama tak paham bahasa Inggris.
“Lampu depan harus tetap terang, biar Hoki datang malam-malam. Kalau pagi kita buka pintu, ia langsung bisa masuk,” suara Papanya tiba-tiba teringat jelas.
Refleks, Along melirik altar.
Gelap.
Namun matanya seakan menemukan satu nama di sana.
Lim Cai Peng.
Tinta hitam, aksara Tionghoa, di lempeng kayu kempas bercat merah terang, dilindungi kaca tipis berbingkai kayu hitam.
Padahal ia tahu, dalam gelap seperti ini tak mungkin terbaca.
Along melangkah mendekat. Nama Papa dan Mamanya tetap tak terlihat. Hanya siluet.
“Pa… Ma…”
Hanya itu. Tenggorokannya tak tercekat. Hanya hatinya yang seperti tak pernah siap.
Anak-anak akan pulang.
Kata itu tak sampai terucap. Kata pulang pun terasa berat, seperti batu yang harus diangkat dengan dua tangan.
Ia menunduk lama. Ketika mengangkat kepala, kantuknya sudah hilang.
Di depan kamar samping—kamar yang disiapkan untuk anak-anak—Along berhenti. Terpaku.
Tangannya terulur ke gagang pintu. Membeku. Ia berdecak sekali. Menghela napas sekali.
Tuas diputar pelan. Pintu berderit halus.
Gelap.
Ia melangkah masuk dua langkah dan menjentik saklar. Bohlam delapan belas watt menyala terang, terlalu terang untuk ruangan yang lama tak dihuni.
Bantal, guling, selimut yang dibawa adiknya tergeletak di dekat pintu, ditumpuk di atas plastik merah agar tak kotor tertular debu di lantai.
Asuang benar.
Kamar ini harus dibersihkan.
Lemari, lantai, meja rias kecil, cermin bundar—semua diselimuti debu tebal. Sarang laba-laba menggantung di setiap sudut. Kasur kapuk yang dibungkus kain mungkin selamat dari debu, tapi kain pembungkusnya sama kelabunya dengan lantai.
Along mematikan lampu dan keluar.
Jam dinding yang mati masih menunjukkan pukul tiga lewat lima belas.
Ah, baterai kecil itu… berapa sekarang harganya?
Lalu pikirannya berlari.
Beras bersemut dan berulat yang belum ditampi.
Pakaian kotor seminggu.