KA

Rico Tsiau
Chapter #19

Irama Baru

Kerjanya cepat, itu benar. Rapi, bersih, itu juga tak salah. Bahkan ia pandai menghemat sabun dan air di tempatnya bekerja—tak pernah membiarkan keran mengalir lebih lama dari yang perlu. Pujian-pujian kecil itu memang berdasar.

Dan bisik-bisik yang lain—bahwa celotehnya ceplas-ceplos, suka ikut campur seakan tak perlu sungkan, seakan ia bagian dari anggota keluarga majikannya—itu pun tak meleset.

Ya, itulah Kho Bi Ling. Orang-orang memanggilnya Ayi—tante.

Tubuhnya kecil, langkahnya ringan, tapi tangannya cekatan seperti orang yang sudah puluhan tahun mengerjakan pekerjaan yang sama. Rambutnya disanggul sederhana, menyisakan beberapa helai uban yang tak pernah benar-benar ia pedulikan.

Pagi itu ia datang ketika matahari baru naik sedikit dari balik atap-atap seng di depan rumah Along.

“Along!” serunya, melihat pintu depan masih tertutup.

Di dalam rumah, Along mengangkat kepala. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum melihat orangnya.

Di depan teras berdiri Kho Bi Ling, menepuk-nepuk ujung sandalnya ke tanah, seolah mengusir debu yang menempel.

“Asuang bilang aku boleh mulai hari ini,” katanya tanpa banyak basa-basi.

Along mengangguk.

“Masuk saja,” katanya pendek.

Bi Ling tak menunggu dua kali. Ia melangkah masuk dengan sikap seperti orang yang sudah mengenal rumah itu sejak lama, padahal sebenarnya baru pertama kali bekerja di sana.

“Pakaian kotor di mana?” tanyanya langsung.

Along menunjuk ke arah dapur belakang.

“Di ember sana.”

“Hmm.”

Ia berjalan ke sana, membuka tutup ember, lalu mulai memeriksa isinya dengan gerakan yang terlatih. Pakaian dipisahkan: yang putih ke satu sisi, yang berwarna ke sisi lain.

Beberapa detik kemudian ia berseru kecil.

“Eh.”

Ia mengangkat sesuatu dari saku celana kecil milik Ka Thiam.

Dua keping uang logam.

Bi Ling berjalan ke samping, meletakkannya begitu saja di atas meja di sudut. Tak begitu peduli apakah nanti sang tuan akan menemukannya atau tidak.

Tapi Along melihatnya.

Tanpa komentar.

Bi Ling sudah kembali ke pekerjaannya bahkan sebelum Along sempat berkata apa-apa lagi. Ember diangkat, sabun disiapkan, dan air mulai dipenuhi bunyi gemericik.

Tak lama kemudian suara lain terdengar dari dalam rumah. Ka Thiam muncul di ambang pintu dengan rambut yang masih agak berdiri—sisa potongan baru kemarin yang belum sepenuhnya ia terima.

Ia memandang perempuan yang sedang mencuci itu dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan.

“Ini siapa?” bisiknya pada Ai Phing yang berdiri di belakangnya.

Ai Phing mengangkat bahunya—tanda ia juga tak kenal.

Keduanya lalu melirik ke papa mereka.

“Ayi Bi Ling,” kata Along pelan.

Bi Ling menoleh, mendengar namanya disebut.

“Ah!” katanya riang. “Ini Ai Phing dan Ka Thiam ya?”

Kedua anak itu tertegun.

“Kok tahu?” Ka Thiam bertanya refleks.

Bi Ling tertawa kecil.

“Dulu waktu kalian masih kecil sekali aku pernah lihat. Sekarang sudah besar.”

Entah benar atau tidak, Ai Phing dan Ka Thiam tak memikirkannya. Ka Thiam lalu masuk kamar mandi. Ai Phing tetap berdiri di situ, memperhatikan cara perempuan itu bekerja.

Tangan Ayi Bi Ling bergerak cepat, tapi tidak terburu-buru. Setiap pakaian dikucek dengan teliti, seolah masing-masing punya cerita sendiri yang perlu dibersihkan dari debu dan keringat hari-hari sebelumnya.

Sesekali ia menyenandungkan lagu lama—lagu Hokkien yang nadanya naik turun seperti ombak kecil.

Ai Phing gantian masuk kamar mandi setelah Ka Thiam. Dari dalam ia masih mendengarnya. Nyanyian Ayi itu terdengar makin riang.

Suara itu asing.

Namun entah mengapa membuat rumah terasa sedikit berbeda. Seolah ada seseorang yang membawa irama lain ke dalam pagi mereka.

Ia lalu teringat.

Inikah cara lain yang papanya maksudkan kemarin?

Diam-diam Ai Phing tersenyum.

Ia tak lagi perlu mencuci baju. Dan mungkin saja tugas Ayi Bi Ling juga menyapu dan mengepel lantai, seperti pembantu rumah pada umumnya.

Tapi bukan itu. Senyumnya tak melulu hadir dari situ.

Ada sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang bahkan ia sendiri belum mampu merangkumnya dalam kata.

Tatapan bersalah papanya tiap melihatnya mencuci pakaian. Apakah itu juga tatapan peduli?

Dan ini wujud dari… entah bagaimana mengucapkannya… mungkin sebuah bentuk perhatian.

Ai Phing bingung merangkumkannya, bahkan di dalam hati.

Lihat selengkapnya