Dan di Bakau Panjang, kampung pesisir di tempat Along dan kedua anaknya akan belajar memberi makna pada kata Ka—keluarga—udara pagi sudah terasa panas. Awan bergulung bermain dengan angin.
“Ini akan jadi hujan pertama.”
Along tersentak, ia berpaling. Asun berjalan datang menghampirinya di teras.
“Bagaimana kau tahu akan hujan hari ini?” tukas Along sambil lalu.
“Masih pagi sudah gerah, penguapan tinggi, arah angin berputar tak biasanya—“
Along tak sepenuhnya mendengar ramalan cuaca Asun dengan teori yang lahir dari pengamatannya sendiri.
“Lihat saja awan—“ Asun masih belum berhenti.
Along semakin tenggelam dalam pikirannya.
“Anak-anakmu pulang, kan? Hari ini?” Seperti arah angin yang tak menentu, Asun banting topik.
Tapi itu cukup menyentak Along keluar dari lamunan.
“Mungkin saja hari ini,” ia menjawab singkat.
Asun berdecak, nyaris mirip gaya Along.
“Semua siap?”
“Apa?”
“Ehmmm… tidak, bukan apa-apa.”
“Apa yang siap?” desak Along.
Asun garuk-garuk kepala yang tak gatal.
“Ya, kau tau… tentu kita harus menyambut dengan lay—“
Asun tak sempat menyelesaikan kata layak. Along memotong. Ia juga mengabaikan bentuk simpati Asun dengan menyebut kita.
“Semua beres.” Tukasnya memotong cepat.
Asun diam sesaat, mengangguk kecil. Dari luar teras ia memandang kawannya, pada kerut yang hadir terlalu awal di sudut matanya, pada helai-helai uban pertama yang menyelip di rambutnya, dan terakhir—pada mata Along yang sayu, atau kadang kosong, kadang menatap berat.
“Semalam…”
“Itu hal biasa,” pungkas Along cepat, ia tak ingin Asun mengungkit kekalahannya semalam.
“Tapi kau ludes,” Asun masih bandel.
“Masih ada,” Along berbohong.
Cukup kentara ia ingin menghindari Asun pagi ini. Dan Asun yang mengenal Along dari kecil, paham. Ia juga tak ingin berdebat panjang.
Asun memutuskan langsung ke inti, lewat tindakan. Lewat jeruji teras, ia mengulur tangan.