Asun dan Ali berjalan cepat. Menyusuri jalan setapak di tepian pantai ke arah hilir. Senter yang mereka bawa jarang menyorot jalan—lebih sering menyapu kaki bakau yang gelap dan berlumpur.
Beberapa kali Asun berusaha menenangkan Ali yang mendesah hampir di setiap langkah. Desahan yang keluar dari dada—berat dan dalam.
Sepanjang ia mengenal orang ini, ini pertama kalinya Asun melihatnya demikian.
"Ali, kau harus tenang."
Hanya itu yang dapat Asun ucapkan berulang, seakan tak ada kata lain. Dan setiap kalinya, Ali mengiakan—namun Asun tahu, kata-katanya tak punya pengaruh apapun pada Ali.
Tak lama, Asan bergabung. Lalu beberapa warga. Pak Manurung si penjual buah juga hadir dengan senter besarnya yang paling terang. Cahaya itu langsung memotong gelap lebih jauh dari yang lain, memberi rasa aman, meski hanya sedikit.
Pak Manurung akhirnya mengambil alih peran Asun. Ia merangkul bahu Ali, jemarinya menggenggam erat. Keduanya berjalan beriringan, sambil sesekali membisikkan sesuatu—kata-kata yang tak sampai ke telinga Asun, tapi ia melihat bahu Ali sedikit mengendur.
Di dekat sebuah pelabuhan kecil milik seorang nelayan, Asun melihat seseorang berlari kecil.
Wanita muda.
"Ah, Aina… cucunya Mak Ijam." Asun mendengar Asan bergumam.
Aina membawa sesuatu. Mangkuk besar dari tanah liat, bergoyang pelan di tangannya. Airnya tumpah sedikit—memercik ke papan kayu pelabuhan, meninggalkan bercak basah yang segera meresap.
Gadis itu berpaling pada rombongan pencari ini. Matanya bergerak cepat, seperti mencari seseorang—atau seperti ingin memastikan bahwa ia tak sendiri dalam malam ini.
Bunga. Aneka bunga terendam dalam mangkuk berisi air itu.
Asun langsung paham.
Kembang tujuh rupa itu… seharusnya…
"Belum jumpa, Bang?" Aina menyapa. Entah pada siapa. Mungkin pada semua.
Asun mengangguk. Matanya tak lepas dari mangkuk di tangan Aina. Ada sesuatu yang menenangkan dari benda itu.
"Nenek yang suruh," Aina seperti ingin menjelaskan. Suaranya pelan, sedikit terengah karena baru saja berlari.
"Kalau begitu…" kalimat Asun terhenti. Ia tak tahu harus berkata apa. Terima kasih? Atau semoga berkah? Semua kata terasa terlalu kecil.
Aina paham. Ia langsung berbalik, melangkah cepat di papan pelabuhan. Kayu-kayu tua itu berderit pelan di bawah kakinya. Sampai ke ujung. Di sana, air pasang mulai meninggi. Gelombang kecil menyapu tiang-tiang pancang, membawa busa putih yang sebentar lalu pecah.
Dari belakang, Asun mengiringinya dengan cahaya senter. Sinar itu membentuk lingkaran terang di sekitar Aina, membuatnya tampak seperti sedang berdiri di panggung kecil—di atas air, di antara gelap dan doa.
Aina menggumamkan beberapa kata. Tak terdengar. Mungkin mantra atau jampi. Mungkin doa. Mungkin sekadar kata-kata yang hanya ia dan neneknya yang mengerti.
Lalu dengan jemarinya, ia menyebar kelopak bunga ke dalam air yang pasang tinggi. Sejumput demi sejumput dengan gerakan perlahan.
Terakhir ia memercikkan air ke papan, lalu kembali ke pangkal pelabuhan, menyurahkan semua sisa air ke tanah. Air itu mengalir pelan, meresap di sela-sela tanah, lalu lenyap.
Tak ada yang bertanya. Tak ada yang merasa heran. Ali menatapnya—penuh terima kasih.
Aina hanya mengangguk. Lalu berjalan pulang. Pelan dan ringan. Seakan telah menuntaskan sesuatu yang penting.
Angin malam berembus pelan. Malam makin pekat. Untuk beberapa saat, di antara kepanikan yang masih menyelimuti, ada ketenangan kecil yang hinggap.
…
Ujang mengutuk pelan. Di saat genting seperti ini, mesin pompongnya malah berulah. Sudah tujuh kali ia mengengkol. Tetap tak mau hidup.
"Jangan panik, Jang," suara Aciam pelan.