Rasanya sudah lama tak seperti ini.
Namun malam itu, Along pulang larut. Nyaris jam sebelas tiga puluh, ketika ia berdiri di teras rumahnya—di depan pintu—kebingungan merogoh semua kantong pakaiannya.
Akhirnya… ia menemukan kunci itu.
Ia mengejapkan mata.
Dua anak kunci terlihat sama—lalu berbayang. Seolah menjadi empat. Di telapak tangannya, benda kecil itu seperti mampu membelah diri… dua, atau tiga.
Along mengangkat tangan, mencari cahaya. Ia melangkah ke bawah lampu bohlam di teras—seakan cahaya itu bisa menertibkan apa yang berantakan di matanya.
Mana yang untuk pintu depan. Mana yang untuk bengkel—yang baru tiga hari lalu ia pasang pengunci.
Langkahnya tak lagi tegap. Sedikit terhuyung. Sedikit gontai. Tubuhnya masih berdiri—namun seperti tak sepenuhnya berada di dalamnya.
Pelipis kirinya berdenyut.
Ia berdecak.
Akhirnya… ia memilih satu.
Yang ini. Harusnya ini.
Ia mendekat ke pintu.
Namun lubang kunci… terasa bergerak. Sedikit ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti sengaja menghindar, seperti pandai bergoyang.
“Sialan,” umpatnya pelan.
Ia mencoba memasukkan anak kunci itu.
Meleset. Sekali lagi. Meleset lagi.
Lebih sulit dari memasukkan benang ke lubang jarum.
Tangannya sendiri tak mau diam, seakan membangkang dari perintahnya. Atau mungkin… matanya yang tak lagi jujur.
Ia berhenti sejenak. Menarik napas. Kesadarannya masih ada—cukup untuk tahu bahwa ia belum sepenuhnya hilang.
“Tak mungkin tumbang, kan…” gumamnya dalam hati.
“Tak sampai sebotol…” bisiknya, lirih, di antara decak kesalnya.
Ia mencoba lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih hati-hati. Seakan seluruh dunia menyempit—hanya menjadi ujung kunci… dan satu lubang kecil di depannya.
Dan di antara napas yang mulai berat, di antara denyut pelipis yang tak berhenti—ia masih berdiri di sana.
Berusaha.
Dan usaha itu membuahkan gemerisik suara.
Sepasang mata jernih mengintip dari balik tirai jendela yang dibuka pelan.
Ai Phing.
Ia sempat ragu. Namun ia sudah terlanjur di sana. Tangannya menyentuh gerendel kuningan yang sudah tua—yang belum lama diperbaiki papanya.
Dari luar harus dengan kunci. Dari dalam cukup geser… lalu putar.
Cklek.
Kunci terbuka.
Krieeet…
Daun pintu berayun perlahan.
Along sedikit terlonjak. Ia tak menyangka ada yang membukakan pintu.
Dan orang itu… sedang menatapnya. Sejenak—tanpa sadar—ia membalas tatapan itu.
Ada degup aneh di dadanya.
Siu Lan…
Bukan. Tentu saja bukan.
Siu Lan… dia—
Sepersekian detik kemudian, kesadarannya menyusul.
Gadis kecil itu—Ai Phing.
Namun sorot mata itu… bukan tatapan menegur seperti milik Siu Lan. Meski… ada kemiripan yang tak bisa dihindari.
Yang ini… berbeda. Ada tanya. Ada bingung. Tak ada tuduh. Tak ada salah.
Tak seperti dulu. Tak seperti sepasang mata yang pernah menunggunya di pintu… pada waktu yang sudah terlalu jauh.
Kesadarannya mengendap lebih dalam. Ada suara asing keluar dari bibirnya—bukan decak, bukan pula keluh.
Seperti sesuatu yang sesak… yang tak tahu harus keluar dalam bentuk apa.
Darahnya berdesir. Panas merayap cepat ke dada. Napasnya terasa sempit.
“Kamu belum tidur?”
Datar.
Ai Phing membuka mulut—ingin menjawab. Namun decakan keras Along memotongnya.