KA

Rico Tsiau
Chapter #30

Awalnya

Namun di bulan hantu itu, sesuatu berubah.

Untuk pertama kalinya, malam bulan tujuh hari lima belas—Chitgwe Capgo—Along mengajak anak-anak ke kelenteng.

Ia sengaja memilih malam, agar anak-anak dapat ikut.

Ping An Kiong—itulah nama kelenteng itu. Tempat orang-orang datang membawa doa, harap, dan sesuatu yang tak selalu bisa mereka ucapkan pada orang lain. Kelenteng yang memuja Dewi Maco Poh.

Malam itu asap dupa seakan berlomba naik meski tanpa tergesa. Berlapis-lapis, saling menyusul, seolah langit harus bersabar menerima semua yang dikirimkan dari bumi. Wanginya pekat—hangat, sedikit getir—menempel di udara, di pakaian, di kulit.

Aroma yang bisa dihirup di tengah keramaian kelenteng manapun ketika ramai pengunjung.

Di depan tungku besar, Kimcoa dan Guncoa dibakar tanpa henti. Api menjilat kertas-kertas tipis itu, mengubahnya perlahan menjadi cahaya, lalu abu. Suaranya lirih—kering dan rapuh—seperti sesuatu yang dilepas dengan ikhlas.

Orang-orang berdiri berdekatan. Tak terlalu sunyi, namun juga tak gaduh. Bahkan ada tawa pecah sesekali.

Bisik doa mengalir di sela langkah kaki dan suara api. Pelan. Namun karena itu… terasa dalam, lebih indah.

Along menyalakan lilin merah besar yang ia beli sendiri dari kedai. Api kecil itu bergoyang sebentar, lalu tegak.

Ai Phing dan Ka Thiam berdiri di sampingnya, memperhatikan papa mereka.

Sesekali Along memberikan aba-aba,

“Ambilkan itu…”

“Bawa ini…”

Atau…

“Susun buah-buahan di tengah, biskuit di samping.”

Akhirnya hio besar terpasang di tangan Along. Anak-anak memegang hio kecil mereka.

Tangan ditangkupkan. Kepala sedikit menunduk. Lalu doa dipanjatkan.

Ai Phing banyak tersenyum malam itu. Senyum yang pelan… seolah ia sedang menyapa seseorang yang tak terlihat.

Namun di sampingnya, Ka Thiam gelisah. Matanya tak bisa diam dari tungku besar di depan kelenteng. Api yang menari, kertas yang terbakar, abu yang beterbangan—semuanya memanggilnya lebih keras daripada doa.

Begitu selesai, ia hampir berlari. Tak sabaran ingin membakar kimcoa dan guncoa di tungku besar itu.

Pengunjungnya banyak.

Halaman kelenteng yang luas dipenuhi orang—orang tua, remaja, anak-anak—semuanya hadir dengan urusan masing-masing.

Dan seperti yang sering terjadi pada anak-anak… tempat sakral pun bisa berubah menjadi dunia bermain.

Terlebih, ketika Juned muncul entah dari mana, tertarik oleh keramaian. Tak butuh waktu lama—halaman itu berubah menjadi medan kecil bagi mereka.

Karet gelang merah.

Bekas pengikat kimcoa itu berserakan di lantai. Kecil. Sederhana. Yang biasanya diabaikan, namun malam itu… menjadi harta karun.

“Aku duluan!”

“Itu punyaku!”

Ka Thiam dan Juned berjongkok, tangan mereka cepat menyapu lantai. Beberapa bocah lain ikut bergabung. Tawa pecah. Ringan. Liar. Tanpa beban.

Dan anehnya… tak ada yang benar-benar terasa mengganggu. Doa tetap dipanjatkan. Api tetap menyala. Dan tawa anak-anak… mengalir di antaranya.

Seolah tempat itu cukup luas untuk menampung semuanya sekaligus.

Dari tadi Ai Phing mencari-cari, tapi Siau Cin tak datang malam itu. Hanya papanya yang terlihat di antara keramaian. Namun Ai Phing mengenal beberapa remaja lain. Wajah-wajah kakak kelas dari kelas dua dan tiga.

Tak ada satupun selain dirinya yang kelas satu. Mungkin orang tua mereka sudah lebih dulu sembahyang di pagi hari, dan malam ini hanya menjadi waktu berkumpul.

Di antara kerumunan itu—seorang remaja berdiri.

Lihat selengkapnya