KA

Rico Tsiau
Chapter #22

Dunia Baru

Salma—atau Sally—dan Siau Cin tak memberi waktu bagi Ai Phing untuk merasa sendirian.

Segera setelah itu, beberapa anak lain datang—atau lebih tepatnya, diseret Salma mendekat.

Satu per satu.

Siau Cin dan Salma bergantian memperkenalkan Ai Phing pada mereka.

Ada Januardi yang dipanggil Buntal—entah kenapa, padahal tubuhnya tak bulat seperti ikan buntal. Amat si rambut keriting. Malim, anak nelayan yang lebih banyak diam tapi mudah tersenyum kalau disapa. Susilawati, gadis galak dengan tahi lalat di pipi kiri. Bi Le dengan alis tebalnya yang mencolok. Dan Heru, kalau tak salah papanya telah mengatakannya padanya semalam.

Dan masih banyak lagi.

Terlalu banyak.

Ai Phing berusaha mengingat semuanya, tapi nama-nama itu perlahan lepas satu per satu. Hanya beberapa yang tertinggal—yang cukup kuat untuk menancap.

Buntal dan Amat, yang tampaknya sudah ditakdirkan jadi biang keributan.

Malim, yang diam tapi hangat.

Dan Herman.

Yang entah bagaimana langsung disepakati semua orang—terutama anak-anak cewek—sebagai cowok paling tampan di kelas.

Namun lebih dari itu, Ai Phing menyadari satu hal.

Ia tak pernah benar-benar sendiri.

Siau Cin di satu sisi. Salma di sisi lain. Seperti dua pengawal cerewet yang tak ingin ia tersesat di hari pertamanya.

Jelas sekali—di kelas ini, hanya Ai Phing yang benar-benar wajah baru. Sisanya sudah saling kenal sejak SD.

Menurut Siau Cin, seharusnya jumlah murid lebih banyak.

“Tapi banyak yang pindah ke kota,” katanya.

Salma mengangguk. “Atau ikut keluarga ke kampung lain.”

Yang tersisa hanya tiga puluh delapan.

Ditambah Ai Phing—jadilah tiga puluh sembilan.

Pak Kamaruddin adalah wali kelas mereka.

Menurut Salma, usianya sekitar empat puluhan.

Siau Cin setuju.

Ai Phing hanya mengangguk.

Dalam kesannya yang pertama, Pak Kamar adalah guru yang tegas. Kumis lebatnya seakan mempertegas wajahnya yang kaku, dengan sorot mata yang tajam.

“Katanya galak,” bisik Siau Cin pelan.

“Masa?” Salma menyipitkan mata ke arah depan, seolah bisa menilai lebih dalam hanya dengan menatap demikian.

“Ada anak kelas dua bilang begitu,” lanjut Siau Cin.

Di depan, Pak Kamar sedang berbicara.

Tentang ketua kelas.

Bahwa ia tak setuju memilih ketua di hari pertama. Bahwa seorang guru perlu waktu mengenal muridnya—paling tidak seminggu, mungkin dua—sebelum menentukan siapa yang pantas memimpin.

Baru setelah itu, katanya, nama-nama diajukan. Lalu kelas memilih.

“Lihat cara dia bicara,” bisik Siau Cin lagi. “Galak, kan?”

“Psst…” Salma memberi tanda.

Mereka yakin pandangan Pak Kamar sempat mengarah ke mereka.

Beberapa detik. Lalu berlalu.

“Aku setuju,” bisik Salma lagi. “Galak.”

Ai Phing tak bisa menahan senyumnya.

Dua anak ini… tak bisa diam. Bahkan di depan guru. Dan entah kenapa—ia menyukainya.

Hari pertama yang menyenangkan. Lebih dari yang ia bayangkan.

Saat jam istirahat tiba, Salma sudah menariknya lagi.

“Kita ke kantin!”

Siau Cin berjalan di samping mereka.

“KANTIN SEHAT—Kebersihan adalah yang utama,” bacanya keras-keras dari plang kayu di atas.

“Boleh tahan,” komentar Salma.

“Bedelau-delau,” timpal Siau Cin.

Lihat selengkapnya