KA

Rico Tsiau
Chapter #42

Kenangan dan Harapan

Malam itu akhirnya tiba. Udara pekat oleh sesuatu yang tak kasat mata. Bukan panas. Bukan lembap. Tapi hangat yang aneh—seperti ada yang berdesir di antara dedaunan, merambat di sela-sela papan rumah, menyentuh pipi tanpa permisi.

Udara pekat oleh angin Imlek.

Angin Imlek—itu mungkin hanya kiasan.

Orang-orang sering bilang begitu.

Tapi…

Hei… kiasan itu bukan kata kosong.

Lihatlah, malam itu, di Bakau Panjang, kiasan itu hidup.

Angin itu berembus dari arah laut, entah hinggap di mana lalu membawa aroma asap hio dan sisa-sisa petasan yang meledak di kejauhan. Ia menggoyangkan lampion-lampion merah yang bergantungan di teras, membuatnya berayun pelan, berayun-ayun seperti sedang menari. Ia menyusup ke sela-sela pintu, mengusik rambut yang baru saja disisir rapi.

Ka Thiam mengusap dahinya.

"Angin," katanya.

"Angin Imlek," jawab Ai Phing.

Bocah itu tak paham. Tapi ia merasa sesuatu. Mungkin bukan angin. Mungkin sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat dada bergairah tanpa sebab.

Langit Bakau Panjang pun berhias kembang api.

Satu per satu, sambung menyambung, bunga-bunga api itu mekar di atas sana. Merah. Emas. Hijau. Putih. Sebentar lalu pecah, berguguran seperti air terjun yang terbakar. Suaranya memekakkan telinga, menggetarkan tulang rusuk kecil Ka Thiam yang berdiri di teras dengan mulut ternganga.

"Wah…" bisiknya.

Ai Phing, yang berdiri di sampingnya, tak berkata apa-apa. Ia hanya menengadah, matanya berbinar-binar, seperti sedang merekam setiap ledakan ke dalam ingatannya.

Di teras yang sama, Along duduk agak jauh, di kursi kayu. Bara rokok telah berhenti menyala di tangannya, ia tak benar-benar menghisapnya. Matanya mengikuti kembang api, tapi pikirannya entah ke mana.

Ka Thiam berjalan ke sampingnya.

"Bagus, ya," kata bocah itu.

Along tak menjawab. Hanya mengangguk.

Tak lama, Ai Phing melangkah ke dalam rumah. Membereskan sisa terakhir pekerjaannya. Ia menatap dengan puas meja tamu. Toples-toples yang telah berisi kueh, tertata rapi. Vas porselen tua dengan bunga plastik yang indah, tampak seakan hidup. Kursi plastik yang telah ia lap berulang dengan kain basah.

Remaja itu menghela napas, bukan berat, seakan segalanya tuntas, segalanya siap.

Besok, tamu siap disambut.

Ia mengangkat wajah. Melihat papanya dari balik jendela.

Rapi. Cerah.

Ia tersenyum kecil.

Lalu matanya beralih ke Ka Thiam yang kini berdiri di halaman, menengadah, sesekali melompat kecil ketika kembang api meledak lebih keras.

Angin Imlek berembus lagi. Masuk sampai ke dalam rumah, membawa rambut Ai Phing yang terurai ke belakang.

Ia membiarkannya. Matanya kini menatap satu titik.

Papan abu keluarga Lim, keluarganya.

Tak ada nama mamanya yang tertulis di sana, tapi tak mengapa. Imlek pertama tanpa Mama… sesuatu mengencang di dalam dadanya. Ia menghela napas, seakan meringankannya.

Tanpa sepenuhnya ia sadari, jemarinya perlahan meraba anting di telinganya…

Pelan.

Tangan itu pindah, ke dada, ke bandul kalung.

Pandangannya berpindah, ke Papa, lalu ke Ka Thiam.

Lalu ia memejam… dan ia dapat melihatnya—Mama tersenyum.

Senyum yang sama seperti malam Imlek-nya yang terakhir.

Ai Phing juga tersenyum.

"Sin ni khuai lek, Mama."

Bisiknya lirih.

Malam itu, Bakau Panjang terasa berbeda. Bukan hanya karena kembang api dan lampion. Tapi karena sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tak terlihat, tapi bisa dirasakan.

Kenangan dan Harapan.

Mungkin itu namanya.

Nama sesungguhnya dari Angin Imlek.

Angpao.

Tentu saja itu.

Heran—bocah yang bahkan belum benar-benar mengerti nilai uang bisa begitu sumringah menerima angpao pertamanya pagi itu. Matanya berbinar, senyumnya merekah sampai ke ujung telinga, seolah amplop merah kecil itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar lembaran kertas di dalamnya.

Mungkin benar.

Mungkin isinya bukan hanya uang. Tapi doa. Berkah. Atau sekadar tanda sederhana—bahwa ia diingat.

Tangan Along baru setengah terulur. Namun amplop merah itu sudah langsung berpindah tangan. Cepat. Lincah. Seperti burung camar menyambar ikan di permukaan air.

"Wow…"

Lihat selengkapnya