Dahi Ai Phing berkerut sejak tadi, kerutannya makin kentara ketika hampir pukul tujuh—Ka Thiam belum tampak batang hidungnya. Ia berjalan mondar-mandir di teras. Matanya sesekali mengintip ke ujung jalan.
"Ke mana bocah itu?" gumamnya geram.
Ia lalu meraih sendal dengan ujung kaki, sedetik kemudian ia mulai melangkah ke halaman, keluar dari pagar rendah, lalu berdiri di ambang jalan.
Dengan tangan bersedekap di depan dada, ia menengadah.
"Sudah gelap," gumamnya lagi.
Ia masih menahan diri, tak membanting kakinya ke tanah. Kepalanya berputar berulang dari kiri ke kanan, ke ujung jalan yang mengarah ke rumahnya.
Sepuluh tarikan napas kemudian, sesuatu berubah dalam dadanya. Dingin yang asing mulai merambat perlahan, menggantikan panas yang berasal dari kesalnya tadi.
"Ka Thiam…"
Lalu di ujung jalan, cahaya mendekat bersama deru suara sepeda motor.
Sejenak ia mengira itu Ka Thiam, tapi bukan. Lagi pula, tentu saja—ia sadar—Ka Thiam tak membawa senter.
"Papa pulang," kata Ai Phing kemudian, akhirnya mengenali siluet itu.
Along yang menemukan Ai Phing menyambutnya di ambang jalan, terheran, ia mematikan motornya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Pa, Ka Thiam belum pulang," kata Ai Phing cepat.
Along menangkap nada cemas dalam suara putrinya. Ia refleks memandang ke ujung jalan, tak ada siapa pun.
Ya, hari sudah gelap. Ke mana anak itu? Pikirnya.
Ia berdecak.
"Dari jam berapa dia keluar?" tanyanya pada Ai Phing.
"Jam tiga lewat."
"Dia bilang mau ke mana?"
"Kelenteng, katanya."
"Sama Juned?" tanya Along.
Ai Phing mengangguk.
Along menarik napas panjang. Berdecak sekali lagi, lebih keras.
"Kau masuk dulu, biar Papa yang cari Ka Thiam."
Ai Phing mau tak mau menuruti. Ia masuk, tapi napasnya makin berat, tak hilang meski papanya yang akan pergi mencari adiknya itu.
Bukan ia tak percaya pada papanya.
Tapi entah kenapa, rasa itu mengisi dadanya semakin pekat.
…
Along memutar sepeda motornya, melaju ke Ping An Kiong. Sepi, tak ada suara anak-anak yang biasanya nyaring di sana. Tapi ia merasa harus bertanya pada seseorang.
Acek Akhieng, ah… Akong panggilannya sekarang.
Matanya mencari.
"Long, dari mana?"
Orang yang ia cari malah menegurnya dari samping. Akhieng muncul dari balik pagar tiang gapura berukir naga dan burung hong.
"Ah, Akong… nampak Ka Thiam?"
Akhieng menggeleng. Namun detik berikutnya—wajahnya berubah.
"Anak itu… belum pulang?"
Along mengangguk singkat. "Ya."
Cahaya temaram lampu gapura jatuh di wajahnya. Garis rahangnya mengeras. Akhieng mengenali sorot mata itu.