Namun, penguasa teras rumah di sore hari tetaplah Ai Phing dan kawan-kawannya. Di sanalah PR dituntaskan—keroyokan. Kadang saling contek, dengan wajah tanpa rasa bersalah.
Sekali duduk bisa lima anak. Pernah juga sampai tujuh. Namun yang tak pernah absen hanya dua: Siau Cin dan Salma.
Dua remaja itu tak pernah kehabisan cerita.
Selalu ada saja celoteh yang mengalir dari mereka—ringan, cepat, dan hidup. Dan Ai Phing… perlahan menjadi pendengar yang baik.
Meski kadang ikut tertawa, ikut hanyut dalam percakapan, lebih sering ia memperhatikan. Ia belajar membaca orang dari cara mereka bicara, dari apa yang tak mereka katakan.
Mendengar bukan hanya kata—tapi juga yang tersembunyi di baliknya.
Dari sana, Ai Phing mulai yakin.
Siau Cin memang menyukai Herman. Mungkin benar—sejak kelas lima SD, seperti yang selalu dituduhkan Salma.
Meski setiap kali disudutkan, gadis itu akan mengelak. Bersikeras menyangkal, dengan wajah yang justru semakin mudah dibaca. Wajahnya memerah, suaranya meninggi, matanya menghindar—semua sudah cukup untuk membacanya seperti buku terbuka.
Salma sendiri… anak yang boros. Cara ia menghabiskan uang jajan selalu jadi bahan olok Siau Cin—“Dasar anak orang kaya.” Uang jajannya habis di hari pertama, lalu sisa minggu ia numpang pada Siau Cin kalau tak dapat tambahan uang jajan. Walau tak sering, karena Salma pandai merengek minta uang pada Ayahnya.
Ia juga cepat bosan. Selalu ingin hal baru.
Namun di balik itu, ia pintar. Pelajaran selalu bisa ia kejar tanpa banyak kesulitan, meski ia tampak tak pernah serius belajar.
Belakangan ini, Salma menyerah pada satu hal kecil. Ia tak lagi menuntut dipanggil “Sally”. Hanya Ai Phing yang mau menyebutnya begitu—itu pun terdengar kaku, seperti baju yang tak pas ukuran.
“Salma pun manis kok,” kata Ai Phing suatu kali, mencoba menghibur.
Dan cucu Haji Tamar itu, mau tak mau, menerimanya. Meski sesekali ia masih bergurau, “Coba panggil Sally sekali lagi.”
Tiga remaja putri itu—menjadi saksi hidup sore-sore di teras itu.
Mereka ada di sana, setiap hari. Menyaksikan langit berubah warna dari jingga ke ungu, mendengar suara burung pulang ke sarang, merasakan angin sore yang perlahan berganti dingin.
Sementara di waktu yang sama, Ka Thiam pulang dari keluyurannya bersama Juned.
Kadang ia membawa pulang hampir seember kecil batu kerikil—sudah disortir rapi, ukuran paling pas untuk peluru ketapel.
Kadang pula… kepiting kecil-kecil yang masih hidup. Hasil buruannya di tanah becek yang tergenang saat air pasang. Lalu tiga hari kemudian, kepiting itu mati.
Ia sedih. Sungguh-sedih. Matanya berkaca-kaca, ia bertanya pada Ai Phing, “Kenapa mati, Ci? Padahal sudah kuberi makan nasi.”
Padahal sudah diberi makan nasi, itu katanya yang ia ucapkan berulang. Ai Phing tak tega menjelaskan bahwa kepiting itu bukan hewan peliharaan yang bisa hidup di ember plastik.
Layangan juga begitu. Ia tak pernah diberi uang untuk membeli. Along pun tak pernah membuatkan.
Namun entah bagaimana, ia bisa pulang membawa satu atau dua. Kadang dengan tali putus, kadang dengan kertas robek di bagian sayap.
“Layangan putus,” katanya bangga. Matanya berbinar, seolah itu adalah pencapaian terbesar.
“Aku sama Juned lari paling laju, jadi kami yang dapat.”
Koleksi layangannya bahkan sudah belasan, ia sering membanggakannya pada Ai Phing yang hanya mampu geleng-geleng kepala. Mereka tergantung rapi di kamar, memenuhi dinding yang kosong.
Tapi Along hanya berdecak. Tak melarang. Tak pula benar-benar menegur.
Ia hanya memberi batas. Garis yang tak boleh dilewati.
Tak boleh memancing di pelabuhan. Tak boleh turun ke pantai bakau yang berlumpur tebal. Tak boleh dekat-dekat dengan perairan selat.
Itu saja.
Selebihnya… ia membiarkan. Karena Along tahu—anak-anak kampung memang seperti itu. Sedikit liar. Tapi liar yang wajar, liar yang masih dalam batas.
…
“Long, lama tak nampak.”
“Kau ke mana saja?”
“Ngumpul-ngumpul lagi lah.”