KA

Rico Tsiau
Chapter #14

Rezeki Anak-anak

Hari-hari mulai berjalan.

Belum lama sejak Along mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah.

Ia membawa berkas dalam amplop kaku. Ka Thiam didaftarkan kembali sebagai murid pindahan di kelas empat SD. Ai Phing ia daftarkan untuk melanjutkan ke jenjang SMP.

Sekolah negeri—tanpa uang pangkal. Hanya seragam sekolah yang perlu disiapkan.

Untuk seragam Ai Phing, Along memilih pembayaran angsuran tiga kali.

Ka Thiam tidak perlu banyak. Seragam SD lamanya masih bisa dipakai karena sekolahnya tetap SD yang sama. Ia hanya perlu satu pasang seragam olahraga dan satu seragam identitas sekolah.

Untungnya istri Johan—lewat Asuang—memberikan pakaian bekas anaknya yang masih bagus. Baju yang diganti hanya karena sudah tak muat lagi bagi anak Johan yang tubuhnya tumbuh cepat.

Perlahan, Along mulai melihat sesuatu.

Bayangan Siu Lan di dalam diri Ai Phing. Versi yang masih rapuh. Namun suatu hari akan menguat.

Sekolah belum dimulai. Dan ketika Along sibuk di bengkel, Ai Phing mulai sibuk di rumah.

Asun yang lewat di depan rumah Along hari itu sempat berkomentar,

“Rezeki anak-anak.”

Dan memang terasa begitu. Seakan langit merestui kedatangan kedua anak itu dengan membuka berkah bagi Along.

Pagi itu dimulai ketika Kahar datang.

Ia baru pulang dari kota seberang mengantar karet dengan pompong. Dari tangannya turun pesanan Along kemarin hari yang ia bantu belikan di kota: dua kotak kawat las, satu kotak batu gerinda potong isi lima puluh, satu kepak batu gerinda asah isi dua belas, dan topeng pelindung baru—yang lama kacanya sudah pecah.

Uang yang Along titipkan padanya masih bersisa.

Tiga puluh ribu. Ia menyerahkannya bersamaan dengan barang-barang.

Tapi Along menyodorkan kembali uang itu pada Kahar.

“Buat beli rokok,” katanya.

Awalnya Kahar menolak, namun karena Along bersikeras, ia menerimanya.

“Thank you,” ucapnya.

Along menyeringai mendengar ucapan bahasa Inggris yang cukup fasih keluar dari mulut Kahar.

Punggung Kahar masih terlihat di ujung jalan ketika Samad—suami Kak Timah—datang membawa sebatang besi as roda gerobak. Besi itu patah di tengah, ujungnya melengkung.

“Long, tolong,” kata Samad.

“Oke,” jawab Along.

Bagian yang melengkung diketok dengan palu sampai lurus. Bagian yang patah dilas berlapis—mengingat itu as roda, harus kuat menahan beban.

Seperti biasa, kerjanya rapi.

Along sendiri tak menyadarinya, tapi mata pelanggan melihatnya dengan kagum. Di tempat lain jarang ada hasil serapi ini.

Tiga puluh lima ribu masuk kantong.

Belum sempat sebatang rokok habis, seorang warga datang lagi.

Kali ini lebih terasa.

Seratus lima puluh ribu rupiah.

Daun kemudi kapal itu sudah keropos. Platnya tinggal menunggu satu dua ayunan lagi pasti lepas. Besi asnya masih bagus, tapi daun platnya perlu badan baru.

Dan Along punya.

Tak sampai satu jam kerja, selesai. Termasuk menghaluskan sudut-sudutnya dengan gerinda asah.

“Tak bisa kurang, Long?” tanya Hasmawi penuh harap.

“Tak bisa, Wi,” jawab Along dengan nada prihatin.

“Itu masih harga lama. Harga plat besi sekarang naik gila-gilaan.”

Hasmawi paham. Ia juga melihat usaha Along tak kecil, dan kerjanya rapi. Ia membayar seratus lima puluh ribu, tunai.

Hasmawi bahkan belum sempat memikul daun kemudi yang baru dipermak itu ketika dua orang datang lagi.

Satu membawa kuali aluminium.

“Yang ini bisa dilas, Long?” tanya Joyah penuh harap.

Along tergelak.

“Tak bisa, Kak Joyah.”

“Lho, kok tak bisa? Kan besi juga.”

Along terpaksa menjelaskan. Besi dan aluminium itu berbeda. Cukup lama sampai Joyah akhirnya mengerti bahwa kawat las biasa tidak bisa bekerja pada aluminium yang membutuhkan bahan dan teknik las yang lain—yang tidak dimiliki Along.

Lihat selengkapnya