Hari-hari bergulir makin cepat. Tak terasa minggu pagi itu, mereka bertiga, ayah dan dua anak membakar Kimcoa dan Guncoa—kertas sembahyang, Kimcoa yang melambangkan emas dan Guncoa yang menjadi simbol perak.
Chitgwe-chueit, bulan ketujuh hari pertama dalam penanggalan lunar. Petanda ‘bulan hantu’ telah hadir.
“Puncaknya nanti Capgo dan penutupnya Sacap,” Along menjelaskan pada Ka Thiam di sela menyalakan kertas-kertas berwarna emas dan perak itu.
Capgo dan Sacap atau hari ke lima belas dan ke tiga puluh.
“Banyak hantunya,” bisik Ka Thiam pada Ai Phing, pelan.
“Hush…” Ai Phing sedikit mendelik padanya. Tapi segera tersenyum kecil.
Ya, bulan hantu.
Dan itu akan menjadi penderitaan bagi Ka Thiam. Segera saja segala larangan menyerbunya. Segala petualangannya bersama Juned akan dibatasi sebulan penuh.
Tak boleh berburu burung dengan ketapel.
“Kenapa?” Ka Thiam tampak menderita.
Ai Phing sabar, ia mencoba menjelaskan larangan papa mereka pada Ka Thiam.
“Takutnya peluru ketapelmu malah kena ‘mereka’.”
Ka Thiam berdecak, walau tak mirip papanya.
Kemudian…
Tak boleh dekat-dekat tempat gelap, tempat angker, pokoknya dekat-dekat tempat yang beraura tak sedap.
“Kenapa?”
“Memangnya kamu mau dekat-dekat ‘mereka’?”
Ka Thiam memang merinding.
Selanjutnya tak boleh menangkap kepiting, selain kasihan, kuatirnya bersinggungan dengan ‘mereka’.
Tapi mengejar layangan tak di sebut, karena memang sedang tak musim layangan.
Ka Thiam menghela napas dalam. Tingkah yang berat untuk usianya.
“Mereka ada di mana-mana, ya.” Pernyataan yang lebih mirip pertanyaan.
Ai Phing hanya mengangguk.
Along sempat mendengar dari dalam rumah pembicaraan yang terjadi di teras itu. Ia hanya tersenyum.
Namun sikap lembut Ai Phing mengingatkannya pada kejadian tempo malam, kala ia pulang dalam pengaruh minuman keras.
Ketika amarah yang tak sepenuh ia pahami hadir begitu saja dalam dadanya.
Bukan. Bukan karena Ai Phing tidur larut. Saat ini ketika pikirannya lebih jernih, ia ingin sedikit jujur pada diri sendiri, dan ia harus mengakui, saat itu…
Malu.
Ya, mungkin saja itu… Rasa itu muncul ketika dirinya yang dalam keadaan antara sadar dan tidak, dalam kacau, dalam keadaan paling rapuh untuk mengendalikan diri—terlihat jelas oleh sepasang mata kecil itu. Tatapan penuh tanya dan bingung itu… seakan menyayatnya dengan cara yang tak bisa ia pahami.
Atau…
Kenangan lama yang tiba-tiba muncul. Seakan Siu Lan sendiri yang menyambutnya malam itu, seakan wanita hadir dalam bentuk putri mereka.
Namun meski telah berusaha jujur, Along tak sampai ingin menarik kesimpulan. Sekejap kemudian, ia menepis semua pikiran yang muncul itu. Yang jernih, tapi justru membuat rongga dadanya menyempit.