KA

Rico Tsiau
Chapter #31

Tanpa Firasat

Hari itu, Chitgwe Dichit—bulan tujuh hari dua puluh tujuh. Tiga hari sebelum penutupan bulan hantu. Sebelum ritual Photho, saat orang-orang mempersembahkan sajian terakhir… mengantar yang tak terlihat kembali ke dunia mereka.

Entah siapa yang memulai. Anak-anak menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada mobil-mobilan. Bahkan gasing pun kalah.

Petualangan. Hari itu mereka memancing.

“Tapi papaku akan marah…” Ka Thiam sempat ragu.

“Jangan bilang-bilang, lah…” seorang anak menyahut ringan.

Ka Thiam menoleh ke Juned. Juned hanya mengangkat bahu.

“Kau pergi?” tanya Ka Thiam akhirnya.

“Aku sih, ikut,” jawab Juned, singkat.

Tiga anak lain langsung sumringah. Namun satu di antaranya menimpali, setengah menantang—

“Kalau takut, tak usah ikut.”

Ka Thiam menatapnya.

“Aku tak takut.”

Ternyata bukan di pelabuhan. Tujuan mereka lebih jauh lagi. Di kuala.

“Ikan di sana paling besar.”

“Seru. Apalagi kalau ada kapal besar lewat, kita bisa lihat dengan dekat.”

Lima anak itu lalu pergi bersama.

Sebuah sampan milik warga yang ditambatkan di tepi bakau mereka pakai.

“Wak Saman, pinjam sampan…”

Saman tentu tak mendengar itu. Andai saja ia mendengarnya, maka kejadian hari itu tak mungkin terjadi.

Bagi Ka Thiam, semuanya terasa seperti permainan besar yang menyenangkan. Ia bahkan beberapa kali meminta kesempatan mendayung, meski awalnya canggung tapi lama-lama ia mulai belajar bahwa mendayung bukan melulu soal tenaga.

“Harus pandai mainkan ujungnya, biar sampan makin laju.”

Juned mengajarinya. Memperagakan gerak itu di samping Ka Thiam.

Tawa Ka Thiam makin lebar kala sampan yang ia dayung melaju makin cepat. Sesekali ia berhenti, terengah, membiarkan sampan mengikuti arus. Di saat lain ia akan menekan ujung dayung kayu itu ke samping agar sampannya berbelok ke arah yang ia inginkan.

Matanya mulai teralihkan pada air yang mulai surut. Lumpur bakau terbuka. Ikan-ikan kecil terlihat bergerak di air dangkal.

“Wow…”

Ia tertawa lagi bersama kawan-kawannya.

Nyaris di bibir kuala, sampan dilabuhkan dengan tali yang Juned ikatkan ke batang bakau tua.

Benar saja. Di air keruh berlumpur itu, ikan sembilang paling banyak. Sebentar saja, tak sampai tiga perempat jam, lima pancing kecil tanpa joran—yang talinya digulung di botol bekas air mineral—itu menaikkan belasan ekor sembilang sebesar lengan ke atas sampan.

Juned dan seorang anak bertubuh paling kecil mahir melepaskan mata kail sembari menghindari duri beracunnya.

“Harus hati-hati, kena durinya bisa sakit.”

Pesan Juned pada Ka Thiam yang mau mencoba.

Ka Thiam mengangguk. Ia tahu akibatnya jika tersengat, pertemuan pertamanya dengan Juned justru karena ia ingin membantu Juned berjalan dengan meminjamkan bahunya, karena waktu itu kaki Juned tersengat ikan ini dan bengkak besar sampai beberapa hari.

Lihat selengkapnya