KA

Rico Tsiau
Chapter #9

Rumah yang Belajar Menjadi Hangat

Arloji itu berkilau tipis di pergelangan kirinya.

Water resistant. Stainless steel. Merek Casio. Seri lama, dengan kaca yang sudah menyimpan beberapa gores halus—bekas tahun-tahun yang tak pernah benar-benar lembut. Hadiah dari Asan, suaminya, pada ulang tahun pernikahan pertama.

Asuang tak pernah memakainya sembarangan. Hanya pada hari-hari yang terasa penting. Hari yang seperti simpul—mengikat masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas.

Dan pagi ini ia memakainya.

“Sudah hampir jam sepuluh setengah,” gumamnya pelan di depan pintu rumah masa kecilnya.

Matanya beralih dari jarum jam ke pintu kayu yang tertutup.

“Eehh?”

Gerendel kunci darurat yang dipasang Along semalam sudah tak ada. Dicopot.

“Hia… Ahia!” panggilnya, menggunakan sapaan masa kecil yang tak pernah benar-benar hilang.

Tak ada jawaban.

Ia menaiki dua anak tangga teras, telapak kakinya terasa ringan sekaligus cemas. Tangannya mendorong pintu.

Krrrtt…

Pintu itu berderit halus, seperti mengeluh karena dibangunkan.

Rumah kosong.

Along entah ke mana.

Mungkin keluar beli rokok, pikirnya. Atau beli baterai jam dinding?

Ah… padahal Asuang ada bawa dua baterai kecil untuk jam dinding putus nyawa itu. Untuk itulah ia mamakai arlojinya, untuk mencocokkan waktu.

Asuang menggeleng pelan. Abangnya memang begitu. Meninggalkan rumah tanpa dikunci. Mungkin ia yakin tak ada maling yang sudi menyatroni rumah tua mereka. Apa yang bisa dicuri? Kursi kayu reyot? Lemari tua dengan engsel setengah copot? Tak mungkin maling mau mencuri kenangan.

Baru jam segini ia punya waktu untuk rumah lamanya. Kesibukan di kedai sudah teratasi. Adik iparnya membantu, mengambil alih kesibukannya.

Ia punya satu setengah jam sebelum jam dua belas. Makan siang di rumah mertua tak bisa ditunda.

Satu setengah jam.

Ia separuh berharap itu cukup untuk menyentuh kembali masa kecilnya. Atau sekadar merapikan sisa-sisa yang tertinggal.

Ia masuk.

Udara di dalam rumah tak lagi seapek semalam. Ada bau sabun samar. Bau kain bersih.

Langkahnya otomatis menuju kamar anak-anak.

Ia berhenti di ambang pintu.

Kamar itu… berubah.

Tak sepenuhnya bersih—lantai papan kayunya masih menyimpan bercak lama, dan cat dinding tetap kusam. Tapi debu tebal yang semalam menempel di lantai itu, di rak dan sudut-sudut sudah hilang. Sarang laba-laba yang menggantung seperti tirai tipis di pojok langit-langit tak lagi ada.

Kain kusam pembungkus kasur sudah dilepas. Sprei bersih terpasang, agak miring di satu sisi—jelas bukan tangan perempuan yang membentangkannya.

Lihat selengkapnya