KA

Rico Tsiau
Chapter #40

Lewat

Namun seperti air tinggi yang perlahan surut, gosip pun ada waktunya menguap tanpa disadari.

Ahao suatu hari pulang entah dari mana, berjalan seperti biasa di kampung kelahirannya. Mungkin orang lelah mencibir. Atau mungkin cerita baru datang silih berganti, menggeser yang lama. Entahlah.

Nyaris semua orang menyapanya dengan cukup ramah ketika berpapasan di jalan. Entah sebagai bentuk perhatian, atau takut akan sesuatu. Tak banyak yang benar-benar menyimpannya dalam dada.

Ada yang menghela napas begitu melihatnya lewat.

"Budak tu…" lalu berhenti.

Napas dihela lagi.

"Aihh… entah apa nak jadi."

Itupun kesah di belakang. Tak benar-benar keluar. Berganti bentuk menjadi nasihat? Tidak. Hanya helaan napas panjang yang hilang tertelan udara sore.

Ahao tetap berjalan. Tak menoleh. Tak memperlambat langkah.

Seperti biasa.

Alih-alih Ahao, orang malah lebih sering berkerenyit memandang langit. Kalau tak pagi, siang, atau petang—herannya jarang malam.

"Aih… bila nak berhenti hujan ni."

Haji Tamar yang hendak mengecor halaman depan rumahnya menatap langit dengan risau. Wajahnya senada dengan Salma, cucunya. Meski alasannya berbeda. Karena kalau hujan, ia sering tak dapat berkumpul di teras rumah Ai Phing.

Namun di rumah keluarga Lim, tak ada wajah masam.

Ai Phing menatap tetes air di ujung atap seng dari teras, sesekali kain pelnya bergerak lincah di lantai ketika air yang terbawa angin kencang membasahi lantai.

Ia kembali menatap langit.

Besok sudah Tang-chuek. Festival wedang ronde. Jika hujan, kata orang, Imlek nanti akan cerah.

Ia tak tahu sejak kapan ia mempercayai hal itu. Mungkin dari mamanya. Atau dari suara-suara lama yang tak lagi punya wajah, tapi tetap tinggal di dalam ingatannya. Entahlah. Yang ia tahu, kepercayaan kecil itu tak pernah ia lepaskan.

Sesekali ia menghitung dalam hati, untuk yang kesekian kalinya.

"Tepung beras ketan, sudah. Gula jawa, sudah. Jahe, ada."

Sesaat kemudian, keningnya kembali berkerut.

"Mau pakai santan tak ya?" gumamnya, bertanya pada diri sendiri.

Namun akhirnya ia memutuskan. Tak usah pakai santan.

"Rebus pakai gula jawa dan jahe saja sudah enak," gumamnya lagi, lalu tersenyum sendiri. Ada kepuasan kecil di sana—seperti ketika ia berhasil meyakinkan dirinya bahwa sederhana pun tak apa.

Along tak memperhatikan Ai Phing. Petang itu ia membersihkan altar dengan kuas kecil dan kain lap yang bersih. Debu-debu halus ia singkirkan pelan-pelan. Setelahnya ia menyalakan hio, menatap puas tatakan lilin yang berkilap, hiolo yang tak kalah bersihnya.

Pikirannya melayang jauh.

Sudah lama tak begini.

Ketika semalam Ai Phing berpesan padanya untuk membeli bahan-bahan kueh-ie atau ronde, ia sempat tertegun. Bukan karena ia lupa. Tapi karena gadis itu mengatakannya dengan tenang, seperti sudah biasa.

Kimcoa jangan lupa.

Ai Phing bahkan mengingatkan itu.

Sering sekali. Terlalu sering malah. Dalam sesaat yang singkat, Ai Phing kembali membawanya pada sosok yang lama terkubur dalam ingatannya. Seakan gadis itu versi mamanya dalam tubuh kecil.

Along menghela napas. Matanya masih tertuju pada altar, pada asap tipis yang naik lurus ke langit-langit.

"Nanti kau buat yang banyak saja," katanya tiba-tiba, tanpa menoleh.

Ai Phing, yang sedang melipat kain lap di sudut ruang tengah, tak mendengar jelas. Ia mendongak.

"Ha?"

"Ronde," kata Along. "Siapa tahu ada yang mampir."

Ai Phing terdiam sejenak. Lalu tersenyum kecil.

"Iya, Pa."

Di luar, hujan masih turun. Tipis. Samar-samar mengetuk atap seng seperti irama yang tak ingin tergesa.

Besok Tang-chuek. Dan entah bagaimana, Ai Phing merasa ronde buatannya akan terasa lebih enak dari biasanya.

Namun sejenak kemudian, matanya melotot. Tangan kiri bercekak pinggang. Tangan kanan menunjuk ke samping rumah.

Tanpa kata.

Ka Thiam langsung paham. Bocah itu membawa bola plastiknya berlari ke belakang rumah lewat samping sambil menyengir lebar. Badannya basah kuyup, berlumpur. Ia baru pulang dari bermain bola bersama kawan-kawannya.

Lihat selengkapnya