KA

Rico Tsiau
Chapter #10

Menahan Napas

Dan, jauh dari tempat Along berdiri menatap langit, KM Cucut Emas masih berlabuh. Mesin belum sepenuhnya dimatikan; bunyinya bergetar rendah, seperti dada yang menahan napas.

Lai Sim menghela napas. Persinggahan terakhir sebelum Bakau Panjang, batinnya.

Beberapa penumpang sudah berdiri, merapikan tas, menunggu aba-aba turun. Ada yang disambut keluarga di dermaga, ada yang turun sendiri, wajahnya mencari-cari.

Ka Thiam melihat kiri-kanan, matanya cemas seperti anak kucing baru dilepas.

“Sudah sampai?” tanyanya pada Ai Phing—entah berharap, entah sekadar memastikan dunia tak berubah tanpa ia tahu.

Ai Phing tak langsung menjawab. Jarinya menunjuk papan kayu di ujung dermaga.

“Selamat Datang di Desa Talang Selat.”

Ka Thiam membaca dalam gumam, bibirnya bergerak pelan.

“Padahal sudah tiga jam,” keluhnya lagi.

Ai Phing melirik arloji Lai Sim yang duduk di kursi sampingnya. Pukul sebelas kurang sepuluh menit. Ia menghela napas panjang.

Tentu saja belum tiga jam.

Bagaimana mungkin perjalanan terasa begitu lama bagi adiknya, sementara baginya waktu justru seperti diselipkan di antara hembusan angin? Kursi keras speedboat ini sudah terasa nyaman. Angin yang menerobos sela terpal jendela menyentuh wajahnya, sejuknya sampai ke dalam dada.

Begini saja sedikit lebih lama, tak mengapa, pikirnya diam-diam.

Karena begitu kaki menapak dermaga, semuanya akan berubah dari “perjalanan” menjadi “kenyataan”.

Seorang awak kapal berteriak memberi aba-aba. Tali dilepas. Beberapa penumpang terakhir naik tergesa.

Mesin kembali meraung, lebih keras.

Getarannya merambat dari lantai ke telapak kaki, ke tulang, ke dada.

Di dapur rumah tujuan dua anak itu, Asuang nyaris ikut bersenandung. Seseorang di jalan depan rumah bersiul lagu lama yang familiar di telinganya. Siulan itu dibawa angin sampai ke belakang, berbaur dengan aroma nasi matang dan ikan asin yang harum.

Ia tersenyum sendiri.

“Beres,” gumamnya riang. “Tinggal ganti baterai jam dinding.”

Ia berjalan cepat ke depan, tapi separuh jalan ia berhenti, berbalik lagi. Lupa. Lauk pauk belum ditutup dengan tudung saji.

Sambil masih tersenyum ia bekerja cepat, tudung saji akan menangkup, matanya jatuh sekejap pada tiga pasang sumpit naga-hong.

Klup.

Tudung tertutup.

Tapi Asuang kembali membukanya, matanya lekat pada sumpit. Tangannya terulur meraba, halus. Ukiran hong yang indah, naga yang berwibawa.

Asuang tersenyum lagi. Lebih lebar.

Di selat yang mulai redup oleh bayang awan, KM Cucut Emas perlahan menjauh dari pelabuhan sebelumnya, meninggalkan garis busa putih yang terurai di belakangnya.

Mesin meraung stabil. Angin makin kencang.

Ka Thiam mencengkeram ujung bangku, tubuhnya sedikit terpental setiap kali lambung kapal menghantam riak gelombang.

Ai Phing memandang lurus ke depan. Garis gelap pepohonan di seberang selat tampak seperti dinding yang makin mendekat.

Dan dunia—seperti biasa—tak menunggu siapa pun.

Speedboat itu menuju persinggahan terakhir.

Dekat. Sudah dekat.

Lai Sim melirik arlojinya. Lima belas menit. Paling lama dua puluh menit lagi sudah tiba.

Lihat selengkapnya