KM Cucut Emas meluncur pelan. Angin yang masuk dari sela terpal jendela seakan terhenti. Dermaga sudah terlihat jelas.
Papan-papan kayu tua yang tebal berjajar panjang, disangga tiang-tiang beton yang menghitam oleh lumut dan air pasang. Beberapa perahu nelayan kecil terikat di sampingnya, mengayun pelan mengikuti riak air.
Dada Ai Phing berdegup aneh.
Ia tak tahu apakah itu karena perjalanan hampir selesai—atau karena sesuatu yang lain. Tangannya tanpa sadar meremas ujung kardus kecil yang dipeluknya sejak tadi.
Di sampingnya, Ka Thiam berdiri di bangku, lehernya menjulur ke luar jendela.
Matanya berbinar melihat daratan yang semakin dekat.
Di sudut dermaga tergantung sebuah lempengan besi bercat putih. Tulisan hitamnya besar dan tebal.
Ka Thiam membacanya keras-keras, seperti anak sekolah yang baru belajar mengeja.
“Se-la-mat Da-tang di De-sa Ba-kau Pan-jang…”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan bangga,
“Kam-pung Ne-la-yan Ber-ja-ya!”
Seorang penumpang tua di depan mereka tersenyum tipis mendengarnya.
Ai Phing hanya melirik sekilas, lalu kembali memandang lurus ke depan. Garis pepohonan bakau di belakang dermaga yang tadinya kecil dan samar, kini tampak semakin besar, semakin nyata.
Mesin kapal mulai diperlambat. Lebih lambat lagi.
Hingga akhirnya KM Cucut Emas merapat perlahan. Lambungnya bergesekan lembut dengan ban-ban karet hitam yang dipasang di sisi dermaga.
Tali dilempar. Seorang Anak Buah Kapal di atas dermaga menangkapnya dan melilitkannya pada tiang besi.
Kapal bergoyang sekali.
Lalu dua kali.
Beberapa penumpang yang sudah berdiri langsung bergegas ke pintu keluar. Ka Thiam ikut terseret arus kecil itu. Ia sudah setengah melompat turun dari bangku ketika tangannya tiba-tiba ditarik.
“Eh, jangan dulu,” kata Lai Sim cepat.
Ia menahan bahu bocah itu.
Ka Thiam menoleh, wajahnya penuh protes.
“Sudah sampai kan?”
“Sudah,” jawab Lai Sim sabar, “tapi tunggu dulu.”
Ia menunjuk ke arah air di samping kapal.
“Kalau kapal baru sandar, nanti ada gelombang balik. Kapal bisa menghantam lagi ke dermaga.”
Seolah ingin membuktikan kata-katanya, air di sisi lambung tiba-tiba bergulung. Ombak kecil memantul dari tiang-tiang beton dan kembali menghantam badan kapal.
Duk!
Lambung Cucut Emas bergoyang keras sekali.
Beberapa penumpang yang sudah berdiri terhuyung.
Ka Thiam membelalak.
Lai Sim tersenyum kecil.
“Tuh, kan.”
Ia menepuk pelan kepala bocah itu.
“Tunggu sebentar. Setelah air tenang baru turun.”
Ka Thiam mengangguk pelan sekarang. Tangannya kembali mencengkeram sandaran bangku.
Ai Phing masih duduk.
Matanya memandang dermaga itu tanpa berkedip.
Beberapa orang di sana sudah menunggu—nelayan, ibu-ibu dengan keranjang, seorang anak kecil yang berlari-lari di papan kayu.
Papa tak ada di ujung dermaga, pikirnya.
Desa Bakau Panjang.
Angin membawa bau lumpur dari hutan bakau di belakangnya.
Ai Phing menarik napas dalam-dalam.
Perjalanan mereka akhirnya benar-benar sampai di ujungnya.
…
Kedai listrik Johan kecil saja. Rak-raknya penuh kotak kabel, saklar, fitting lampu, dan gulungan kawat yang menggantung dari langit-langit rendah. Bau timah solder dan plastik hangus samar-samar bercampur dengan bau kopi yang baru diseduh.
Ketika Along muncul lagi di pintu, Johan yang sedang duduk di kursi plastik langsung mengangkat alis.
“Lho?” katanya, lalu tertawa pendek.
“Balik lagi, Long?”
Along menggaruk pelipisnya, sedikit canggung.
“Tadi lupa,” katanya singkat.
“Apa lagi yang lupa?” Johan masih tersenyum geli.
“Baterai jam.”
Johan terbahak kecil.
“Hanya baterai kau balik lagi? Jauh-jauh?”
Along berdeham. Sedikit gengsi terasa naik ke wajahnya. Ia melirik rak lampu di dinding, lalu menunjuk.
“Sekalian saja… itu, bohlam putih.”
“Yang mana?”
“Sebelas watt. Dua.”
Johan berdiri dan mulai mengambil kotak kecil dari rak.
“Teras sama lorong?” tebaknya.
Along mengangguk.
“Ruang depan juga,” tambah Along sambil berpikir cepat. “Yang delapan belas watt.”
Johan mengambil satu lagi. Mengujinya dengan menyoloknya ke fitting di dinding, nyala.