Waktu berlalu bersama hembusan angin asin yang membawa aroma lumpur dari barisan bakau. Ada hari yang terasa panjang—menarik napasnya sendiri, pelan dan berat—tapi ada juga hari-hari yang mengalir begitu saja, seperti air pasang yang datang tanpa diminta, lalu surut tanpa sempat disadari.
Di sela-sela hari yang berjalan itu, tak ada berubah dengan cara yang besar—tak ada peristiwa yang mengguncang, tak ada kabar yang benar-benar mengubah arah.
Namun tak ada yang mampu menahan sesuatu yang diam-diam bertumbuh.
Di antara suara sapu Ayi Bi Ling setiap pagi, di antara tawa kecil Ka Thiam yang makin sering pecah, di antara langkah Ai Phing yang mulai ringan menuju sekolah, dan di antara decak Along yang kini tak selalu terdengar keras—rumah itu pelan-pelan belajar bernapas kembali.
Tidak! Tak mungkin sempurna.
Tak juga utuh seperti dulu.
Namun pagi itu…ada sesuatu yang terasa lain.
Pagi ketika hujan turun tanpa aba-aba. Langit yang tadi masih terang mendadak runtuh, air seperti ditumpahkan dari atas sana tanpa jeda.
Along tergopoh di dalam rumah.
“Payung di mana pula…” gerutunya.
Ia membongkar kamar belakang—ruangan yang sejak lama berubah jadi gudang. Kardus tua, ember retak, potongan perkakas tua, semua berserakan. Dan seperti biasa, barang yang paling dibutuhkan justru paling pandai bersembunyi.
“Ih… tadi masih terang, sekarang hujan macam tumpah dari langit,” keluhnya lagi, lebih keras.
Ka Thiam berdiri di dekat pintu, memandangi hujan yang jatuh deras seperti tirai.
“Pa… tunggu saja hujannya berhenti dulu,” katanya.
Along berdecak.
“Mana boleh. Nanti kalian terlambat.”
Nada itu… sedikit berbeda. Ada sesuatu yang tergesa di dalamnya. Sesuatu yang hampir mirip cemas.
Ai Phing memperhatikannya. Ia dapat merasakannya.
Cara papanya membalik kardus, cara ia menggerutu pelan, cara ia seolah berkejaran dengan waktu—semuanya terasa… mungkin masih asing, tapi hangat.
Tanpa sadar, Ai Phing tersenyum. Ia sendiri tak sepenuhnya mengerti kenapa.
Mungkin… karena untuk pertama kalinya, ia melihat dengan jelas—bahwa di balik suara keras dan decak yang sering muncul itu, ada usaha yang diam-diam menjaga.
Agar mereka tak terlambat. Agar mereka tetap berjalan seperti anak-anak lain.
Dan entah bagaimana—di pagi yang basah itu—usaha kecil itu terasa seperti sesuatu yang besar. Bahkan decakan kesal yang menyalahkan langit itu terdengar…hangat, dengan caranya sendiri.
Ai Phing tak pandai mengikatnya dalam kata. Ia hanya menyimpannya.
…
Di sela waktu yang lain, di hari-hari berjalan seperti biasa.
Di bengkel, pelanggan datang silih berganti. Kadang ramai, kadang sepi. Kadang hanya satu pekerjaan kecil sepanjang hari, kadang cukup untuk membuat Along tak sempat duduk sampai sore.
Sampai suatu hari, Ka Thiam mendadak menjadi “tenaga kerja tambahan”. Seperti anak magang kecil, ia mondar-mandir di bengkel.
Mengambilkan obeng. Menyodorkan tang. Kadang membawa batu gerinda dengan wajah serius, seakan memegang sesuatu yang sangat penting.
“Ini, Pa,” katanya setiap kali menyerahkan alat.
Along berdecak, tapi tak menolak.
“Letak semula jangan lupa,” pesannya singkat.
Ka Thiam mengangguk cepat, meski beberapa kali tetap saja lupa.
Sesekali Along harus menghentikan pekerjaan, hanya untuk mencari kembali alat yang entah diselipkan di mana oleh bocah itu.