KA

Rico Tsiau
Chapter #15

Jarak yang Tak Terucap

Tadinya Along berdecak nyaris tak terdengar ketika Ka Thiam ingin ikut ke warung makan membeli lauk untuk makan siang. Tapi sekarang…

“Eh, dah besar anakmu, Long.”

“Tengok matanya, cerdas budak ni.”

“Memang asli keturunan kau, Long. Mirip.”

Ada rasa hangat mengisi dada Along ketika orang-orang mengomentari Ka Thiam di depan matanya. Rasa yang tak pernah ia rasakan sejak lama—kebanggaan sederhana yang tak perlu dibumbui kata-kata.

Ka Thiam juga bersikap manis. Ia tak banyak menuntut, bahkan ketika penjaja es krim keliling lewat di depan mereka.

Nyaris tanpa berpikir Along berteriak memanggil abang es krim dari kampung tetangga itu. Sepeda motor itu berhenti, lalu berbelok dan diparkirkan dekat orang yang memanggilnya.

“Es krim, bos?” tanyanya ramah.

“Ya,” jawab Along sambil melirik Ka Thiam yang tampak senang.

“Cicimu suka es krim?” tanyanya.

Ka Thiam mengangguk.

“Ya. Yang rasa stroberi dan coklat.”

Along mengangguk lagi.

“Kamu? Kamu suka rasa apa?”

“Sama,” jawab Ka Thiam sambil nyengir.

Along tersenyum. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya—bahwa anak ini, yang hampir tak ia kenal, ternyata memiliki kesukaan yang sama dengannya.

“Es krim dua. Campur—stroberi dan coklat. Wadah gelas plastik,” katanya memesan.

Abang penjual bekerja cepat. Sekelip mata dua pesanan sudah siap.

Along bahkan belum sempat membayar ketika Ka Thiam sudah menyendok es krimnya.

“Enak,” pujinya polos.

Along tersenyum sambil membayar sepuluh ribu rupiah untuk dua es krim. Lalu mereka meninggalkan penjual yang kembali menutup kotak kayu di belakang sepeda motornya.

Sejenak Along berdiri diam.

Ia melihat Ka Thiam berjalan sambil melompat kecil, sibuk mencicipi es krimnya. Untuk pertama kalinya Along melihat bocah itu bersikap riang tanpa kekakuan.

Sederhana saja.

Hanya es krim.

Namun Along menyimpan momen itu diam-diam di dalam hatinya. Kemarin Ai Phing tampak tak begitu menikmati es tebu. Kali ini ia bisa bertanya—meski bukan langsung pada orangnya—seharusnya tak salah lagi.

Semoga Ai Phing memang suka es krim stroberi-cokelat, pikirnya sambil menatap es krim di gelas plastik di tangannya.

“Thiam, cepat,” serunya pada Ka Thiam.

“Nanti es Cici-mu cair.”

Ka Thiam menjawab tak jelas karena mulutnya mengemut dingin es krim, tapi manggutnya meyakinkan. Ia berlari kecil menuju rumah yang sudah tak jauh lagi.

Along berdecak, tapi tersenyum tipis. Kantong plastik berisi lauk berayun mengikuti langkahnya yang cepat.

 

Lihat selengkapnya