Kalau dayung sudah lepas—berarti sampan itu tak lagi punya arah. Tanpa kendali. Tak lagi punya siapa-siapa yang memegang. Tak ada yang berkata apa-apa. Semua saling mengerti.
Ujang tak perlu diperintah. Ia menarik tuas. Pompong menderu lebih keras, memecah air gelap yang seakan makin pekat.
Angin laut bertiup lebih dingin. Asin. Menusuk sampai ke dada. Cahaya senter terus menyapu—kiri, kanan, celah-celah bakau, air yang tampak tenang tapi menyimpan arus diam-diam.
Waktu berjalan tanpa suara. Hanya mesin, riak air, dan napas yang ditahan.
Sekitar pukul sembilan lewat sedikit—
"Bang Along…"
Suara Kemang pelan, tapi tajam. Senter besar itu berhenti pada satu titik. Bayangan yang gelap dan mengambang.
Along langsung mengarahkan senternya ke sana. Cahaya bertemu bentuk.
Sesuatu… memanjang.
Seperti tubuh.
Hati langsung jatuh.
Pompong mendekat. Semua mata terpaku. Tak ada yang bernapas. Bayangan itu berputar pelan, tersentuh riak kecil dari pompong.
Lalu cahaya menyingkapnya—kayu.
Kembali hanya batang kayu besar. Tersangkut sebentar, lalu hanyut lagi. Tak ada yang menghela napas lega. Karena lega tak benar-benar datang. Karena ketakutan yang tadi sempat meledak—tak benar-benar pergi. Hanya berganti bentuk.
Ujang tak memperlambat. Pompong terus melaju. Lebih dalam. Lebih jauh. Dan beberapa saat kemudian—cahaya senter Along kembali menangkap sesuatu.
Kali ini… tak bergerak.
Diam.
Tersangkut.
Di antara akar-akar bakau yang mencengkeram air. Siluetnya besar. Terlalu besar untuk jadi kayu hanyut. Terlalu utuh untuk jadi bayangan.
Along tak mampu berkata apa-apa. Tangannya sudah lebih dulu mengarah. Cahaya menajam, bergegar mengikuti tangannya.
Dan di sana—sebuah sampan.
Sampan itu tersangkut di antara akar bakau. Miring sedikit. Di kegelapan yang menyelimutinya, sampan itu tampak lebih diam dari seharusnya.
"Ke situ…" suara Along serak, hampir tak terdengar.
Ujang memutar haluan. Mesin meraung pendek, lalu diturunkan pelan agar tak menghantam. Pompong mendekat. Air bergoyang kecil. Cahaya senter menelusup ke dalam sampan—dan waktu seperti berhenti.
Lima tubuh kecil.
Empat bergerak.
Satu… diam.
Tangis pecah lebih dulu dari yang sadar.
"Tolong… Tolong…!"
Suara bocah-bocah itu pecah, seperti sesuatu di dalam diri mereka ikut patah.
Ipen terpaku—entah lega, entah ragu—namun ia langsung mengenal salah satu dari mereka: anaknya.
Along tak menunggu. Ia melompat. Ipen seperti tersadar, menyusul.
Kayu sampan berderak ketika kakinya menghantam. Tubuhnya hampir oleng, tapi tangannya lebih cepat menahan.
Mata Along tak perlu mencari. Bocah itu tak bersembunyi, ia menemukannya seketika itu juga.
Ka Thiam.
Terbaring di dasar sampan. Tubuh kecil itu basah. Pucat. Lengan kirinya membengkak, gelap di dekat siku.
"Thiam…"
Suara itu bukan lagi panggilan. Tangannya meraih tubuh anaknya. Dingin. Ringannya, terlalu ringan.
Sesaat—hanya sesaat—dunia seperti jatuh dalam kebisuan total.
Lalu—ada gerak.
Tipis.
Sangat tipis.
Dada kecil itu naik-turun.
Along tersentak.
Napas bocah itu masih ada.
Masih ada.
"Masih hidup!" teriak Johan dari atas pompong, suaranya pecah.
Along tak menjawab.
Ia tak bisa. Tangannya sudah memeluk Ka Thiam erat—sangat erat—seolah laut akan merebutnya kembali jika ia longgarkan sedikit saja.
Ipen telah mendekap anaknya yang menangis keras.
Tiga anak lain merapat, masih menangis.
Salah satunya—Juned—memegang lengan Ka Thiam, tangannya gemetar.
"Duri… sembilang…" isaknya.