Hari-hari di Bakau Panjang terasa damai. Seolah ia telah lama begitu, dan akan tetap demikian untuk tahun-tahun yang panjang ke depannya.
Satu dua kejadian menjadi buah bibir, kadang bisa bertahan lama, sampai ia surut sendiri.
Harga solar naik sedikit. Haji Tamar merehap jembatan desa dengan uangnya sendiri. Perut istrinya Asan makin membuncit. Bahkan reban ayam Ipen yang terbakar tiga hari lepas bisa jadi topik menarik kala menyeruput kopi petang di beranda.
"Nyaris saja rumah Ipen ikut terbakar."
"Entah jatuh di bulan berapa ya Asuang melahirkan?"
"Belakangan KM Cucut Emas lebih sering terlambat berlabuh."
Biasanya begitu. Tak pernah benar-benar lekat lama dalam benak Along.
Pesanan tak banyak. Tapi kalau sekadar buat makan dan rokok masih berlebih. Bahkan sesekali main kartu pun, bisa.
Tapiā¦
"Ah, sudah lama tak pegang," gumamnya dalam hati.
"Nanti saja, kalau waktunya tepat," pikirnya lagi.
Hari nyaris menutup diri ketika seseorang sampai ke halaman bengkel. Remaja itu datang membawa dua batang pipa galvanis di pundaknya. Panjang, masih baru, bukan pipa bekas. Melihat sekilas saja Along langsung tahu. Dan ia juga kenal remaja itu.
Ahao.
Ia berdiri di depan pintu.
"Pipa, Cek," katanya.
Along mengangkat kepala. Ia tidak langsung menjawab. Matanya hanya menyapu pipa besi itu sekali lagi. Pengalaman hidup membuatnya tidak perlu melihat lebih lama.
"Besi curian." Kata-kata itu keluar datar, tanpa basa-basi. Tak ada usaha memperhalus.
Namun Ahao tidak menyangkal. Ia hanya menunduk sebentar.
"Untuk uang jajan," katanya pelan.
Kalimat itu jatuh ke lantai bengkel seperti batu kecil, membuat udara mendadak terasa berat.
Bagi Along kalimat itu klise. Anak ini bukan tanpa rumah atau tanpa orang tua. Ia tahu, ini bukan perkara makan atau tambahan uang jajan. Ini karena uang untuk hal lain, hal yang akan makin menjerumuskannya.
Di sudut teras, Ai Phing yang baru memasang hio berdiri tanpa suara.
Ia mendengar semuanya. Ia melihat papanya berdiri di dalam bengkel, kaku seperti tiang besi yang tertanam dalam tanah. Dan di depan pintu berdiri seorang anak lelaki yang baginya tampak terlalu muda untuk membawa hidup berat itu di pundaknya.
"Dia," bisik Ai Phing tanpa sadar.
Itulah kali ketiganya ia melihat anak lelaki itu.
Dari dalam bengkel, Along akhirnya berkata dingin.
"Bawa pergi itu."
Ada sedikit jeda. Waktu seakan melambat sejenak. Namun Ahao akhirnya mengangguk. Tak berani membantah. Ia berbalik tanpa berkata apa-apa lagi.
Saat melewati halaman, ia sempat bertemu mata dengan Ai Phing di teras. Hanya sekejap. Sebuah pandangan singkat yang tidak membawa janji apa pun.
Along berdiri di ambang pintu bengkel sambil memandangi punggung anak itu menjauh, sesuatu dalam dadanya sudah mulai mengeras.