KA

Rico Tsiau
Chapter #41

Sebelum Imlek

Dua hari sebelum Imlek, petang hari, seseorang melangkah ke halaman bengkel. Dengan pipa besi di tangannya.

Tutup.

Arman menghela napas. Tak mau menyerah, matanya lalu mencari. Tapi tak lama, seorang gadis remaja melongok keluar dari pintu depan.

Arman pasang senyum.

"Amoy comel, papamu mana?" sapanya ramah.

Ai Phing, yang disapa amoy comel, tersipu. Tapi ia menjawab.

"Papa ke kelenteng."

Matanya menangkap besi di tangan uwak itu. Lalu ke wajahnya yang asing tapi ramah. Ai Phing langsung paham: orang ini datang membawa pekerjaan untuk papanya.

Namun ia belum sempat berkata apa-apa, Uwak itu sudah mendahului.

"Aih… apa pasal sampai bengkel tak buka?"

"Papa bilang mau bantu bersihkan kelenteng dan pasang lampion," Ai Phing menjelaskan cepat. "Trus katanya, kalau ada yang cari… besok pagi saja."

Arman mengangguk. Amoy ini bicaranya lancar, pikirnya.

"Uwak," lanjut Ai Phing. "Besinya bisa ditinggal saja. Nanti saya simpan ke dalam bengkel."

"Ah, ya… ya," Arman menyahut cepat.

Gadis ini cerdas, pikirnya lagi. Ia tertarik ingin tahu lebih jauh, sampai mana sikap remaja ini menghadapi orang.

Ai Phing masuk, lalu keluar dengan anak kunci di tangan. Dengan sigap ia berjalan ke bengkel, membuka kunci gembok, lalu mempersilakan Arman.

"Sini, bisa taruh sini saja," ujar Ai Phing.

Arman mengangguk-angguk. Ia menaruh pipa yang ia bawa ke tempat yang ditunjuk.

"Uwak ada pesan?" tanya Ai Phing.

Arman tampak berpikir sebentar.

"Besok pagi saja wak datang dan bilang ke Papa kamu," katanya ringan.

Ai Phing mengangguk cepat.

"Kalau Papa tanya—"

Arman memotong. "Bilang saja, Man Kelapa."

"Iya," Ai Phing menyahut singkat.

Arman meninggalkan bengkel sambil melamun. Ia sempat berpaling melihat amoy yang tak ia ketahui namanya itu mengunci pintu bengkel papanya.

Anak-anak Tionghoa ini… pandai betul bantu mak bapaknya cari uang, pikirnya.

Pikirannya melayang lagi.

Raya orang Tionghoa… kalau tak salah dua hari lagi.

Cepat betul waktu berlalu, batinnya.

Dalam perjalanan pulang—seolah baru tersadar—matanya menangkap perubahan besar pada rumah-rumah warga Tionghoa.

Halaman bersih, rumput dipotong rapi. Sampah-sampah dibakar di pojok. Beberapa rumah dicat ulang. Merah. Biru langit. Lis di pinggir yang berwarna kuning. Semua warnanya terang, seakan menyala.

Kertas-kertas merah berpola tulisan huruf kanji yang tak Arman pahami, ditempel di dinding depan—sama menyalanya dengan cat minyak.

Satu rumah, teras depannya penuh dengan lampion besar-besar. Tampak sangat menyolok.

Bukan menyolok, pikir Arman lagi. Tapi meriah.

Lihat selengkapnya