KA

Rico Tsiau
Chapter #29

Itulah Ka - Part 2

Namun ketika entah bagaimana celoteh itu berganti topik ke cuaca, Ka Thiam pasang telinga lebih serius.

Siau Cin bersuara, “Kalian tak heran? Panas hari ini menyiksa.”

Salma mengangkat alis.

“Betul, tapi jangan pikirkan… malah tambah menderita.”

Ai Phing tiba-tiba nimbrung.

“Seharusnya hari ini akan ada hujan.”

Tiga sahabatnya langsung menatapnya. Heran. Terlebih Ka Thiam, sorot matanya sekarang kentara sekali menuntut: jelaskan.

Ai Phing sedikit gugup.

“Bulan tujuh hari tujuh.”

Ka Thiam langsung berhenti menggigit es lilinnya. Samar-samar ia ingat sesuatu.

“Hari hantu?” tanya Salma cepat.

“Kau tahu juga bulan hantu, dan tak ada hari hantu,” Siau Cin menyambar.

“Bukan,” Ai Phing menggeleng. “Bulan ini memang bulan hantu. Tapi ini… hari ini ketemuannya Niu Lang sama Zhi Nu.”

Susilawati yang tadi diam… sedikit menoleh. Nama-nama itu—asing, terlalu asing untuknya.

“Siapa itu?” tanyanya.

Di sisi lain, Siau Cin langsung semangat. Ia tahu kalau sudah begini Ai Phing akan berkisah. Ia menginsut duduknya mendekat ke Ai Phing.

“Penggembala sama putri langit. Mereka dipisahkan. Setahun sekali saja boleh ketemu.” Kata Ai Phing pelan.

“Kenapa dipisah?” Salma ikut bertanya.

“Karena mereka tak boleh bersama,” jawab Ai Phing, kali ini lebih pelan. “Zhi Nu itu putri kahyangan. Niu Lang cuma manusia biasa.”

Angin sore lewat pelan. Membawa sisa panas siang yang belum sepenuhnya pergi.

“Mereka ketemunya di mana?” Siau Cin makin penasaran.

Perlahan, Ka Thiam mulai ingat. Kisah ini…

“Di jembatan burung murai,” jawab Ai Phing. “Burung-burung datang, bikin jembatan di langit. Supaya Niu Lang bisa bawa anak-anaknya nyebrang untuk ketemu ibu mereka.”

Ka Thiam menengadah. Ia yakin sekarang. Inilah kisah yang sering di ceritakan mamanya pada mereka kala bulan hantu serasa menakutkan bagi anak-anak.

Langit masih terang. Terlalu terang untuk melihat apa pun di sana.

“Kalau hujan… katanya itu air mata mereka,” tambah Ai Phing lagi.

“Air mata?” Salma mengulang.

“Iya. Karena cuma sebentar mereka ketemu. Habis itu pisah lagi.”

Sunyi sejenak.

“Ceritamu tak lengkap, Phing.” Susilawati tak bisa menahan penasarannya pada kisah ini, “tak ada ujung pangkal.”

Lihat selengkapnya