KA

Rico Tsiau
Chapter #23

Kenangan Yang Bisu

“Papa punya pekerjaan di luar, kalian jaga rumah.”

Selepas makan siang, itu saja pesan Along. Singkat. Seperti biasa.

Ia tak menunggu balasan panjang. Travo las dan gerinda sudah lebih dulu ia angkat. Langkahnya cepat, seolah waktu sedang menunggu di luar pagar.

Samar-samar Ai Phing mendengar suaranya di luar teras yang seperti gumaman.

“…teralis jendela… Hasan… jauh…”

Lalu suara mesin motor menjauh, perlahan hilang di tikungan.

Rumah kembali sunyi. Tidak kosong—hanya… menggantung.

Ai Phing berdiri sebentar di ambang pintu.

Jam tiga.

Janji itu terlintas lagi. Rumah Salma. Tawa di bawah pohon tadi, dan tawa nanti.

Semua itu… selesai bahkan sebelum dimulai.

Ia tidak berkata apa-apa. Tak bisa. Hanya menarik napas kecil, lalu membiarkannya pergi begitu saja.

Di teras, Ka Thiam sudah kembali ke dunianya sendiri.

Mobil-mobilan plastik beradu pelan di lantai kayu. Sesekali ia membuat suara mesin dengan mulutnya, seakan jalan kecil di kepingan lantai papan itu benar-benar hidup.

Ai Phing tak punya kegiatan.

Rumah terlalu rapi untuk dibersihkan. Pakaian sudah dicuci; sudah ada yang cuci. Lantai sudah dipel.

Praktis ia hanya menunggu jemuran, sebentar lagi akan ia angkat kalau sudah kering sempurna.

Dan waktu… terasa panjang.

Seperti sore yang belum datang tapi sudah terasa.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki masuk ke halaman.

“Thiam…” seru seseorang.

Asuang… Ai Phing mengenal suara Ako atau tantenya.

“Ako,” Ka Thiam berseru senang melihat kedatangan Asuang.

Datang seperti biasa—ia datang tanpa perlu undangan. Dan seperti biasa, hari itu ia membawa sesuatu: kacang pukul atau di daerah lain disebut kacang tumbuk—makanan khas Bagan Siapi-api.

Kacang yang harum, di tumbuk halus, manis, dan karamelnya lengket di gigi.

Ia melangkah masuk teras, menoleh ke kiri dan kanan, lalu berhenti di depan Ka Thiam. Bocah itu berhenti main, satu mobil truck plastik terangkat di tangannya.

“Mana Papa kalian?”

“Papa pergi,” Ka Thiam menyahut. “Ada kerja, katanya.”

Asuang tersenyum, mengangguk-angguk.

“Nah lihat… apa yang Ako bawa,” ia memamerkan satu bungkus besar kacang pukul yang ia bawa.

“Whuaa…” Ka Thiam tak sungkan lagi, tangannya segera menyambar kantong besar itu.

Asuang tertawa kecil melihatnya. Sama sekali tak mempermasalahkan keponakannya itu sampai lupa mengucapkan terima kasih.

“Mana Cici-mu?” tanyanya.

Tapi Ai Phing sudah keluar ke teras, menyapa tantenya.

“Ako.”

“Ah, Phing,” Asuang menyambutnya. “Kalian makan apa hari ini?”

Pertanyaan biasa, mungkin basa-basi pembuka, atau memang kepedulian seorang tante.

“Ikan tongkol,” Ka Thiam menyahut cepat, sambil berusaha membuka kantong plastik berisi kacang pukul itu.

“Tak enak, keras,” sambungnya lagi.

Ai Phing segera ambil alih.

“Hari ini Papa banyak kerja, hanya sempat tanak nasi, lauknya dia beli di warung.”

Sejenak itu juga, Asuang dapat menangkap nada suara yang diucapkan terburu-buru itu, seakan gadis kecil itu membela atau mungkin menjaga sesuatu, seakan menjelaskan bahwa itu hal yang wajar, bahwa mereka tak terlantar.

Asuang tak menatap Ai Phing lebih lama, ia paham.

Selanjutnya obrolan mengalir ringan. Tentang hari pertama sekolah, tentang kawan baru. Ka Thiam nyaris tersedak kacang pukul ketika ia mengisahkan kawan barunya, Juned, yang kakinya disengat ikan sembilang.

“Nah, jangan main di pantai bakau ya,” pesan Asuang pada Ka Thiam.

“Kenapa?” Ka Thiam bertanya ringan.

Asuang dengan sabar menjelaskan.

“Banyak hewan beracun di sana, tuh… kawanmu siapa namanya tadi? Kena sengat, kan? Belum lagi ular… kadang kepiting bakau; jepitan capitnya sakit.”

Asuang berhenti sejenak, memastikan Ka Thiam menyerap penjelasannya. Ia  kemudian melanjutkan dengan lebih pelan.

“Pernah ada yang kakinya sobek kena kaca tajam, di pantai bakau itu banyak yang buang piring atau gelas yang pecah.”

Ka Thiam mengangguk-angguk. Sepertinya bocah itu paham dengan penjelasan tantenya, dan dapat menerima larangan bermain di sana.

Asuang tiba-tiba teringat sesuatu.

“Ako mau tunjukkan sesuatu,” katanya.

Ia bergegas ke pintu kamar di samping. Yang selalu tertutup. Tangannya terangkat. Mengambil anak kunci dari beroti kusen di atasnya.

Sedikit ragu.

Lalu…

Klek!

Pintu itu terbuka. Debu tipis menyambut, menari pelan di udara yang jarang diganggu.

Ai Phing berdiri di belakangnya. Ka Thiam penasaran, ia ikut.

Mengintip.

Lihat selengkapnya