Menu makan malam itu ikan belanak goreng, pemberian Ujang, tetangganya.
Hasil tangkapan hari ini lumayan, begitu kata Ujang ketika tadi sore datang membawa dua ekor ikan yang masih segar. Sisiknya bahkan masih berkilau ketika Ai Phing membersihkannya di dapur.
Ujang datang bukan sekadar membawa ikan. Ia juga membawa kabar. Sepupunya yang tinggal di ujung kampung ingin memakai jasa Along. Rumahnya baru saja direhab, dan ada teralis jendela yang butuh tangan orang yang paham besi.
Tak banyak. Tiga teralis saja.
Tapi Along tetap senang. Ia kenal Hasan, sepupu Ujang itu. Soal uang, orangnya tak pernah pelit hitungan.
“Besok, sambil antar anak-anak sekolah, aku singgah ke Hasan,” katanya tadi pada Ujang.
Sekarang, selagi duduk di meja makan kecil mereka, senyum Along belum juga lepas dari wajahnya.
Ka Thiam menikmati ikan belanak itu dengan lahap. Ai Phing sudah membersihkan dagingnya dari tulang-tulang halus sebelum meletakkannya ke piring adiknya.
Bocah itu memandang potongan ikan di sendoknya dengan puas.
“Ikan apa ini? Enak,” katanya.
“Ikan belanak,” jawab Along.
“Ha? Beranak?”
“Be-la-nak,” Ai Phing membenarkan sambil menahan senyum.
Sejenak mereka saling pandang. Lalu ketiganya tertawa kecil. Tawa ringan yang mengalir begitu saja, tanpa perlu alasan besar.
Hari itu seakan berjalan sempurna.
Seolah-olah masalah yang selama ini menumpuk memilih minggir sebentar dari rumah kecil itu. Atau barangkali mereka akhirnya menemukan jalan keluarnya satu demi satu.
Dimulai dari kemunculan Ayi Bi Ling pagi tadi—yang ternyata tak banyak bicara seperti yang Along bayangkan. Tapi tangannya cekatan, dan rumah terasa lebih ringan ketika ia selesai bekerja.
Lalu pakaian yang sudah tersetrika rapi oleh Ai Phing.
Percakapan di petang hari juga berjalan tanpa kekakuan yang biasanya membuat Along cepat kehabisan kata.
Keperluan sekolah yang telah siap semuanya.
Dan, sekarang makan malam ini.
Ikan dari Ujang benar-benar segar. Dagingnya manis, gurih, dan renyah di bagian kulitnya. Namun lebih dari rasanya, suasana makan itu sendiri terasa berbeda.
Lebih cair.
Lebih hangat.
Dan di kepala Along, satu hal lain terus berputar.
Pekerjaan baru. Tiga teralis jendela. Bagi orang lain mungkin tak besar. Tapi bagi Along, itu cukup untuk membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Upahnya tak kecil. Cukup untuk menutup beberapa keperluan rumah yang selalu datang tanpa permisi.
Along memandang kedua anaknya yang sedang makan.
Ka Thiam masih sibuk memisahkan nasi dengan ujung sendoknya. Ai Phing makan pelan, seperti biasa, tapi wajahnya terlihat lebih cerah dari beberapa hari lalu.
Di luar rumah, malam mulai turun perlahan. Angin kampung membawa bau tanah dan daun-daun yang mulai lembap.
Along mengambil potongan ikan terakhir di piringnya.
Lalu tanpa sadar ia kembali tersenyum.