Hari itu, kunjungan Asuang bukan sekadar membagikan harum ikan lampai asam manis yang masih hangat dalam mangkuk stainless kebanggaannya. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat Along lebih sering berdecak, lebih keras pula.
Empat ratus ribu rupiah yang tadi disodorkan Along ditolak mentah-mentah.
“Biar aku saja,” kata Asuang ringan, seakan perkara itu kecil saja.
Decak Along langsung terdengar.
“Hitung-hitung hadiah buat keponakanku,” tambahnya lagi, menghindari tatapan abangnya yang mulai tajam.
Hadiah itu bukan kecil. Peralatan sekolah lengkap: alat tulis, buku, tas, bahkan sepatu baru. Semua untuk Ai Phing dan Ka Thiam.
Ai Phing langsung merasa tak enak hati. Ia melirik papanya, diam-diam, seperti meminta izin. Tapi Along hanya melengos ke arah lain, seakan tak ingin ikut campur. Maka gadis itu menoleh kepada Ako-nya—tante, adik perempuan papa-nya.
“Sepatu tak usah,” katanya pelan. “Yang lama masih bisa pakai. Tas sekolah juga masih bagus.”
Asuang menatapnya sejenak. Ia tidak langsung menjawab.
“Aku lihat dulu,” katanya akhirnya.
Mereka masuk ke kamar. Tak lama kemudian Asuang keluar lagi dengan tas itu di tangan. Senyumnya tipis. Ia tahu Ai Phing hanya menjaga perasaan. Atau mungkin menjaga muka papanya.
Sepatu yang katanya “masih bisa pakai” ternyata sudah sempit. Ujungnya menekan jari. Tas yang katanya “masih bagus” sudah kusam, ritsletingnya macet-macet seperti enggan menutup, melawan kalau dibuka.
Bagi anak yang terbiasa menahan diri, itu semua mungkin masih layak.
Tapi bagi Asuang, jawabannya jelas.
“Harus beli baru.”
Keputusannya tegas. Tak ada tawar-menawar. Tak ada ruang untuk menolak.
Ai Phing hanya menunduk. Sedangkan Ka Thiam sama sekali tak pandai menyembunyikan kegembiraannya. Mata bocah itu berbinar.
Tas baru. Sepatu baru.
Ia hampir saja melonjak kegirangan—tapi batal ketika Ai Phing melotot padanya diam-diam. Satu lirikan dari kakaknya cukup untuk membuatnya menarik napas dan menahan diri, meski kakinya masih gelisah menahan senyum.
Along hanya bisa menghela napas saat melihat Asuang membawa kedua anak itu keluar rumah.
“Kami bakal lama,” kata Asuang sebelum pergi.
Sepeda motornya meluncur pelan menuju ujung Pasar Minggu.
Along berdiri sebentar di depan bengkel.
Heran juga, pikirnya. Apa dia tak punya kerjaan di rumah? Bisa-bisanya sempat mengurus perlengkapan sekolah anak orang.
Lalu sebuah pikiran lain datang padanya, lebih pelan. Lebih jujur.
Jujur saja… kalau hari ini Asuang tak datang, mungkin aku juga tak ingat soal ini.
Along berdecak sekali lagi. Lalu kembali pada pekerjaannya.
…
Namun Asuang ternyata tidak langsung mengajak mereka ke toko. Ia berhenti di sebuah lapak kecil di tepi pasar.
“Kita makan rujak dulu, ya.”
Ai Phing mengangguk. Ia tak enak menolak.