"Apa?"
Jantung Asuang berdegup seketika. Ia melirik jam dinding. Pukul tujuh tiga puluh. Piring kotor yang ia cuci langsung ia tinggalkan.
"San, jadi…?" tanyanya pada suaminya, Asan.
"Ya aku mau bantu cari," Asan menyahut cepat.
Langkahnya tergopoh.
"Mana senter?"
Asuang tak memperdulikan tangannya yang masih bersabun, ia segera berlari ke lemari samping, sempat mengelap tangannya di baju, lalu membuka laci bawah, mengeluarkan dua senter.
Asan menyambar satu.
"Kau tunggu di rumah saja," katanya pada istrinya.
"Aku ikut," kata Asuang.
"Jangan, kau sedang hamil muda," Asan keberatan.
"Tapi…" Asuang membandel.
"Kau tunggu di rumah saja," Asan mengulang, kali ini nadanya tegas.
Mama mertua Asuang juga di sana mendengar kabar yang dibawa Asan, ia setuju pada anaknya, menantunya ini lebih baik di rumah saja. Lagipula, tak akan banyak yang dapat ia lakukan dalam pencarian tak menentu seperti itu.
"Suang, Asan benar. Ingat ini masih Chitgwe… wanita berbadan dua sebaiknya tak keluar kalau hari sudah gelap."
Ahua menasihati dengan sabar, mengingatkan bahwa sekarang bulan hantu—malamnya tak baik, apalagi untuk wanita hamil.
Asuang terdiam. Ia tahu, suaminya benar, bahkan mertuanya punya alasan yang lebih kuat—alasan yang berakar dari keyakinan tua.
Tapi… Ka Thiam…
Ia memegang tangan suaminya. Tak berkata apapun.
Asan mengangguk menenangkan, ia paham tatapan itu.
"Kau tenang saja. Cepat pasang hio di depan, doakan Ka Thiam dan kawannya baik-baik saja," katanya lembut, lalu bergegas pergi.
Asuang berlari kecil—altar, hio, doa, Toa Pek Kong.
"Pelan…" Ahua berseru tertahan melihat menantunya.
Padahal sudah aku larang jalan cepat-cepat, ini malah lari-lari, keluhnya dalam hati.
Tapi Asuang sudah sampai di depan, mengambil hio. Sambil menyalakannya di api lilin, ia mendengar suara sepeda motor suaminya berderu pergi. Ia bahkan dapat mendengar detak jantungnya sendiri yang tak beraturan.
Hio belum menyala dengan benar. Mulutnya sudah menggumamkan doa dengan lirih. Ketika asap membubung dari bara di ujung dupa, ia memejamkan mata sejenak, melangkah ke depan.
Lututnya menyentuh lantai. Menghadap Thian—asap mengepul, seakan membawa doanya ke atas.
Hio ditancap.
Asuang berbalik, masuk ke dalam rumah. Kali ini dengan hio di depan dada ia berlutut di depan altar.
"Toa Pek Kong… aku Asuang, Lim Suang-Suang… aku menghadapmu… aku mohon… jaga keponakanku, Lim Ka Thiam, bawa ia dan kawan-kawannya kembali dengan selamat…"
Gumam patah-patahnya terhenti. Ia tak sanggup merangkai kata lagi, entah apalagi yang harus ia ucapkan, tapi serasa harus mengucapkan lagi, entah apa, agar Ka Thiam kembali.
Hio bergetar mengikuti tangannya yang tak mau diam. Pelupuk matanya memanas, lalu sedetik kemudian cairan bening mengalir ke pipinya.
Seseorang ikut berlutut di sampingnya. Ia terkejut.
"Mama," gumamnya lirih, menyadari mertuanya berlutut menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada tanpa hio, mengucapkan entah apa.
Tapi wajah khusyuk itu—Asuang paham apa yang dilakukan mertuanya.
Ahua kemudian membantu Asuang berdiri, membantunya menancapkan hio. Lalu keduanya berlutut lagi di Papan Abu keluarga Tiu, masing-masing memanjatkan doanya sendiri.
Selesai dari sana, keduanya duduk di sofa depan. Menanti dengan gelisah. Tak lama, seperti baru menyadari sesuatu yang penting, Ahua berseru pelan.