KA

Rico Tsiau
Chapter #17

Cara Lain

Along bangun pagi-pagi. Jam kecil di meja samping kasurnya menunjukkan pukul enam. Samar-samar ia mendengar suara air dari belakang rumah.

Suara pakaian dibasahi, digosok, lalu dikucek.

Ia langsung tahu itu Ai Phing yang sedang mencuci baju.

Along belum juga bangun. Ia bahkan belum membuka jendela. Lama ia terbaring diam.

Jam berapa Ai Phing bangun?

Pertanyaan itu berputar di kepalanya.

Pagi masih dingin, dan suara cucian itu terus terdengar dari belakang. Sesekali air terciprat ke lantai semen, lalu suara kain diperas.

Along tenggelam dalam pikirannya.

Soal mencuci ini…

Sekarang Ai Phing masih bisa melakukannya pagi-pagi seperti ini. Tapi nanti kalau sekolah sudah mulai?

Kasihan gadis itu.

Jam berapa ia harus bangun nanti? Jangan sampai sekolahnya terganggu. Waktu istirahatnya pasti jadi sangat sedikit.

Belum lagi soal sarapan setiap pagi. Belum lagi urusan menyapu dan mengepel lantai.

Untuk pertama kalinya Along benar-benar memikirkan semuanya dengan jujur. Untuk pertama kalinya ia benar-benar mau.

Berapa sebenarnya penghasilan bengkel lasnya?

Bisakah ia menggaji seorang pembantu harian?

Tak perlu yang tinggal di rumah. Hanya seseorang yang datang pagi-pagi, mencuci baju dan menyapu rumah.

Berapa gaji yang pantas?

Dan siapa orangnya?

Sarapan sebenarnya bisa dibeli. Walau itu juga akan terasa berat di pengeluaran. Atau mungkin sesekali ia bisa bangun lebih awal dan memasak sendiri sesuatu yang sederhana.

Mi instan. Bihun goreng. Nasi goreng. Atau sekadar roti dengan telur dadar.

Ah… kembali lagi ke soal baju.

Kalau urusan mencuci dan menjemur ada yang mengerjakan, tentu harus dibayar. Mengangkat jemuran dari tali, Along tak keberatan. Itu mudah.

Tapi menyetrika…

Ia tak pandai.

Dan entah kenapa pekerjaan itu terasa sangat berat baginya. Padahal kalau dipikir-pikir, tak ada benda yang lebih berat daripada plat besi yang sering ia angkat di bengkel.

Namun menyetrika berbeda. Pekerjaan itu butuh kesabaran yang lain. Ketelatenan yang tak sama.

Begitu pikirnya.

Masalahnya, penghasilan bengkel lasnya tak menentu. Kadang sekali dapat pekerjaan bisa lumayan besar. Kadang seharian penuh tak ada satu pun pelanggan. Bahkan pernah dalam seminggu kawat las yang terpakai tak lebih dari tiga batang.

Masalah utang malah ikut datang menekan pikirannya.

Asun.

Satu juta enam ratus.

Johan.

Tujuh ratus ribu.

Jumlah itu sebenarnya sudah berkurang dari sebelumnya yang hampir menyentuh dua juta. Lebih dari separuhnya dulu berasal dari kekalahan main kartu.

Sisanya pinjaman kecil-kecil yang menumpuk. Seratus ribu untuk beli rokok. Lima puluh untuk minyak tanah… dan rokok. Tujuh puluh untuk saklar lampu… dan juga rokok.

Kemarin malah sempat menitip Johan beli sebotol kecil Sipcuanciu. Pembayarannya tentu saja ditunda.

Belum lagi utang di kedai.

Beberapa kedai.

Tak besar jumlahnya. Bahkan ia sendiri sudah lupa berapa. Ia hanya percaya pada catatan orang kedai.

Siapa lagi? Along tak benar-benar ingin mengingatnya sekarang. Dadanya makin sesak karenanya.

Belum lagi tagihan listrik.

Belum lagi—

Ah.

Masa bodoh.

Dari belakang rumah kembali terdengar suara keciprak air. Ai Phing rupanya masih belum selesai mencuci.

Along akhirnya menghela napas panjang. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

Lihat selengkapnya