Halaman kelenteng Ping An Kiong terang benderang, bola lampu tambahan telah dihidupkan. Tepat pukul delapan, lebih dari dua puluh orang berkumpul. Jumlahnya pasti lebih besar kalau bukan karena mereka datang dan pergi.
Yang datang, kepala menggeleng. Yang pergi seakan yakin, seakan ilham datang pada mereka—bahwa lima anak itu ada di tempat yang mereka tuju.
Di sudut tiang gapura, sekelompok wanita berkumpul. Sebagian duduk, sebagian lagi berdiri tak tegak. Saling menghibur, di tengah isak lirih yang menyertai doa yang terucap maupun yang bergema sunyi dalam hati.
Sesaat kemudian, kedatangan Saman mengubah segalanya.
Sampannya yang hilang, jejak kaki anak-anak—semua mengerucut ke satu titik kemungkinan terbesar.
Dan karenanya, tempat pencarian harus diubah.
"Kalau begitu," suara Akhieng bergetar. Matanya menatap wajah-wajah tegang yang berdiri di depannya.
"Laut," lanjutnya dengan yakin.
"Akong benar," tanpa jeda, seseorang menyahut keras.
Ketika warga menoleh, Sutardi membalas tatapan semua mata tanpa keraguan.
"Pencarian kita geser ke laut. Sebagian fokus ke pantai bakau. Sebagian di air, pakai sampan… kalau bisa pompong," katanya lagi, lebih keras.
"Jangan tunda lagi, kita tak ingin waktu mengalahkan kita."
Masih kata Sutardi.
Tapi setelahnya, semua mata menuju ke satu sosok tua yang berdiri tenang di samping Akhieng—Tok Kasim.
Abdul Qosim yang dipanggil Tok Kasim—sang Kepala Desa—yang pendapatnya telah 'diwakili' Sutardi, tak bisa mengutarakan kata lain. Namun wajah tuanya tak masam ketika ia mengangguk.
Nyaris serempak warga tergesa bubar dari kerumunan.
"Pakai sampan aku saja, tiga atau empat orang bisa muat."
"Senter."
"Pompong lebih cepat."
"Obor pun tak apa."
Ada yang ke pelabuhan utama, beberapa pergi ke arah hulu, beberapa ke hilir selat. Sampan atau pompong tak masalah, yang penting bisa melaut. Barisan warga yang tak melaut mengupayakan pencarian dari tepi selat, di pantai bakau.
Dan Desa Bakau Panjang, malam tanpa bulan itu seakan menyala oleh cahaya. Senter-senter yang menyorot jauh, obor-obor darurat yang dibuat tergesa menyala dengan cahaya penuh.
Seperti ular bercahaya, barisan itu bergerak tak beraturan, namun mengarah pada satu titik yang lebar—sepanjang pesisir pantai bakau.
…
Cahaya motor dan senter mendekat.
Along membonceng Ali dengan sepeda motornya. Mereka mendapati depan kelenteng itu sepi. Lampu-lampu tambahan masih menyala, tapi orang-orang sudah bergerak ke tempat lain.
"Long, mana semua orang… tadi ramai," Ali berceloteh cepat.
Along tak menjawab. Matanya beralih ke sudut jalan di depan. Dua wanita berjalan cepat dengan bantuan senter mendatangi kelenteng. Langkah mereka tergesa.
Ia segera mengenali keduanya. Asuang dan mertuanya.
"Hia," Asuang langsung memanggil, parau.
"Sudah ada kabar?" Ahua bertanya. Matanya menyorot tajam, berharap, tapi juga takut mendengar jawabannya.
Along dan Ali menggeleng serempak.
Ahua menghela napas, tapi ia tak menghentikan langkahnya. Seakan tak ingin menunda menghadap Maco Poh sedetik pun. Ia melepaskan tangan Asuang yang menggenggam erat lengannya—yang sejak tadi gemetar tak henti—meninggalkan menantunya dengan Along di depan gapura.
"Macam mana ni," suara Asuang makin bergetar.
"Aku akan lanjut cari," Along menjawab pelan.
Ia tak berjanji apa-apa. Hanya itu yang bisa ia katakan.
Saat itu Ahai tiba membonceng Ai Phing. Remaja itu langsung melompat turun dari sepeda motor dan berlari ke arah papanya. Ia berdiri di samping Asuang, dadanya naik turun, tapi ia berusaha mengatur napas.
"Pa," suaranya pelan. Hampir tak terdengar.