KA

Rico Tsiau
Chapter #28

Itulah Ka - Part 1

Dahi Ai Phing berkerut.

Seragam olah raga Ka Thiam basah oleh keringat. Bau masam menguar, bercampur debu yang menempel sampai ke serat kain, membentuk garis-garis kusam yang tak rapi—seperti peta kecil yang tersebar tak beraturan.

“Thiam, main apa kamu tadi?”

Ka Thiam menjawab tak jelas.

“Olah raga… di lapangan… praktek… volley…”

Kata-katanya tercecer, mengiringi napasnya yang masih belum kembali tertata. Dadanya naik turun cepat. Rambutnya basah, menempel di pelipis. Keringat mengalir tipis dari leher ke kerah baju.

Ai Phing menggeleng pelan.

“Lagian… kan, panas,” kata Ka Thiam lagi, seperti membela diri.

Ia mengusap lehernya yang lengket, lalu meniup poni yang jatuh menutupi dahi. Gerakan kecil itu seperti usaha sia-sia melawan keringat yang merekat poni di dahinya.

Ka Thiam benar. Hari ini memang panas. Ai Phing membatin.

Panas yang tak sekadar menyengat kulit, tapi seperti menekan dari atas. Langit tampak luas, tapi awan tak memberi naungan.

“Padahal banyak awan di langit, tapi tak ada yang mau tutupin matahari,” celoteh adiknya lagi.

Ai Phing tak menjawab. Memberi aba-aba agar adiknya segera menanggalkan pakaian olah raganya.

Ia mengambil seragam itu. Kain yang lembap itu terasa berat di tangannya. Ia berjalan ke belakang rumah, ke tempat tali jemuran membentang di antara dua tiang kayu tua yang mulai lapuk dimakan waktu.

Ia menggantungkan seragam itu perlahan. Merentangkannya sedikit agar angin bisa lewat di sela-sela serat kain. Agar tidak lembap. Agar jamur tak sempat tumbuh dan meninggalkan bintik hitam yang tak bisa dihapus.

Tangannya merapikan bagian kerah. Menarik sedikit bagian yang terlipat. Menepuk pelan bagian yang terlalu kusut.

Melihat betapa kumalnya baju itu, ia setengah merasa bersalah pada Ayi Bi Ling yang besok pagi akan mencucinya.

“Pasti berat, kasihan…” pikirnya.

Bukan hanya kotorannya. Tapi juga air yang mungkin harus diperas berulang. Waktu yang harus diluangkan. Tenaga yang diam-diam terkuras.

Hal-hal kecil seperti itu… entah sejak kapan mulai terasa meski bukan ia yang akan mengerjakannya.

“Hari ini tak usah main ke luar ya,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.

Wajah Ka Thiam langsung berubah.

“Kenapa?”

Nada itu bukan sekadar bertanya. Ada harap di sana. Ada keberatan.

Ai Phing tampak berpikir sejenak.

Langit memang terang. Angin pun tak membawa tanda apa-apa. Tak ada bau tanah basah. Tak ada awan gelap yang menggantung.

Namun entah kenapa—seakan yakin—ia tetap berkata,

“Mungkin akan hujan.”

Pelan. Dan sejenak kemudian, ia sendiri tak sepenuhnya percaya pada kata-katanya.

Ka Thiam menyipitkan mata. Menatap kakaknya lama. Tak percaya.

“Lagian, katamu banyak PR,” sambung Ai Phing cepat, menutup celah.

Tapi Ka Thiam lebih cepat.

“Kan malam bisa. Lagian besok hari Minggu… libur. Waktunya masih panjang.”

Nada suaranya ringan—tapi penuh logika. Logika sederhana yang bagi anak seusianya terasa tak terbantahkan.

Ai Phing menatapnya.

Lihat selengkapnya