KA

Rico Tsiau
Chapter #43

Tamu Tak Terduga

Di hari ketiga Imlek itu, orang yang tak pernah disangka-sangka datang berkunjung.

Along sudah membuka bengkel lasnya. Hari raya tetap berjalan, tapi pekerjaan tak bisa ditinggalkan begitu saja. Pesanan Arman harus segera siap. Percikan api las sesekali menyala di ambang siang yang cerah, seperti bunga api kecil yang merayakan sesuatu yang tak kasat mata.

Di tengah kesibukannya, gema langkah berhenti di depan halaman.

Ng Lai Sim. Wajahnya sedikit lelah—bekas perjalanan jauh yang masih tersisa di pelupuk matanya. Tapi senyumnya tak hilang.

Apin berdiri di sampingnya, dengan gendongan bayi di dadanya. Ng Cin Cin—bayi mungil dengan kulit halus dan mata yang masih suka menjelajah ke mana-mana.

"Ahia Along!" Lai Sim berseru.

Along mematikan lasnya. Topeng las ia singkirkan ke dahi. Wajahnya sempat tercengang. Ia berdiri pelan, untuk sejenak itu, ia tak tahu menyahut bagaimana.

"Lai Sim."

Lai Sim mengangguk, memberikan senyum.

Along membalas anggukan. Menanggalkan topeng las dari kepala, lalu perlahan mematikan travo lasnya. Kemudian menyingkirkan besi yang ia kerjakan, ia geser ke samping, lalu menyeka tangannya ke baju.

Semua ia lakukan pelan, seakan semua yang tersentuh tangannya adalah benda berat namun mudah pecah.

Apin mengamatinya. Pandangannya—hampir kentara—menilai.

Ai Phing, yang sedang membereskan meja tamu, menyadari ada orang berkunjung. Ia cepat-cepat menyeka tangannya di kain lap, lalu berjalan ke teras.

Sesaat ia tertegun.

"Toakim… Toaku…!" serunya. Pelan.

Apin tersenyum pada Ai Phing.

"Phing," panggilnya.

Ai Phing tak bisa menyembunyikan senyum lebarnya lagi. Matanya lalu tertumbuk pada bayi dalam gendongan Apin.

Apin tersenyum melihatnya.

"Mau gendong?"

Ai Phing tak menjawab. Tangannya sudah lebih dulu terulur.

Along berdeham pelan.

"Masuklah," ujarnya.

Lai Sim mengangguk.

"Sin ni khuai lek, Hia…"

"Ya, sin ni khuai lek," timpal Along.

Ai Phing menggendong bayi itu dengan hati-hati—gerakannya seperti memegang sesuatu yang sangat rapuh, yang bisa pecah kapan saja jika ia salah gerak. Matanya tak lepas dari wajah mungil yang sedang menatapnya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.

"Halo, adik manis," bisik Ai Phing. "Ini Cici Ai Phing."

Bayi itu menggerakkan tangannya. Meraih sesuatu yang tak jelas. Lalu tersenyum. Atau mungkin hanya gerak refleks. Tapi Ai Phing menganggapnya sebagai senyum untuknya.

Mata Ai Phing berpindah, ke Lai Sim, ke Apin, lalu ke papanya. Ia merasakan sesuatu—yang entah apa—tersangkut di udara di antara mereka.

"Ah, ayo… masuk dulu," ujarnya.

Seakan digerakkan oleh kata sederhana itu, Apin maju, merangkul bahu Ai Phing, keduanya melangkah ke teras. Lai Sim mengikuti.

Along ragu sesaat. Berdecak ringan. Lalu menyusul.

Lihat selengkapnya