Kedai keluarga Tiu sudah ramai sejak pagi. Bau gula, kopi bubuk, dan minyak goreng bercampur dengan udara yang mulai gerah.
Asuang sedang menakar gula setengah kilo di timbangan tembaga, jarumnya bergoyang kecil sebelum akhirnya seimbang. Beberapa saat sebelumnya seorang pembeli lain baru saja pergi membawa satu kantong plastik besar berisi belanjaannya.
“Baik, setengah kilo gula. Ada lagi, Kak?” tanyanya ramah pada Timah.
“Telur sepuluh. Kecap manis botol kecil satu. Hmm… apa lagi, ya?” sahut Timah sambil mengernyit, menghitung dalam kepala.
Asuang melirik ke arah Asan, suaminya. Lelaki itu tak kalah sibuk, tangannya cekatan menimbang beras dan membungkus mi instan untuk pembeli lain. Dua orang masih mengantre di depan etalase kayu yang mulai kusam.
Jam dinding berdetak pelan. Pukul sembilan lewat sedikit.
Ia tahu benar, setiap pagi memang selalu seramai ini. Tak pernah benar-benar ada waktu senggang sebelum siang. Tapi pagi ini pikirannya tak bisa diam.
Kamar anak-anak belum sempat ia sentuh.
Semalam ia sudah berjanji pada Along. Ia sendiri yang bilang akan merapikan kamar tidur keponakannya, melipat selimut, menyapu lantai, menjemur kasur sebentar agar tak lembap. Janji sederhana. Tapi tetap saja janji.
Asuang membayangkan seandainya Along yang melakukannya. Ia ingat, Abangnya itu, kalau sedang rajin atau mau bergerak, kadang bisa bersih seperti orang kota. Tapi bayangan itu buyar secepat datangnya.
Satu telur tergelincir dari genggamannya.
Plak.
Kuningnya merekah di lantai semen, pecah tanpa suara keras.
Asuang menghela napas panjang. “Aduh…”
“Tak apa, aku ganti satu lagi saja,” kata Asuang pada Timah cepat, seolah tak ingin memperpanjang.
Timah mengangguk, melihat Asuang mengambil lap kain, berjongkok, membersihkan pecahan cangkang dengan gerakan terburu. Tanpa tahu di kepala Asuang bukan telur yang pecah, tapi waktu yang terbuang.
Andai saja waktu bisa berhenti, kata Asuang, dalam hati.
Satu jam saja.
Satu jam untuk merapikan kamar. Satu jam untuk memastikan semuanya pantas ketika dua anak itu tiba. Satu jam untuk menenangkan hati Along yang tak pernah benar-benar ia pahami lagi sekarang ini.
Dari luar kedai terdengar suara sepeda motor melintas, lalu suara orang memanggil-manggil mencari es batu. Pagi terus berjalan, tak peduli siapa yang siap atau tidak.
Asuang berdiri kembali, menyeka tangan di kain lapnya.
“Telurnya sepuluh, Kak. Kecap satu. Gula setengah kilo.”
Ia tersenyum lagi—senyum yang sudah terlatih sejak ia masuk rumah ini dan membantu di kedai.
Di sela-sela hitungan uang receh dan plastik kresek yang berderak, pikirannya melayang sebentar ke dermaga.
Apakah anak-anak itu sudah berangkat dari sana? Sudah sampai?
Apakah Ai Phing masih memandangi papan abu mamanya sebelum pergi?
Apakah Ka Thiam akhirnya tak merengek?
Asuang menelan ludah.
Darah memang lebih kental dari apa pun.
Tapi darah juga berarti tanggung jawab.
Dan pagi ini, sebelum hujan benar-benar turun seperti kata Asun ketika ia tadi mampir beli rokok, ia tahu—rumah Lim di Bakau Panjang harus siap. Bukan sekadar bersih, tapi siap menerima sesuatu yang mungkin akan mengubah isinya.
Jam berdetak lagi.
Sembilan lewat lima belas.
Waktu tak pernah benar-benar berhenti.
Tak pernah.
…
Ck!
Di teras rumahnya, Along kembali berdecak—entah yang keberapa kali pagi ini.
Hanya karena kapasitor. Ia yakin itu sumbernya. Yang dua ohm. Merek entah apa. Harganya cuma tiga belas ribu. Tak lebih.
Barang kecil. Murah. Sepele.
Tapi kenapa selalu lupa membelinya? Dan pertanyaan yang lebih mengganggu: kenapa justru sekarang ia teringat?
Along menatap kesal kipas angin yang tergeletak terbongkar di depannya. Baut-baut kecil berserakan di atas koran bekas. Badan kipas itu miring seperti bangkai ikan di geladak.