KA

Rico Tsiau
Chapter #21

Terlihat

Di hari pertama itu, enam guru berpakaian batik berdiri di gerbang sekolah, menyambut anak-anak yang datang satu per satu.

Along memarkirkan sepeda motornya agak jauh. Di depan gerbang sudah ramai—anak-anak mengantre untuk menyalami para guru.

Ka Thiam sangat antusias.

“SD Negeri nol satu empat,” bacanya keras-keras dari plang kusam di samping gerbang.

Ia langsung turun dari motor. Matanya menjelajah ke mana-mana—anak-anak berlarian, penjual es lilin, ada yang membawa bola plastik, dan seorang anak seumurannya yang menjinjing sepatu, telapak kakinya bengkak entah kenapa.

Ia ingin langsung menyatu.

“Pa, aku duluan,” katanya tanpa berpaling.

Along berdecak.

“Jangan nakal. Dengarkan gurumu,” pesannya.

Ka Thiam menjawab tak jelas.

“Ingat, kau kelas empat. Bilang sama guru—siapa saja yang kau jumpai. Katakan kau murid pindahan, tanya kelasmu,” tambah Along.

Ka Thiam sudah berjalan setengah jalan, lalu berbalik.

“Tenaaang…” jawabnya meyakinkan.

Tangannya melambai.

Along hampir mendelik melihat tingkahnya yang tak sabaran, tapi akhirnya hanya tersenyum tipis, membalas lambaian itu.

Tak jauh dari situ, Ka Thiam sudah bergabung dengan antrean. Ia berdiri di samping anak berkaki bengkak tadi.

Entah apa yang mereka bicarakan, Along tak mendengar. Tapi dari gerak mulut dan tawa kecil itu, ia tahu—kaki bengkak itu jadi bahan cerita pertama mereka.

Sambil memutar gas, Along tersenyum.

Ka Thiam boleh juga, pikirnya. Cepat akrab.

Tak sampai lima menit, mereka tiba di bangunan SMP—satu-satunya di Bakau Panjang.

Berbeda dengan adiknya, Ai Phing turun dengan lebih pelan.

Ia tampak tenang, tapi ada gugup yang tipis di matanya. Tangannya memegang erat tali tas, seperti mencari pegangan di tempat yang belum ia kenal.

Ia memperhatikan hal-hal kecil—cat gedung yang mulai pudar, papan nama sekolah, suara anak-anak yang riuh, dan beberapa murid baru yang masih mengenakan seragam SD.

Semua terasa asing.

Beberapa anak meliriknya. Ada yang saling berbisik, ada yang hanya mengangkat bahu—tanda tak kenal.

Ai Phing menunduk sedikit.

Along tak melihat orang tua lain yang mengantar sampai masuk. Ia pun berhenti di gerbang saja.

“Nanti papa jemput,” katanya singkat.

“Tak usah,” jawab Ai Phing.

Along mengernyit.

“Nanti aku jalan kaki saja,” lanjut Ai Phing. “Aku sama Ka Thiam sudah biasa. Nanti aku mampir ke SD, pulang sama dia.”

Along diam sejenak. Hari pertama. Ia ingin mengantar. Ingin menjemput. Ingin memastikan anak-anaknya baik-baik saja di dunia baru yang belum ia kenal.

“Tak apa. Papa jemput saja,” katanya akhirnya, tegas.

Ai Phing mengenal nada itu. Tak ada ruang untuk menolak.

Lihat selengkapnya