KA

Rico Tsiau
Chapter #16

Matahari Baru

Malam itu di teras rumah Along—yang bohlamnya baru diganti—Aciam datang. Setelah basa-basi ringan, ia langsung sampai pada tujuannya.

“Long, kurang kaki nih,” keluhnya.

“Padahal cuma mau main kecil.”

“Aku tak bisa,” jawab Along.

Sebenarnya ia ingin pergi. Namun ia berkata lagi, “Anak-anak belum terbiasa di kampung.”

“Paling sampai jam sepuluh saja. Anakmu juga bukan lagi anak kecil. Ditinggal sebentar kan tak apa-apa,” rayu Aciam.

Along menghela napas.

Uang ada. Pemasukan hari ini besar. Sudah banyak malam ia tak minum dan tak main. Pasti seru kalau main kecil sambil minum sedikit di malam dingin seperti ini.

Tapi…

“Kalian duluan saja. Kalau sempat aku susul,” katanya.

“Ah, kalau kau bilang begitu pasti tak muncul,” tukas Aciam.

Along berdecak.

Hanya sampai jam sepuluh. Tak larut amat. Mestinya anak-anak tak bakal takut kalau ditinggal sebentar.

“Ermm…”

“Ayolah,” desak Aciam lagi. Matanya tiba-tiba teralihkan ke ujung jalan yang gelap. Samar-samar ia melihat seseorang berjalan mendekat.

“Kenapa tak ajak Johan saja?” tanya Along, masih mencoba menghindar. Ia juga melihat orang yang datang itu.

“Johan pergi. Istrinya bilang belum pulang,” jawab Aciam.

“Ah, Asun ternyata,” tambahnya ketika orang itu makin dekat.

Asun muncul di teras.

“Johan aku lihat barusan pulang,” katanya. Ternyata ia sempat mendengar percakapan mereka.

“Bagaimana kau tahu?” tuntut Aciam.

Asun mengangkat tangannya, memperlihatkan kantong plastik berisi setengah lusin bir.

“Dia pergi beli bir. Di depan rumahnya tadi berhasil aku pajak enam,” katanya bangga.

“Long, ada es batu? Gelas besar tiga.”

Ia mengangkat kantong plastik itu tinggi-tinggi.

“Minum di tempatku saja sambil main?” usul Aciam.

“Enam kaleng mana tahan lama,” tukas Asun.

Aciam menghela napas. Ia kembali melirik Along.

“Kau ajak Johan saja. Aku besok-besok saja,” kata Along sebelum ia sempat diajak lagi.

Sekali lagi Aciam menghela napas.

“Ya sudah. Aku ajak Johan saja kalau begitu.”

“Tak minum dulu?” tawar Asun.

“Tak sempat. Keburu larut malam,” sahut Aciam sambil berbalik pergi.

Ia berjalan menuju rumah Johan, tangannya melambai sekenanya pada Along dan Asun seolah berkata: bye.

Asun mengangkat bahu.

“Gelas dua saja kalau begitu.”

Ia menyengir pada Along.

Along tertawa kecil.

Ia berjalan cepat ke dapur, melewati Ai Phing dan Ka Thiam yang sedang menonton TV.

Serial kartun Jepang, gumamnya dalam hati ketika melihat layar cembung itu.

Ai Phing masih suka menonton kartun?

Atau hanya menemani Ka Thiam?

Entahlah. Along juga tak terpikir untuk bertanya.

Ketika papanya berjalan melewati, Ai Phing melirik. Awalnya sekilas, lalu memperhatikan.

Gelas.

Kulkas.

Ia tahu dari kasak-kusuk tadi—di depan ada tamu.

Papa mau menyajikan sirup?

Sirup itu…

Lihat selengkapnya