Hujan pertama selalu bertingkah aneh.
Garang di awal ketika ia membasahi debu dan mengubahnya menjadi lumpur. Jalan-jalan tanah yang tadi kering tiba-tiba mengilat cokelat. Bau tanah basah naik pelan ke udara, bercampur dengan bau kayu tua dan karat dari atap seng.
Tapi tak lama hujan itu seperti berhenti total.
Langit masih kelabu, namun tetesan menghilang begitu saja seolah seseorang di atas sana menutup keran. Orang-orang yang tadi berlari mencari teduh mulai keluar lagi.
Lalu, seperti selalu terjadi pada hujan pertama musim kemarau, langit berubah pikiran.
Angin datang duluan. Daun-daun kelapa bergesekan keras. Dan tak lama kemudian hujan kembali jatuh—kali ini lebih deras, lebih galak, menghantam atap-atap rumah seperti kerikil kecil yang dilemparkan dari langit.
Dari dalam rumah keluarga Lim, suara itu terdengar jelas. Membuat dinding-dinding kayu tua ikut bergetar pelan, seperti ikut merasakan sesuatu yang baru setelah sekian lama hanya mendengar kesunyian.
Diam-diam Along bersyukur. Bukan karena ia suka hujan. Tapi karena hujan membuat segala sesuatu terasa lebih lambat, lebih tertahan. Seakan dunia memberi sedikit waktu tambahan untuk bernapas. Untuk mempersiapkan sesuatu yang mungkin tak pernah benar-benar bisa disiapkan.
Meski di sisi lain ia juga merasa bersalah. Asuang masih ada di sini, terjebak hujan, belum bisa kembali ke rumah mertuanya di ujung kampung.
Adiknya itu kini berdiri di depan altar keluarga yang bahkan belum sempat dibersihkan. Debu tipis masih menempel di permukaan kayu. Hiolo tembaga tampak kusam.
Namun Asuang tak peduli. Debu bukanlah halangan untuk menyambut mereka yang pulang.
“Ai Phing, Ka Thiam, cepat sini,” katanya sambil membuka kotak hio harum yang ia bawa, sesuai janjinya pada Along.
Anak-anak itu masih setengah basah. Ujung rambut mereka meneteskan air ke lantai kayu. Di sekeliling mereka, aroma hujan dan tanah basah masih melekat, membawa serta sisa-sisa perjalanan panjang yang baru saja usai.
“Pasang dulu hio. Kasih tahu Akong sama Ama kalau kalian sudah pulang.”
Keduanya menurut. Ai Phing mengambil tiga batang hio dengan hati-hati. Ka Thiam menirunya, canggung.
Api dari korek menyala kecil. Aroma dupa segera memenuhi ruangan, berbaur dengan bau hujan yang masih tersisa di pakaian mereka.
Keduanya berlutut. Tubuh mereka masih dingin oleh hujan, namun di depan altar itu mereka diam cukup lama.
Ai Phing berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar. Mungkin menyebut nama. Mungkin hanya mengatakan bahwa mereka sudah sampai. Mungkin juga ada sesuatu yang lebih—sesuatu yang hanya untuk ibunya.
Ka Thiam tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat hio di depan dada, lalu melirik kakaknya sebentar sebelum menunduk lagi. Seolah dari sana ia belajar bagaimana cara berdoa kepada leluhur yang belum pernah ia kenal.
Di belakang mereka, Along berdiri kikuk. Tangannya terasa berat di sisi. Ia ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata itu tak pernah mudah keluar.
Ia menggaruk tengkuknya, lalu akhirnya berkata pendek,
“Aku mandi dulu.”
Asuang bahkan tidak menoleh.
“Pergi sana. Bau hujan.”
Rumah itu tiba-tiba terasa ramai oleh hal-hal kecil. Suara langkah kaki di lantai kayu. Suara koper dibuka. Suara tanya dan jawab singkat. Semua itu mengalir tanpa disadari, mengisi ruang-ruang yang selama ini hanya dihuni debu dan sepi.
Asuang menggerakkan semuanya seperti seorang komandan kecil.
“Ai Phing, Ka Thiam… baju kering dalam di koper kalian, keluarkan. Sekalian nanti kita susun di lemari.”
“Cepat ganti. Nanti masuk angin.”