"Racunnya tak bahaya, tapi memang sakitnya luar biasa." Along menjelaskan.
Ai Phing kembali mengangguk. Matanya masih belum lepas dari Ka Thiam yang duduk termenung di teras, sesekali meringis. Mobil-mobilan tergeletak begitu saja di lantai—tak lagi menarik bagi tangan yang masih perih.
"Adikmu cuma bosan, kau temani saja," kata Along kemudian sebelum beranjak kembali ke bengkelnya.
Ai Phing mendekati adiknya. Ia tak berkata apa-apa. Hanya duduk di sampingnya, menyentuh pelan bagian lengan Ka Thiam yang tidak bengkak.
"Sakit," bisik Ka Thiam.
"Iya," jawab Ai Phing. "Sebentar lagi sembuh."
Di bengkel, Along menyalakan gerinda. Suaranya meraung, menenggelamkan suara lain. Namun matanya, sesekali, melirik ke arah teras. Sesekali ia berdecak halus, sesekali berhenti total dari pekerjaan hanya untuk berjalan mendekat ke teras. Melihat Ka Thiam, lalu kembali lagi ke pekerjaannya.
Ai Phing tahu, papanya tak tega melihat adiknya demikian.
Petang itu matahari menyengat tanpa ampun. Angin dari laut pun terasa panas, membawa rasa gerah yang lengket di kulit. Membuat baju basah oleh keringat, meski hanya duduk di teras tak melakukan apa pun.
Sudah dua hari, pikir Ai Phing. Ka Thiam belum pulih benar. Memakai atau melepaskan baju pun adalah penderitaan baginya. Lengan kirinya masih membengkak, warna gelap di sekitar luka perlahan memudar tapi rasa sakitnya belum sepenuhnya pergi.
Waktu terasa lambat, seolah matahari malas bergerak. Ka Thiam lebih banyak diam. Matanya menatap kepiting kecil yang sesekali berlarian di halaman, tanpa semangat. Sesekali ia meringis, ketika tangannya tanpa sengaja bergerak terlalu lebar.
Along melihatnya dari bengkel. Ia menghela napas.
Ia mematikan gerinda. Berdiri. Sejenak ia bermaksud menangkap satu atau dua kepiting, agar Ka Thiam tak bosan benar. Tangannya sudah meraih ember hitam di sudut bengkel.
"Ah…"
Mendadak sesuatu terpikir olehnya.
Cepat-cepat ia berjalan masuk ke dalam rumah. Di teras, ia berkata ringan pada kedua anaknya.
"Tunggu sebentar."
Ka Thiam mendongak, lalu kembali menatap kepiting tanpa menjawab. Ai Phing memperhatikan papanya berjalan ke dapur. Tanpa sadar, ia berdiri lalu mengekor masuk.
Sebelum sampai di dapur, ia mendengar suara keran air. Tangan dibasuh.
Along membuka lemari es.
Matanya berhenti pada dua botol sirup yang masih bersegel di pintu kulkas. Jeruk. Kurma. Masih utuh. Belum pernah disentuh.
Ia mengeluarkan satu. Botol kaca itu dingin di telapak tangannya. Sudut matanya menangkap kehadiran Ai Phing.
"Phing," katanya tanpa menoleh. "Gelas."
Ai Phing mengambil tiga gelas dari rak. Ia melihat papanya membuka tutup botol sirup kurma. Terdengar—klek—segel yang tertahan selama berbulan akhirnya terbuka.
Sirup kental berwarna cokelat tua mengalir ke dasar gelas. Aroma manisnya langsung menyebar di dapur yang panas.
"Kurma," kata Along, masih datar. "Kau suka, kan?"
Ai Phing tak menjawab. Ia hanya memegang gelas yang sudah diisi papanya, lalu pergi ke kulkas mengambil es batu. Tangannya bergerak otomatis, tapi di dadanya ada sesuatu yang menghangat. Samar.
Dua gelas sirup dingin dibawa ke teras.
Ka Thiam menengadah. Matanya sedikit berbinar.
"Apa itu?"
"Sirup," jawab Ai Phing. "Kurma."
Ia menyodorkan satu gelas pada adiknya. Ka Thiam menerimanya dengan tangan kanannya—tangan yang tak sakit. Ia menyesap pelan.
Matanya berbinar lagi. Kali ini lebih terang.
"Manis."
Ai Phing tersenyum. Lalu duduk di sampingnya. Gelas satunya ia pegang di tangan.
"Cici tak minum?"
"Nanti," kata Ai Phing. "Lihat kamu dulu."
Ka Thiam menyesap lagi. Lebih lama.
"Enak," katanya kemudian, hampir berbisik.
Ai Phing tersenyum lagi. Lebar.
Dari kejauhan, Along berdiri di ambang lorong depan. Tangan kanannya memegang gelas yang sama—sirup kurma, es batu, dingin. Ia tak keluar ke teras. Hanya berdiri di ambang, menyesap pelan.
Matanya tertuju pada dua anaknya.
Ka Thiam mulai bercerita—pelan, putus-putus—tentang kepiting yang tadi ia lihat. Tentang warna kulitnya yang hitam mengilat. Tentang bagaimana ia dulu bisa menangkapnya dengan cepat bersama Juned, sebelum lukanya.
Ai Phing mendengarkan. Sesekali ia mengangguk. Sesekali tertawa kecil.
Along meminum sirupnya sampai habis. Lalu, tanpa suara, ia berbalik masuk ke dapur. Dengan senyum tipis di bibirnya yang tak ia sadari.
Namun bagi Ai Phing, sirup yang akhirnya dibuka itu—maknanya tak pernah sederhana.
…