KA

Rico Tsiau
Chapter #38

Di Balik Bayang

Festival kue bulan akhirnya datang. Halaman Ping An Kiong tumpah ruah oleh pengunjung. Tahun itu ada sponsor besar—kue bulan berkardus-kardus dibuka tanpa henti. Dibagikan kepada siapa saja, tanpa antre. Baskom-baskom besar berisi potongan penganan legendaris itu memenuhi meja-meja yang dibentang di setiap sudut.

Di sisi kiri, dua meja khusus disiapkan. Di atasnya nampan besar berisi kue bulan. Selembar karton bertuliskan Halal dengan spidol hitam ditempel di depan.

Beberapa pengunjung muslim bolak-balik dari sana, ikut menikmati manisnya kue itu tanpa ragu.

Yang paling seru, tentu saja, lampion.

Anak-anak tak puas hanya bermain di halaman. Mereka membawa lampion berwarna cerah itu sampai ke ruas jalan di depan kelenteng. Cahaya lilin berpendar dari dalamnya—merah, kuning, oranye—mengambang dalam gelap seperti bintang-bintang kecil yang turun ke bumi.

Tawa anak-anak mengisi udara. Bercampur dengan dengung percakapan orang dewasa yang saling bersahut, cepat, akrab.

Ka Thiam sudah tak tampak batang hidungnya.

Padahal sejak tadi Ai Phing mengawasi. Tapi bocah itu seperti punya cara sendiri untuk menghilang dalam keramaian. Terakhir ia melihatnya berlari bersama Juned ke arah jalan.

"Jangan main jauh-jauh!" sempat ia berseru.

Entah didengar, entah tidak—Ka Thiam sudah lenyap ditelan malam yang riuh.

Namun malam ini milik semua orang. Termasuk anak-anak seperti mereka.

Ai Phing tak mengejar. Ia sendiri ditarik oleh Siau Cin dan Susilawati. Salma sudah menunggu di pojok, dekat meja bertuliskan halal—mulutnya sibuk mengunyah, tangannya melambai-lambaikan lampion.

Di sana, para remaja perempuan itu menemukan dunia kecil mereka sendiri. Tak lama, tawa mereka bertambah. Siau Cin tiba-tiba memerah. Herman menyapanya sekilas, ramah, sebelum berlalu bergabung dengan teman-temannya.

"Ciee…" Salma tak bisa menahan diri.

Seperti biasa, Siau Cin langsung salah tingkah. Dan seperti biasa pula, itulah yang membuat yang lain makin semangat menggodanya.

Di sela tawa itu—mata Ai Phing menangkap satu sosok.

Ahao.

Ia berdiri di sudut halaman yang lebih gelap, bersama beberapa pemuda yang lebih tua. Tak ada tawa di sana. Hanya percakapan panjang, rendah, yang tak sampai ke telinga. Sesaat kemudian, mereka bergerak. Satu per satu. Ahao ikut.

Padahal perayaan sedang ramai-ramainya. Lampion masih berpendar. Tawa masih pecah di mana-mana.

Namun mereka pergi. Entah ke mana.

Ai Phing memperhatikan sedikit lebih lama dari seharusnya. Ketika bayangan Ahao menghilang di balik gapura, ia kembali ke lingkaran kecilnya.

Tapi sesuatu sudah bergeser.

Dan saat itulah ia menyadari—Susilawati sedang menatapnya.

Seperti sudah sejak tadi.

Banyak hal yang membuat Ai Phing tersenyum belakangan ini.

Sekadar menatap berulang foto bayi—sepupunya—saja sudah cukup membuat senyumnya tinggal lama. Ia membayangkan suatu hari akan menggendongnya. Atau kehamilan Ako-nya… akan ada anggota keluarga baru. Meski tak serumah, namun cukup membuatnya lebih riang.

Sekolah juga berjalan lancar. Nilai ulangannya terakhir memuaskan. Bahkan di beberapa mata pelajaran, nilainya melampaui Salma.

Tapi, kasihan Ka Thiam. Nilai matematika adiknya itu mengkhawatirkan. Yang lain tak masalah—memang bukan yang tertinggi, tapi masih di atas rata-rata kelas.

Namun anjloknya nilai matematika itu tak membuat Ai Phing risau. Ia hanya perlu lebih banyak waktu. Lebih banyak duduk bersama. Lebih banyak sabar, mengulang pelan-pelan sampai adiknya mengerti.

Dari semua hal—yang paling membuatnya tersenyum adalah malam di teras depan.

Hidup terasa kembali seperti dulu.

"Phing, kopi… tambah satu."

Suara itu datang dari depan. Masih panggilan yang biasa dan sederhana. Namun entah bagaimana, setiap kali mendengarnya, Ai Phing tak pernah merasa keberatan. Bahkan tanpa ia sadari, ia mulai menunggu-nunggu.

Lihat selengkapnya