KA

Rico Tsiau
Chapter #13

Berubahlah, Along

Hujan berhenti.

Seperti seseorang di langit yang tiba-tiba menutup tirai, awan-awan kelabu yang tadi menggantung perlahan menghilang. Cahaya matahari sore kembali turun—hangat namun lembut—memantul di genangan air yang tertinggal di halaman.

Atap seng masih meneteskan air satu-satu.

Udara terasa bersih.

Petang itu, setelah Asuang dan Lai Sim berpamitan pulang, rumah keluarga Lim kembali sunyi.

Tinggal mereka bertiga.

Along berdiri sebentar di ruang tengah, memandang sekeliling rumah yang tiba-tiba terasa berbeda. Entah karena kini ada dua pasang sepatu kecil di dekat pintu, atau karena dua napas lain yang kini hidup di dalam dinding-dinding rumah itu.

Ia berdehem kecil.

Lalu, seperti seseorang yang tiba-tiba ingat sesuatu, ia bergerak.

Along mencari-cari kesibukan. Bukan karena ia rajin. Ia hanya ingin menghindari kecanggungan yang menggantung di udara seperti kabut tipis yang tak terlihat.

Ia mulai dari altar keluarga.

Kain lap diambil dari dapur. Ia mengelap permukaan kayu perlahan. Debu tipis terangkat, memperlihatkan warna kayu yang lebih tua di bawahnya.

Besok Chue It. Hari pertama bulan baru, itu yang ada di pikirannya saat itu.

Hiolo tembaga ia angkat, ia lap sampai mengilap. Abu dupa lama ia buang hati-hati ke halaman belakang.

Sementara itu Ai Phing dan Ka Thiam berdiri di dekat pintu kamar, menonton tanpa berkata apa-apa.

Setelah altar selesai, Along menoleh sekilas ke jam dinding di ruang depan, tanpa memperhatikan jarumnya.

“Ah,” gumamnya.

Ia mengambil kursi kecil dan memanjatinya. Dengan sedikit menggerutu ia membuka penutup belakang jam itu, berniat mengganti baterainya.

Namun ketika jarinya hendak memutar jarum sedikit, ia baru sadar.

Jam itu sudah berdetak.

Tik. Tik. Tik.

Along berhenti sebentar.

“Asuang rupanya…” gumamnya pelan.

Ia menutup kembali penutup jam, turun dari kursi, lalu menggaruk kepalanya—seolah merasa sedikit malu pada dirinya sendiri.

Kesibukan berikutnya datang dari kipas angin tua di sudut ruangan.

Kipas yang sudah lama rewel. Kadang berputar, kadang hanya berdengung seperti orang malas. Tadi pagi ia sudah membongkarnya, dan kapasitornya kini yang ia beli dari kedai Johan menunggu dipasang kembali.

Tangannya bekerja cekatan.

Baut dilepas. Kabel dipasang kembali. Baling-baling diputar perlahan untuk memastikan tak ada yang tersangkut.

Ketika semuanya selesai, ia menekan saklar. Kipas itu berdengung sebentar.

Lalu—

whrrrr…

Baling-balingnya berputar cepat. Angin sejuk segera memenuhi ruangan.

Along menyeringai. Tanpa sadar ia bersiul kecil—nada sederhana, riang, namun terdengar agak aneh di rumah yang lama terbiasa sunyi.

Setelah itu ia menuju dapur.

Ia mencuci beras, menanak nasi, lalu memanaskan kembali lauk siang tadi.

Suara sendok mengenai panci. Suara api kecil dari kompor minyak tanah. Semuanya membentuk irama rumah tangga yang perlahan hidup kembali.

Sepanjang kesibukan itu, Ai Phing dan Ka Thiam tidak tahu harus berbuat apa.

Mereka lebih banyak berdiri atau duduk diam.

Lihat selengkapnya